Ketika Tidak Bisa Memilih 1 Diantara 3

IMG-20160720-WA0010

Saya punya 3 buku yang alhamdulillah baru selesai saya baca \(^.^)/, saya terkesan, dan ingin mencatatnya, semoga jadi manfaat juga untuk yang kebetulan membaca nya disini.
Sebenarnya buku-bukunya merupakan buku yang sudah lama terbit, tapi nilainya menurut saya akan selalu relevan, ada Bakat Bukan Takdir, Passion 2 performance, dan 5 Guru Kecilku.

Passion 2 performance, dari Rene SUhardono, tebalnya sekitar 360 halaman, tapi tidak terasa tebal atau membosankan karena layoutnya oke, kreatif🙂, isinya tentang penegasan Rene bahwa passion adalah aktivitas yang membuat kita merasa berdaya dan menghasilkan karya. Passion bukan sekedar hobi tapi justru salah satu unsur karir. Karir bukanlah jabatan tapi perjalanan yang berisi passion, value, tujuan hidup dan kebahagiaan. Jika seseorang sudah mempunyai passion maka perfomance/kinerjanya akan bagus, Rene membuktikannya di buku ini dengan melakukan survey ke 11 industri, yang mewakili bidang yang berbeda, ternyata hasilnya sama, bagi pekerja : perlu untuk perduli & menggali passion pribadi agar bisa menemukan karir yang tepat.
Sedang bagi perusahaan, perlu diperhatikan hal-hal yang harus dikondisikan dalam perusahaan agar pekerja bisa meningkat kinerjanya, pada akhirnya, makin besar rasa ikut memiliki perusahaan & berpikir seperti owner, makin baik kinerja mereka bagi perusahaan.
Menarik ya, saya jadi punya kesimpulan bekerja bukan lagi sekedar cara mencari gaji lalu menghabiskannya untuk membayar tagihan ini itu.🙂

5 guru kecilku, Kiki Barkiah, sudah ada 2 jilid, menjadi buku unik, karena menceritakan sebuah keluarga muslim, dengan 5 orang anak, yang rentang usia yang dekat. Beliau-beliau ini muslim taat yang pindah dari Indonesia ke Amerika mengikuti sang Bapak yang bekerja disana. Karena perbedaan kultur dan biaya sekolah islam yang mahal, maka Bapak dan Umi memutuskan menjalani homeschooling untuk 4 anak yang sudah masuk usia sekolah. Kumpulan cerita pendek didalamnya sangatlah sehari-hari, tapi sang Umi, yang berhasil mengambil hikmah di setiap kejadiannya, membuat pembaca seperti berkaca lalu membandingkan diri. Ada berbagai sisi yang diceritakan, misal,
-betapa peran Bapak sangatlah penting untuk mendukung Umi tetap konsisten menjalankan homeschooling dan bersabar mendidik anak-anak,
-betapa keluarga adalah team yang saling mendukung, karena menurut beliau kesuksesan sebuah keluarga adalah saat mampu berkumpul kembali di surga di kedudukan yang istimewa,
-ada juga sisi tentang kekhawatiran sang Umi untuk menghadapi masa janda, tapi dengan keyakinan bahwa Allah punya berbagai jalan rezeki, gaji suami hanya salah satunya, maka keinginan Umi untuk ikut bekerja diurungkan agar mampu fokus mendidik anak-anak
-betapa pendidikan agama sangatlah berperan penting untuk membatasi dan menjaga anak, benih jiwa yang kelak diharapkan tumbuh baik dan sukses.
-dan ada list link dan ide permainan untuk anak-anak mengisi homeschooling
Buku ini perlu dibaca oleh seluruh ibu muslim, terutama yang cengeng seperti saya *shy*, pelajaran baik dari sesama ibu yang selalu mendoakan keselamatan anak-anaknya.

Bakat Bukan Takdir, Bukik Setiawan & Andrie Firdaus, rasanya lebih merupakan buku pintar untuk orangtua, karena ditulis oleh praktisi psikologi🙂. Didalamnya Bukik dan Andrie menjelaskan bahwa bakat anak adalah passion, dan berdasar usia dan kematangan, anak mempunyai 4 fase pengembangan bakat.
-usia 0-7 tahun, fase eksplora (stimulasi, kenali, refleksi)
-usia 7 – 13 tahun, fase belajar mendalam (tanamkan gemar belajar)
-usia diatas 13 tahun, fase arah karir (menampilkan hasil belajar)
-usia diatas 18, fase karir(mendapatkan pengakuan dari masyarakat atas bakatnya)
Anak-anak bukanlah kertas kosong, tapi mereka adalah bibit, dan jika diibaratkan telur, maka peran orangtua adalah mengerami, menstimulusnya bukan mendesak dan memecahkannya dengan tekanan dari luar. Ada berbagai macam kecerdasan anak(kecerdasan majemuk), maka jika kita yang hidup di era industri, pola pendidikannya harus berubah mengikuti kebutuhan pendidikan anak kita di zaman kreatif sekarang ini. Maka orangtua, kedudukannya bukan pembayar jasa guru, tapi rekanan guru. Dan tugas orangtua bukan menanam, tapi menumbuhkan anak.
Buku ini membuka wawasan saya, bahwa anak mendapat benang merah dari sekolah, benang biru dari tempat les, benang kuning dari teman, benang hijau dari buku, media, internet, peran orangtua untuk membantu anak merajut benang pengetahuan itu jadi kain kearifan yang indah🙂

Itu sekilas review saya atas 3 buku tersebut, ujung-ujungnya kesimpulannya saya perlu terus upgrade diri dengan membaca. Salam membaca teman-teman🙂

Panjang Sumbu

IMG_20160405_101506
Dari jauh, eyang Leli, teman saya di posyandu lansia, sudah sumringah melambaikan tangan. Saya balas sumringah mendekat. “Katanya ulang tahun ya jeng, semoga panjang sumbu dan berkah ya”.
Saya tersenyum lebar, saya yakin eyang mengatakan “semoga panjang umur”, telinga saya saja yang ndak bener🙂.
Tapi setelah dipikir-pikir, memang iya, semoga saya panjang sumbu, tidak gampang tersinggung, tidak gampang meledak-ledak.
Karena terasanya sih saya masih sering dikit-dikit baper sama sikap orang lain, hal-hal yang tidak bermasalah harusnya, kalau tidak saya masukkan hati. Jadi kalaupun terpaksa harus terbakar semoga saya jadi kembang api saja, memperindah yang gelap😀
Di umur ini saya sadar bahwa manusia itu ‘berubah’, ‘bergerak’, dan ‘tumbuh’. Makin dewasa makin banyak tanggung jawab, makanya harus punya kemampuan memudahkan yang rumit. Tapi disamping bertambah tua & bertambah ‘beban’, sebenarnya semakin bertambah juga peluang untuk jadi makin baik & makin sukses. Iya kan?
Maka sambil mengamini doa eyang, saya juga berdoa semoga Allah berkenan menjadikan saya manusia yang pandai bersyukur dan cerdas. Aamiin.
Saya pun mendoakan anda, saya yakin semakin banyak dikelilingi orang baik seperti anda, saya akan terikut baik. Selamat hari baik teman-teman🙂

Semoga Kita Bahagia

Saya sedang sibuk mencuci piring, ketika tv di ruang sebelah lamat-lamat terdengar suara seorang perempuan sedang berorasi, ditimpali tepuk tangan riuh penontonnya. Saya bukan komunikator verbal yang baik, saya merasa lebih bisa berkomunikasi lewat tulisan, jadi kalau ada seseorang yang bisa berbicara menyampaikan pemikirannya dengan bahasa runut & sederhana, apalagi kalau beliau perempuan..saya pasti akan menyimak..pasti🙂

Saya buru-buru mendekat, ternyata acara ini berisi potongan-potongan wawancara perempuan yang berpengaruh di Indonesia :

Pertanyaan : “Ibu dulu model sebelum menikah?”
Jawab : “(tertawa) iya waktu masih muda, sekarang kegiatan utama saya jadi banyak membaca, banyak wawasan, agar kalau bicara dengan bapak atau teman-teman, meski cuma celetukan, bisa nyambung. Kalau tidak bisa mengikuti nanti saya ketinggalan di belakang kan, lama-lama nanti hilang (tertawa), bapak berkembang, saya juga berkembang.”

Pikiran saya sibuk mencerna, dibalik kata-kata ibu cantik yang terlihat riang itu sebenarnya maknanya dalam.
Iklan. Saya tidak sempat membaca nama si ibu cantik. Sudah ganti narasumber.😦

P : “Waktu Bapak dapat beasiswa ke Korea ibu bekerja disana?”
J : “Iya, Bapak itu organisator sejati, karena tunjangan beasiswa tidak cukup untuk hidup sehari-hari dan Bapak banyak berurusan organisasi disana, jadi saya merasa perlu bekerja, pekerjaan pencuci piring restoran juga saya jalani. Alhamdulillah hidup kami cukup.”

P : “Berarti benar ya Bu, dibelakang setiap laki-laki sukses ada perempuan hebat?”
J : “Ada ibu dan istri ya perempuannya, kalau ibu pasti didikan ibu yang hebat, kalau istri..saya rasa terlalu berlebihan ya kalau dibilang hebat, saya percaya bapak punya kemampuan hebat, yang beliau perlukan itu istri yang bahagia, jadi kalau beliau di rumah tenang, ditinggal bekerja juga fokus.”

Saya terpesona, si ibu terlihat jutaan kali lipat lebih cantik dari miss universe, hanya dengan beberapa potong kalimat. Saya amati wajahnya, cara berbicaranya, teduh bukan main. Dan yak, saking fokusnya, saya lewatkan lagi footnote nama beliau. Iklan lagi. Ganti narasumber.😦

P : “Menurut cerita, sejak dari kecil ibu memang selalu jadi pemimpin, apakah ini bakat?”
J : “Saya rasa, kalau dilihat dari pintar atau bakat, saya tidak ada apa-apanya dibanding yang lain. Di bisnis atau di jabatan ini, saya cuma lebih tahan banting, lebih ngotot atau bahkan mungkin terobsesi (tertawa) dengan tujuan-tujuan saya.”

Luar biasa, tau-tau acara sudah berakhir, dan tangan saya panas akibat belum cuci tangan dengan benar sepertinya😀, tapi pikiran saya seperti sudah bersih tercuci kesimpulan baru.

Untuk menjadikan suami sukses, jadilah istri bahagia.
Untuk jadi perempuan sukses, jadilah lebih tahan banting.
Itu saja, insyaallah.🙂

Rawon

            Lia terduduk lemas, pecahan vas dan karangan bunga mawar berserakan tepat di kakinya. Juga kartu ucapan berwarna merah muda, lumat diinjak-injaknya, tapi tulisannya masih terbaca “beatiful things don’t ask for attention, baby”, tulisan tangan Hendra, suaminya. Ah sebentar lagi dia harus menyebut Hendra sebagai mantan suami, karangan bunga tadi ditempeli berkas surat cerai. Lia menangis lagi, dia merasa dipermainkan nasib. Dua bulan lalu, ibunya baru saja meninggal dunia, tidak lama setelah itu Hendra menceraikannya.

            Lia ingat dia mengamuk ketika Hendra pertama kali meminta berpisah, dia tak mengerti dengan apa yang sebenarnya menjadi masalah.
Hendra hanya mengatakan “Hidup ini singkat, saya tidak sanggup menjalaninya dengan tidak bahagia”.
Lia marah “Untuk bersama kamu, aku lawan Ibuku, satu-satunya orangtuaku yang masih hidup, yang tidak setuju aku memilihmu. Demi kamu! demi kamu mas, sekarang begini kamu ?!”
Hendra beranjak pergi. Lia menahan lengannya. “Kenapa? jawab! karena aku belum kasih kamu anak?”
Hendra mendorong Lia dan bergegas pergi.
Lia cuma bisa berteriak “pengecuttt!”
Sejak itu Hendra menghilang. Dan Lia tidak berhenti mengenang apa yang kira-kira menjadi masalah.
Mereka menikah sudah 7 tahun dan sama-sama sibuk bekerja. Lia merasa mereka baik-baik saja, bisa mempunyai rumah, mobil, berlibur ke luar negeri, mereka sejahtera.
Lia terus mencari tahu tentang Hendra, beberapa hari lalu akhirnya dia bisa menemukan Hendra, sedang mesra bersama perempuan muda di sebuah restoran. Meski emosinya serasa meledak, tak urung Lia bisa mendapat informasi dari pelayan-pelayan disana. Perempuan itu adalah pemilik restorannya, dan Hendra yang membiayai bisnis ini.
Lia berpura-pura membaca menu mengaburkan airmatanya yang hampir menetes, disana tertera : ‘rawon spesial’, menu kesukaan Hendra, kesukaan Lia juga.

             Esoknya, Lia menelfon mencari Hendra sampai ke perusahaan Hendra, bermaksud meminta bertemu untuk bicara baik-baik. Tapi yang datang setelah itu justru karangan bunga mawar warna merah tadi.
Tertegun, Lia ingat suatu waktu Hendra memang pernah memintanya belajar memasak, tapi Lia hanya tertawa, urusan kantornya lebih penting dari sekedar berkotor-kotor berkeringat di dapur jawabnya.
Atau apakah iya, ia kurang memperhatikan kebutuhan Hendra ?, Lia tersenyum pahit melihat notes di dekat telefon rumah, berisi belasan nomer telefon restoran favorit Hendra, dia yang membuatnya “nih, kalau mau makan tinggal pesan”.

            Lia lalu ke dapur, dapur yang lengkap tapi selalu bersih, karena jarang dipakai. Di ujung rak dilihatnya toples bumbu kiriman dari Ibu. Dulu setiap 2 minggu Ibu rajin berkirim bumbu, bumbu rawon, bumbu nasi goreng, bumbu saos spaghetti berjajar rapi dalam toples-toples kaca kecil. Lia sebenarnya melarang untuk tidak repot-repot, tapi ibu selalu menjawab “kalau-kalau kamu lapar tengah malam atau sarapan, masakkan untuk suamimu, meski cuma ini atau tahu tempe hangat-hangat ya”. Lia hanya mengangguk saja, tapi bagaimana mau sarapan berdua, mereka berangkat kantor terpisah berbeda arah, pagi sekali, setelah shubuh.

           Lia menghela nafas, memandang toples, sembari mengingat ayah dan ibunya, ayahnya meninggal saat Lia masih berumur 10 tahun, akibat penyakit jantung, sejak itu Ibu bekerja dan tidak menikah lagi, bandingkan dengan nasibnya sekarang, rumah tangganya kandas tanpa menunggu maut memisahkan.
Tiba-tiba dilihatnya ada kertas kecil terselip dibagian bawah toples, toples itu ada 2 lapis ternyata, disela-selanya ada celah. Dia ingat dulu pernah bertanya tapi Ibu hanya menjawab menggoda “itu kertas resep rahasia, rahasia negara”. Mereka lalu tertawa-tawa berdua.

           Ketika kertas kecil itu bisa diraihnya, tulisannya singkat saja ternyata “jangan anggap sepele, dalam memasak itu ada rasa, perhatian, usaha dan cinta“. oh Ibu, pesan-pesannya ternyata tercatat agar dibacanya. Dadanya sesak, Lia menciumi kertas itu, membayangkan betapa ibunya menasehati banyak hal penting, tapi tak pernah didengarkannya dengan serius.

Tidak apa

Po

Sharing dengan teman yang tidak begitu dekat dengan agama memang gampang-gampang susah, segala sesuatu dihubungkan dengan logika.
“Kenapa sih hal-hal buruk juga terjadi ke orang baik ? ”
“Kan sudah baik! adilnya juga dapat yang baik-baik dong”, mata cantiknya menatap saya bertanya-tanya.

Saya menebak pasti dia sudah sering bertanya begitu dan diberi jawaban bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari manusia, yang sudah mengatur segala sesuatunya, atau bahwa reaksi kita akan jadi amal untuk ke surga. Lama.
“..Aku ndak tau jawabannya…tapi itu ndak apa-apa kok”, jawab saya.

Kalau sesuatu yang buruk terjadi pada orang lain, kita cuma bisa berharap kalau giliran kita mengalami hal itu, kita sudah siap dengan google, atau referensi cara ideal untuk menghadapinya🙂 . Tapi biasanya kita jadi tidak tau bagaimana cara sebenarnya bertahan, sampai kita mengalaminya sendiri.

Kalau sesuatu yang buruk terjadi pada kita, tidak ada cara lain untuk menghadapinya selain berdamai dengan diri sendiri..’inner peace’ ya bahasanya🙂 . Bahwa hasilnya salah, kalah, menyerah… atau sadar, benar, tegar ?

Mungkin di hidup ini ada hal-hal yang tidak perlu dilawan, biarkan, hadapi saja, tidak apa🙂

Prioritas

Seorang kenalan mengeluh, “gila ya, kerjaan gue gak habis2, kapan ketemu anak gue gini caranya”, baru beberapa waktu lalu dia naik jabatan. “lah..kenapa mau ditambah kerjaan?”, “ya, gimana lagi..udah ditunjuk bos, lagian cuma gue yang bisa ngerjain”
Saya ndak bermaksud menghakimi, tapi saya jadi bercermin : betapa pentingnya punya rencana & prioritas hidup.
Kalau kata Rene Suhardono, : jangan memilih pekerjaan yang menjauhkan kita dari tujuan hidup.
Ya iya sih, logikanya, kalau punya tujuan, lalu ditengah jalan diberi pilihan, dia pasti bisa menentukan prioritas.
Misal, tujuannya atau rencananya, punya pekerjaan yang masih bisa punya waktu untuk anak, ya pilih jabatan yang akomodir, boleh-boleh saja kan menolak promosi jabatan🙂. Begitupun kalau sudah menyanggupi suatu jabatan tertentu ya harus faham dulu segala konsukuensinya, lalu jalani seprofesional mungkin.
Kalau tempat kerja ndak memungkinkan untuk membuat pilihan..cari tempat lain atau bikin sendiri🙂
Tiap orang berhak punya rencana berbeda-beda, bahkan yang paling eksentrik sekalipun, ‘saya mau jadi perempuan kaya, bisa belanja apapun yang saya mau’..ya dijalani saja kerjanya, setiap tujuan butuh pengorbanan kan.

Tapi mungkin, semua jadi berbeda kalau ada hubungannya sama cinta ya..kalau sudah melibatkan perasaan, orang susah mengkaji, keputusan ini sesuai tujuan hidup tidak, alasan-alasannya masuk akal tidak, saya sanggup tidak melakukannya. Yang dipikir hanya yang dicinta, apa keputusan ini bisa membahagiakan dia. Susahhh😀

Kembali lagi ke topik, yang jelas, dalam bekerja, seseorang pasti ada dalam sebuah team. Di jabatan tertentu malah mempimpin team. Pastikan kita bertanggung jawab tidak hanya pada diri sendiri tapi juga pada team. Pastikan juga bukan hanya hasil kerjanya yang sesuai tapi juga prosesnya.

Eh ini menurut saya loh ya…manajer rumah tangga yang mendadak jadi pengamat hidup :D… karena saya perduli pada kebahagiaan orang-orang disekitar saya🙂

 

Puan

image

Cita-cita saya waktu masih sekolah TK, adalah jadi penjual bunga. Saya akan menunjuk-nunjukkan gambar yang saya buat, hamparan merah bunga, tulip, pada siapa saja yang mau meladeni. “ini bunga apa?”, “tuwip”, “ini gak bisa tumbuh disini, bisanya di belanda”, “bisa kok..bisaa!!”. Yaaa..yang tadinya mau meladeni jadi geleng-geleng kepala deh😀
Mungkin, mimpi itu juga salah satu pendorong saya kuliah lalu bekerja, di tempat yang jauh, dari kota kecil saya yang nyaman. Saya jadi sempat bergaul dengan perempuan-perempuan modern, yang bekerja bukan sekedar untuk membantu mendapat nafkah atau mencari pengakuan eksistensi diri, tapi beliau-beliau bekerja karena itulah dirinya.
Maka perdebatan antara apakah lebih banyak kebaikan atau keburukan yang ditimbulkan perempuan&ibu2 menikah yang bekerja, jadi kembali ke diri mereka sendiri.
Ya, menurut saya, semua perempuan berhak jadi dirinya sendiri.
Begitupun ketika perempuan memilih jadi ibu rumah tangga.
Di salah satu sisi, jadi ibu rumah tangga memang berbahaya
??!!..eits..sabar..belum selesai kalimatnya😀..
jadi ibu rumah tangga berbahaya secara ekonomi, jika bergantung 100% pada suami sebagai sumber nafkah.
Memang tidak semua ibu rumah tangga bisa/mampu berbisnis untuk ikut menghasilkan uang, maka satu dasar dari tugas seorang ibu di rumah tangga adalah manajer keuangan. Ya, mengatur. Mempersiapkan jika sewaktu-waktu ada keadaan darurat, suami/sumber nafkah mendadak sakit(panjang)/meninggal. Mempersiapkan dana untuk ikut membantu keluarga besar. Mempersiapkan masa depan untuk anak-anak atau masa pensiun, karena kan perlu juga diperhitungkan apakah gayahidup akan tetap seperti sekarang jika seiring umur&tenaga, penghasilan dan kesehatan nanti berkurang.
Terakhir, tapi tak kalah penting, berpegang Quran 3:173, Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’mal nashir (cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung), jika merasa sudah mempersiapkan segala sesuatu semampu-mampunya.
Reminder untuk saya sendiri juga..puan sayang…terlepas dari apakah jadi perempuan irt/bekerja, entah itu karena pilihan/disuruh/terpaksa mari jadi diri sendiri versi yang terbaik🙂
Salut saya untuk para suami yang membekali istrinya dengan modal usaha/kuliah/kursus keterampilan. Terutama salut saya untuk perempuan2 dan istri2 yang mau terus belajar dan berkembang.

Ini jadi tagline saya hari ini nih : Nikmati hidup tanpa perlu mengorbankan yang penting🙂

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 29 other followers