Sesak Sesal

Pandangan matanya yang kosong, cukup membuat suasana hening. saya berhati-hati mengajukan usul “Gimana Nduk, mau invite teman-teman lain?” . “Besok pagi aja ya, sore ini aku mau ikut ngaji online dulu”, jawabnya . Kami bertigapun leave meeting satu persatu.

Sepanjang ingatan saya, Genduk adalah teman saya yang paling pendiam, kalau dia sampai menghubungi kami dan bercerita segala macam, berarti beban yang ditanggungnya sudah tidak main-main. Saya juga ingat Genduk ulet berbisnis sejak kuliah dulu. Iya bisnis, bukan sekedar dagang. Darinya saya tahu, bisnis berbeda dengan dagang. Menurutnya bisnis punya sistem untuk tumbuh membesar, sedangkan dagang hanya mekanisme berjualan untuk untung selisih beli dan jual.
Pagi ini kami kembali bertemu virtual, hanya sahabat. Wajah Genduk sudah tampak lebih segar. Kami jadi gembira menyambutnya “Jadi ya ikut pengajian? Apa isinya?”. “Disuruh sabar” Genduk menyahut ringkas.

Pangkal semua cerita ini adalah Genduk menikah dengan seorang laki-laki, masih saudara jauh yang akrab sedari kecil dengannya. Tapi memang kadang kedekatan tidak menjamin kita tahu watak asli seseorang. Suami Genduk ternyata seorang pemarah. Pada suatu waktu Genduk bahkan memaksa suaminya untuk ikut konseling pernikahan, karena sudah tidak kuat dengan tabiat suaminya. Untungnya sejak itu suaminya memang mereda, rupanya ada satu wejangan dari sang psikolog yang membekas “anda boleh pemarah, tapi anda harus tahu, ada banyak cara lho pak untuk menanggapi kemarahan anda”.
Hidup mereka dulunya tergolong berkecukupan. Tapi efek pandemi corona ini ternyata menghancurkan bisnis yang sudah mereka bangun belasan tahun itu. Suami Genduk memang sudah tidak marah-marah pada orang lain, tapi entah bagaimana berbalik membuat dia jadi marah pada dirinya sendiri. Sikap itu tidak hanya memperburuk bisnisnya tapi juga menyulitkan keluarganya.

Suami Genduk kini menderita sakit komplikasi. Setiap keadaannya membaik yang digumamkannya “Seharusnya aku gak usah perpanjang sewa ruko, harusnya akhir tahun kemarin aku beli emas 1 kilo, uangnya diputar untuk dagang sepeda & taneman” …bahkan..”seharusnya aku tidak menikahi si Genduk”. Setiap yang menjenguk sudah mengingatkan tidak ada yang didapat dengan bersikap begitu ..emas gak dapat.. penjualan gak dapat..hanya sakit yang didapat. Tapi tabiatnya tidak berubah. Genduk berusaha tegar, dan sudah tugas kami mendampinginya.

Begitulah ya, ternyata kekuatan perasaan paling menghancurkan hidup manusia, untuk masa kini dan masa depannya adalah : penyesalan.

Previous Older Entries