Anak Panda yang pemimpin

        Minggu lalu Anak Panda baru saja pulang ke hutan lindung dari tour keliling dunia tentang perlindungan hewan liar. Anak Panda kan ikon wwf. Hari ini dia sudah dibolehkan keluar dari karantina. Wah dia tidak sabar bertemu semua hewan.
“Hai Anak Panda” Anak Kura-kura menyapa. disusul sapaan teman-teman yang lain yang kebetulan sedang berkumpul.
“Haiii” balas Anak Panda riang.
“Kabarnya kamu sudah naik kapal laut dan pesawat di perjalanan kemaren ya?” Anak Rusa penasaran mendekat pada Anak Panda.
“Wah cerita dong ceritaaa” semua mendekat
Anak Panda tertawa senang “kalian tau, laut itu luassss sekali, kemana melihat cuma ada air”
“Wah darimana air sebanyak itu?”
“Dari es di kutub yang mencair, dari hujan, dari sungai-sungai yang bersatu….laut itu didalamnya tidak rata lho, sama seperti di darat begini, cuma terisi air”
“Kalau pesawat..pesawat..seperti apa rasanya?” Anak Kodok bertanya dengan semangat
“Heyyy tunggu dulu..selesaikan dulu cerita lautnya…” Anak Kuda protes
ribut sejenak.
“Pesawat itu waktu berangkat sama turunnya saja yang agak menaik dan menukik, selama di atas ya tidak terasa…oh iya, waktu menebus awan juga ternyata tidak terasa apa-apa, awan itu ternyata seperti kapas, pesawatnya nembus”
“Wahhhhh” anak-Anak hewan itu ternganga membayangkan cerita Anak Panda.
setelah itu bersahutan pertanyaan-pertanyaan lain, Anak Panda menjawabnya dengan semangat.

Beberapa minggu kemudian,
di suatu sore yang cerah, Bapak Singa mendatangi Anak Panda yang sedang bergelayutan di pohon bambunya.
“Anak Panda, tolong kemari sebentar”
“Eh Bapak Singa, baik pak”
“Langsung saja ya, bapak tanya, apakah kemarin lusa kau bertemu teman-temanmu sesama anak hewan?”
“Tidak pak, saya kemaren lusa masuk klinik kesehatan, entah tes apa, baru tadi pagi saya dilepas, ada apa pak?”
“Begini…jadi, ada para anak hewan yang terpilih akan menjalani tour keliling dunia sepertimu, ada Anak kura-kura, Anak monyet, Anak badak, Anak kanguru,..beberapa lagi bapak lupa, mereka tidak mau pergi, entah kenapa. Bisa saja sih mereka langsung diangkut petugas, tapi kan bisa-bisa dijalan nanti mereka jatuh sakit kalau terpaksa begitu. Bapak minta tolong kamu bujuk mereka..kamu kan sudah pernah pergi..ya?”
“Hah..saya?..ba..baik pak, saya usahakan”
“Terimakasih ya nak”
Padahal Anak Panda tidak punya ide samasekali bagaimana menghadapi teman-temannya itu.

        Keesokannya, Anak Panda langsung memanggil anak-anak, termasuk Anak kura-kura, monyet, badak, dan kanguru.
Anak Panda : “Aku kemarin diberitahu pak singa, beberapa dari kita akan diberangkatkan ikut tour keliling dunia, aku mohon jangan menolak, kasihan pak singa, kasihan para petugas nanti kerepotan mengatur kita. Sudahlah, tidak lama kok cuma 5 bulan, kita ikuti saja”
tiba-tiba Anak Badak berkata : “Kamu tidak kasihan sama kita, Anak Panda? kita nanti naik turun kendaraan, ditempatkan di kandang-kandang sempit, berpisah dari keluarga, kamu lebih kasihan siapa?”
Anak Panda melongo, dia membayangkannya dan tahu Anak Badak benar, tapi ..”ehhh ehh mau kemana..semua…tunggu dulu..”, semua Anak bubar karena Anak Panda lama tidak menjawabnya.
Bapak Singa menemuinya lagi, “Bagaimana Anak Panda?”
Anak Panda menggeleng : “Besok pak…besok saya coba lagi”

        Anak Panda mengumpulkan teman-temannya lagi.
Anak Panda :”Ayolahhh, kita ini hewan, hutan yang liar saja mampu kita kuasai, masa bepergian melihat hal baru tidak berani kita jalani. Ayo teman-teman kita berangkat. Kita bersenang-senang. Kita tidak akan dipukuli, tidak dimakan, seperti hewan ternak. Kita adalah hewan bebas!!! Kita akan mengarungi laut! Melewati langit! Kita pemberani!”
Teman-temannya saling memandang ngeri. “Anak Panda, benar juga katamu, teman-teman kita yang diternak sedang dipukuli, dibunuh, masa kita bersenang-senang, kami tetap tidak mau!”.
Anak Panda sontak menutup mulutnya. Dia terlalu bersemangat sampai melontarkan kata-kata yang tidak semestinya. Dia tidak mampu berkata-kata lagi untuk mencegah teman-temannya bubar.

        Anak Panda dengan gontai pulang.
“Hey kenapa wajahmu sedih Anak Panda?” ibu dengan lembut merangkul Anak Panda yang baru sampai.
“Aku gagal bu…aku gagal menjalankan amanah pak singa, aku juga jadi malu pada teman-teman”
Ibu Panda tersenyum, menyeka airmata anaknya dan mengelus-elus kepalanya “Itu namanya latihan jadi pemimpin, pemimpin yang baik itu tidak mudah menyerah”.
Anak Panda sampai tertidur dalam pelukan ibunya.

        Anak Panda sedang duduk di bawah pohon teduh. Dia memikirkan teman-temannya. Saat melihat Anak kuda, dia ingat pernah melihat kuda yang dipacu dengan dipukul dari belakang, dia juga pernah melihat kelinci yang dipacu dengan mengikat sebatang wortel tepat di depan kepalanya.
Hmmm…mungkinkah itu yang sudah dilakukannya? mendorong dan mengumpan temannya?…teman-temannya adalah hewan yang cerdas, mungkin kalau mereka diberitahu tujuannya, bukan dipacu sebelum perjalanan, itu justru akan membuat mereka berpikir dan sadar.
AHA…Anak Panda mengumpulkan lagi teman-temannya.

        “Aduhhhh ada apa lagi sih Anak Panda?????!!” beberapa suara terdengar kesal.
Anak Panda tetap tenang “Begini teman-teman…ini memang masih soal keikutsertaan kita di tour itu, aku tidak akan memaksa, aku cuma ingin menjelaskan, tujuan perjalanan itu adalah untuk mengenalkan kita ke manusia yang sebelumnya tidak pernah melihat kita, seperti waktu aku menceritakan pengalamanku melihat laut, itu jadi hal baru kan…nah ini juga, dan akan membuat manusia mengenal lalu berusaha menjaga kita. Agar teman-teman yang lain lalu mempunyai rumah hutan lindung yang indah seperti kita ini. Tujuan kita adalah membantu hewan lain”. Anak Panda tersenyum yakin.

Beberapa bulan kemudian, truk-truk WWF berdatangan, banyak anak-anak hewan yang sehat terpilih ikut tour. Dan mereka berangkat dengan senang hati.

Pensiun

Cuaca Jakarta yang sedang tidak ramah, memaksa saya terduduk di sebuah cafe mungil di daerah selatannya. Saya memperhatikan suasana, hujan deras, pengunjung tidak banyak, di meja seberang saya, seorang Bapak sudah berumur sedang serius menghadap laptopnya. Tidak lama seorang perempuan muda menenteng beberapa berkas bergabung di meja itu.
Perempuan dengan sumringah menyapa: “Wah, terimakasih lho Pak, jam segini masih bisa saya hubungi, gak ngira habis pensiun Bapak masih semangat kerja ya Pak”
Bapak tertawa sopan : “aduh Mbak, kalau bukan karena anak-anak saya masih kecil, mending di rumah ini”
Setelah itu saya tidak mendengar lagi obrolan mereka yang ‘kuping-able’ karena jaraknya yang dekat 😀 . Saya asik dengan pikiran saya.
Pensiun.
Apa sih pensiun itu? pensiun itu tidak bekerja lagi karena dianggap sudah tidak produktif. Di Indonesia usia pensiun adalah di 56 tahun, beda dengan negara maju yang 65 tahun, bahkan Jepang yang 70 tahun.

Saya ndak mau ah jadi seperti Bapak tersebut. Di tua nanti saya ingin tetap bekerja karena saya ingin berkarya, bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup. Apa ya yang harus saya lakukan?
Kalau umur saya sekarang hampir 36 tahun, berarti saya akan pensiun 20 tahun lagi. Menabung! Ya itu harus saya lakukan.
Tapai kalau sekedar menabung konvensional, tentu hasilnya tidak seberapa. Investasi! nah itu lebih tepat.

Investasi ada 2 level : untuk tujuan jangka panjang(misal: menanam pohon jati) dan untuk menghasilkan rutin/pengganti gaji(misal: membuka kedai kopi).
Nah, level pertama sudah terpikirkan, bagaimana dengan level investasi untuk pengganti gaji nanti? usaha apa yang cocok untuk pensiunan?
Sepertinya ya…menurut saya, ini pilihan kok, bukan kewajiban, pemasukan memang dibutuhkan, tapi jika memang beresiko pada keuangan/malah membebani, mending cari kegiatan dan kesenangan baru untuk mengisi waktu. Ya kan?

Ok, cara-cara sukses untuk menghadapi usia pensiun sudah tahu, sekarang faktor apa yang kira-kira bisa menghambat?
Saya google dong 😀 …menurut Ligwina Hananto, ada 5 alasan gagal pensiun :
1. BOROS
Masuk akal sih ya, pemasukan berkurang tapi kalau gaya hidup tetap sama, simpanan pensiun ya lama-lama habis juga.
2. TIDAK INVESTASI
PNS masih menerima pensiunan, kalau pegawai swasta atau pengusaha? pilihannya ya harus tetap bekerja
3. BISNIS BANGKRUT
Sepanjang umur produktif terbiasa bekerja secara team sebagai pegawai, lalu tiba-tiba harus berbisnis, bekerja mandiri, pasti banyak yang tidak siap. Maka persiapan berbisnis di usia pensiun perlu direncanakan dan dilakukan jauh-jauh hari, dari sekarang, bangkrut-bangkrutnya sekarang saja, nanti setelah tua sudah stabil 🙂 . Bahkan sesaat sebelum pensiun, rencana keuangan harus direview lagi, masih relevan tidak.
4. TIDAK PUNYA FASILITAS KESEHATAN
Waktu masih jadi pekerja, sakit kita masih bisa tercover perusahaan. Kalau sudah pensiun? dengan kesehatan yang terus menurun, dana kesehatan pasti harus jadi prioritas, jangan sampai mengganggu dana hidup sehari-hari.
5. ANAK GAK MANDIRI
Di negara maju, orang-orang tua masih bekerja karena ingin mandiri, tidak merepotkan anak. Tapi disini sering kita jumpai, orang-orang tua masih bekerja karena direpoti anak.

Selesai coret-coret, saya sedikit tenang, karena jadi tahu jalan menuju tua secara finansial. Jadi gimana sekarang? work hard travel harder? 😀 . Well, apa-apa baiknya seimbang ya, prepare seimbang, menikmati hasil juga seimbang. 🙂

Semoga saya dan anda menua dengan bahagia 🙂

 

Cacat Yang Sempurna

       Toni  sudah selesai memakaikan Eka baju. “Ayo Ma berangkat, keburu hujan” tangan Toni jahil mencubit pipi Dian yang sedang memulas wajahnya dengan bedak. Dian diam, mematut diri sekali lagi di depan cermin.
“Ayooo” kali ini Toni mengalungkan gendongan batik ke pundak Dian. Dian cepat menggendong Eka.
Dian sangat senang bisa keluar menghabiskan waktu bersama suami dan anaknya seperti Sabtu ini, hanya saja dia masih risih dengan tatapan tetangga dan orang-orang setiap mereka berpapasan.
Toni menuntunnya menaiki angkot. Sekali lagi mereka bertiga jadi pusat perhatian. Dian menunduk, Toni malah sibuk membetulkan posisi Eka, “ini tangan Eka ketekuk Ma”, bayi 6 bulan itu tertidur, “aduh dia keringetan, gerah ya nak, sini ayah kipasin”. Dian tersenyum melihat perhatian Toni, dia jadi tidak memikirkan pandangan orang-orang di angkot lagi.
       
       “Kiri bang”, rupanya mereka sudah sampai di swalayan yang mereka tuju. “Maap, ini turunnya agak lama ya bang”, Toni dengan sopan bicara pada sopir. Toni harus mengambil Eka dari gendongan Dian, lalu membantu Dian menuruni tangga angkot. Dian berusaha keras membungkuk, pelan-pelan, bertumpu pada Toni, akhirnya dia berhasil turun. “makasih bang”. Sopir angkot tak sempat menjawab, dia sudah buru-buru menekan gas angkotnya.
Dahi Dian penuh keringat, Toni menyekanya perlahan “Doakan rezeki lancar ya Ma, nanti kita bisa beli motor”. Dian tersenyum mengangguk, memindahkan Eka ke gendongannya lagi.
       
       Bapak-bapak satpam memperhatikan mereka dari kejauhan mungkin mereka sedikit curiga pada perawakan Toni yang ceking,  Toni menggamit tangan Dian. Dian cacat kaki sejak kecil, mereka tidak tahu penyakitnya, sampai 2 tahun lalu, saat ada dokter dari rombongan calon gubernur yang sedang kampanye, memberitahu, Dian kemungkinan terkena penyakit PFFD (proximal focal femoral dislocation).  Penyakit yang membuat kakinya tidak sama panjang dan pinggulnya tumbuh miring.
“Mama capek? mau tunggu diluar disini?” Toni mengimbangi langkah perlahan Dian.
“Gak, aku juga mau lihat pilihan makanan pendamping asi-nya Eka”
Toni  bersemangat. Dia membaca setiap kandungan makanan dan susu anak yang tertera di kotak saji. Toni ingin yang terbaik untuk anaknya, meski tahu akhirnya dia akan kalah oleh perhitungan harga.
       
Toni memandangi kotak susu lalu beralih memandangi  tangan dan dompetnya. Waktu cepat sekali berlalu.
Dulu tangannya ini digunakan untuk memukul & merebut, memukul siapa saja yang tidak mau menyerahkan barang yang ditodongnya.
Dia preman yang tidak bosan ditangkap satpol pp juga polisi, merasa cukup hidup dengan ditakuti orang & disegani preman lain.

Sampai suatu hari, badannya luka-luka hasil bertengkar karena berebut perempuan untuk berkencan, dia mabuk berat lalu mengotori lapak buku jualan seorang perempuan cacat. Perempuan itu marah-marah, Toni juga marah, sebelumnya tidak ada perempuan yang berani membentaknya.
Toni menghancurkan lapak.  Perempuan itu menangis,  balas memukul dengan kayu sampai  Toni pingsan.

Ketika terbangun, dia sudah ada di kasur. Disampingnya, ada makanan hangat dan perempuan yang sudah memukulnya, memandang cemas.
“Maaf aku memukulmu, lapak itu kehidupanku”
“Gila lo” Toni menghardiknya, berusaha bangkit tapi kepalanya pusing luar biasa
Perempuan itu juga berusaha bangkit : “Kalau kamu kasar, kamu bisa mati sendirian”
Toni terdiam, perutnya lapar, membuatnya susah payah meraih makanan
Sudah 3 hari dia di gubuk itu, perempuan bernama Dian itu tetap membawa makanan 2 kali sehari tapi menolak bicara jika Toni kasar.
Malam harinya, saat Dian membawa makanan, Toni memutuskan bicara dengan sopan.
“Gue yang minta maap udah ngerepotin elu. Tenang aja, kerugian lo gue ganti.” diulurkannya uang 200 ribu. Uang hasil copet terakhirnya. “Gue lagi stres, pacar gue dicuri temen gue, padahal pacar gue itu baik”
Dian menyahut lirih : “Orang baik itu tidak tidak mencuri dan tidak tercuri”
Toni marah : “Tidak tercuri???.. Lo pikir barang hah???!!”
Dian menyahut : “Lah kalau barang aja gak mau digituin apalagi manusia yang punya fikir”
Toni makin marah : “Tau apa Lo soal perasaan? pernah Lo pacaran? Ada yang mau sama Lo?  Dia tuh cuma mau bikin gue cemburu, gue akan rebut dia lagi meski dituker nyawa. Tau Lo”
Dian tak takut : “Pacar yang keren tuh bukan yang bikin cemburu, tapi yang bikin orang lain cemburu liat kalian berdua, lagian kalau sudah dewasa, mainnya bukan, “kalau aku gini, kamu cemburu gak? tapi kalau aku gini, cita-cita kita lebih cepet kesampai gak?”
“arrhhhhhh” Toni bangkit, ingin rasanya Toni memukul Dian, tapi urung, dia menendang pintu, lalu lari sekencang-kencangnya.
       
Setahun setelah malam itu, Toni kembali menemui Dian, dia sudah jadi sopir truk. Sudah mengontrak kamar. Dan ingin menikahi Dian.
       
“Yang ini ada minyak ikannya Yah”, ” Yang ini kandungan besi nya lebih banyak pasti Eka nanti makin kuat, otot kawat balung besi” Dian mengangkat kedua lengannya, mereka tertawa-tawa.
       
Uang mereka hanya cukup membeli 1 kotak makanan pendamping asi, dan 1 minyak telon.  Antrian di kasir panjang.
       
Dian

Dian mengamati Toni yang memegang belanjaan mereka. Sudah  2 tahun mereka menikah, cukup untuk mengenal, bahwa dibalik penampilannya yang menakutkan, Toni itu orang yang bisa sabar sesabar-sabarnya, bisa lembut, tapi akan tegas di waktu yang diperlukan. Dian berdoa semoga umurnya cukup panjang untuk mengurus dua laki-laki dalam hidupnya itu.

 

“Silahkan Bu” kasir di depannya tampak tersenyum melihat pemandangan tak biasa. Seorang laki-laki kurus penuh tato, melamun memandang kotak makanan, sembari menggandeng perempuan cacat yang  menggendong bayi lelap.

 

 

10 menit

Aktifitas apa ya yang bisa disisipkan di sela-sela rutinitas agar semangat jadi terdongkrak lagi?
pertanyaan itu dari saya yang pembosan, untuk saya yang jadi cranky kalau sudah bosan :)).
setelah memperhatikan diri sendiri, 10 cara ini , cukup dilakukan selama 10 menit saja, ampuh jadi mood booster saya.

1.beribadah
Banyak penelitian sudah membuktikan bahwa berdoa, berbagi, berbuat baik bisa meningkatkan kesehatan mental. Jadi masuk akal juga ya kalau menjaga kesehatan fisik akan lebih mudah dilakukan jika kita bisa menjaga kesehatan mental dan mengelola stress

2.yoga
Saya awalnya sempat under estimate dengan olahraga ‘lambat’ ini :D, karena saya tipe yang suka olahraga heboh seperti zumba, berenang, bersepeda. Tapi seorang teman menantang saya coba mengikuti yoga ‘popsugar’, ok, mulai workout 5menit saja dulu..saya…BERKERINGAT :)).. lalu 10 menit dan 30 menit. Yoga menyenangkan

3.memasak
Sekarang ada banyak resep masakan yang cuma butuh hitungan menit sudah jadi ya, contoh saja urbancook, diy food, dapurpemula dll. Nah, setelah makanan masak dijamin pikiran segar, perutpun kenyang 😀

4.membaca
Saya suka twitter, karena beritanya pendek tapi uptodate :). Sebisa mungkin juga saya membaca hal positif, seperti goodnewsfromindonesia.org, juga yang lucu-lucu seperti 9gag. Banyak senyum dan optimis itu bikin manis dan sehat kan 😉

5.bertemu teman
Saling bertemu muka, ngobrol di group wa atau medsos tidak masuk hitungan ya. Asal jangan jadi ajang gosip, ini ajaib efeknya, meski ngobrolnya juga hal-hal tidak penting 😀

6.menyiram kebun

anggrek-lemon
Hati jadi ringan begitu memperhatikan bahwa apa yang saya tanam akhirnya tumbuh. Apalagi kalau melihat ada capung yang jadi indikator air&lingkungan bersih terbang di antara bunga-bunga ditemani kupu-kupu, duh tukang kebun in action pokonya 😀

7.musik
Coba deh karaoke nyanyi dengan mengikuti gaya penyanyi asli, misal gaya candil nyanyi “rocker juga manusiaaaaaa”. Wih seru :))

8.main game
Saya suka main game di hp. Tapi sekarang sedang suka bermain wii, wii sports, asik juga di cuaca yang sering hujan serasa bisa tetap olahraga indoor 😀

9.menulis
Saya suka menuliskan apa yang saya rasa dalam satu hari. Kalau hari sedang jelek saya akan tulis di kertas lalu setelah puas, saya robek2 saya buang tempat sampah :)). Kalau hari saya baik atau ada ide-ide, saya akan menuliskannya di jurnal harian saya. Intinya yang sudah dilewati jangan jadi beban & pikiran.

10.melakukan hal yang sama sekali baru
Saya sedang suka belajar bahasa mandarin, meski banyak orang menyarankan betapa tidak mungkinnya saya bisa menguasainya tapi saya suka berusaha menjejalkan kata2 baru yang susah itu dalam ingatan saya :D. Saya juga sedang mencoba kebalikan beberapa hal, misal biasanya suka baca tentang pengembangan diri, sekarang sayapun baca tentang robotik, biasanya tentang fashion sekarang tentang hutan :D. Ada perspektif lain yang saya dapat.

Nah itu 10 dari saya. Semoga anda punya 11, 100, 200 aktifitas yang bisa membuat anda 11, 10, 200 kali lipat semangat 😀

Selamat beraktifitas.

JALAN

jalan-jalan

Hari ini ada demo di Jakarta, teman-teman pekerja saling berbagi info menghindari macet.
Minggu ini juga ada diskon besar dari airways ternama, teman-teman sayapun ada yang buru-buru memanfaatkannya traveling.
Saya jadi punya pemikiran sederhana, hidup ini seperti perjalanan ya.
Bukan tentang berpindah tempatnya, tapi tentang menghadapi.
Kalau ada masalah, cari jalan keluar, biasanya makin banyak wawasan, makin mudah milih solusi.
Kalau ada kesempatan baik, siapa yang punya persiapan, dia yang bisa menikmati.

Suatu saat, selama di perjalanan kita beristirahat, lalu jadi sempat memperhatikan orang lain, ndak perlu merasa iri dengan kelebihannya, karena kita tidak tau jalur mana saja yang sudah susah payah dilaluinya. Tidak perlu juga merasa punya kelebihan. Ikuti nurani saja : tawarkan bantuan kepada yang kira-kira membutuhkan dan ‘bela yang benar bukan yang lemah’.

Menurut penelitian, manusia sudah ada sejak 1 juta tahun yang lalu, jadi kita-kita yang ada sekarang ini adalah manusia yang sudah bertahan melewati berbagai evolusi. Jelasnya kita adalah manusia yang berharga dan mulia, jadi ndak usahlah melakukan hal yang menurunkan nilai kita itu. 🙂

Yap, hidup punya berbagai sisi, selain nurani, kita butuh agama sebagai serangkaian aturan. Tanpa berpegang agama, saya rasa seseorang tidak akan kuat menjalani hidup kan ?

Ada beberapa orang yang punya kemampuan untuk menemukan jalur yang baik, jadi pemimpin. Tujuan hidup kita bisa saja sama dengan pemimpin dan banyak orang. Tapi karena kendaraan dan barang bawaan kita tidak sama, kita butuh pendidikan agar kita bisa mengumpulkan informasi untuk meghadapi jalur. Pendidikan jadi jauh lebih luas dari sekedar untuk ekonomi, gelar mempersiapkan tenaga kerja. Pendidikan = proses terus belajar jadi lebih baik.

Tapiiiiii :), sebaik apapun kita mempersiapkan perjalanan, pemilik semua adalah Allah SWT, kalau ada kejadian kendaraan mogok, sopir sakit, penumpang rewel, jalan rusak, kita kembalikan saja : “Hidup adalah petualangan penuh kejutan, dinikmati saja, tidak perlu dimengerti “. 🙂  Salam jalan-jalan

 

#catatan kecil ini sepenuhnya reminder untuk wigati

Posisi

Masih ingat dengan jargon “posisi menentukan prestasi” saat sekolah dulu?..ya itu diartikan dengan posisi aman untuk menyontek ya :D. Pengalaman lugu dan menyenangkan itu kami bicarakan lagi tadi sore. Kami, maksudnya saya dan dua teman lama saya.

Setelah cerita-cerita flashback, kamipun lalu membahas pencapaian kami saat ini. Satu teman sudah ada di posisi yang tinggi dan tidak pernah dia bayangkan akan capai sebelumnya, sedangkan satu teman yang lain bercerita bahwa dia ada di posisi yang berubah sama sekali dari yang dia inginkan awalnya.

Saya percaya, ‘teman tinggi ini’ mencapai posisinya sekarang bukan hanya berdasar keberuntungan momen yang pas, tapi karena dia siap, dia terus meningkatkan kualitasnya sehingga ketika sewaktu-waktu pintu kesempatan terbuka, dia bisa masuk ke arena persaingan dan memenangkannya.

Sedangkan bagi ‘teman yang berubah posisi’, saya percaya selama dia tahu tujuannya dia akan bisa mencapai cita-citanya, meski harus melalui jalan berputar dan memakan waktu.

Apakah  ‘teman tinggi’ lebih baik daripada ‘teman yang berubah posisi’? Apakah lebih sukses?

Saat ini sekilas mungkin iya, tapi menurut saya tidak untuk seterusnya, karena ciri orang sukses adalah tahu bagaimana menyusun prioritas dalam hidupnya. Jika sekarang harus berubah posisi, mundur atau bergeser?! tidak mengapa, selama itu nanti akan membuatnya melompat lebih tinggi.

Maka kesimpulannya, jangan sampai tersesat! Tau tujuan itu penting, sepenting tau, dimana posisi kita sekarang.

Selamat melompat lebih tinggi 🙂

Ketika Tidak Bisa Memilih 1 Diantara 3

IMG-20160720-WA0010

Saya punya 3 buku yang alhamdulillah baru selesai saya baca \(^.^)/, saya terkesan, dan ingin mencatatnya, semoga jadi manfaat juga untuk yang kebetulan membaca nya disini.
Sebenarnya buku-bukunya merupakan buku yang sudah lama terbit, tapi nilainya menurut saya akan selalu relevan, ada Bakat Bukan Takdir, Passion 2 performance, dan 5 Guru Kecilku.

Passion 2 performance, dari Rene SUhardono, tebalnya sekitar 360 halaman, tapi tidak terasa tebal atau membosankan karena layoutnya oke, kreatif :), isinya tentang penegasan Rene bahwa passion adalah aktivitas yang membuat kita merasa berdaya dan menghasilkan karya. Passion bukan sekedar hobi tapi justru salah satu unsur karir. Karir bukanlah jabatan tapi perjalanan yang berisi passion, value, tujuan hidup dan kebahagiaan. Jika seseorang sudah mempunyai passion maka perfomance/kinerjanya akan bagus, Rene membuktikannya di buku ini dengan melakukan survey ke 11 industri, yang mewakili bidang yang berbeda, ternyata hasilnya sama, bagi pekerja : perlu untuk perduli & menggali passion pribadi agar bisa menemukan karir yang tepat.
Sedang bagi perusahaan, perlu diperhatikan hal-hal yang harus dikondisikan dalam perusahaan agar pekerja bisa meningkat kinerjanya, pada akhirnya, makin besar rasa ikut memiliki perusahaan & berpikir seperti owner, makin baik kinerja mereka bagi perusahaan.
Menarik ya, saya jadi punya kesimpulan bekerja bukan lagi sekedar cara mencari gaji lalu menghabiskannya untuk membayar tagihan ini itu. 🙂

5 guru kecilku, Kiki Barkiah, sudah ada 2 jilid, menjadi buku unik, karena menceritakan sebuah keluarga muslim, dengan 5 orang anak, yang rentang usia yang dekat. Beliau-beliau ini muslim taat yang pindah dari Indonesia ke Amerika mengikuti sang Bapak yang bekerja disana. Karena perbedaan kultur dan biaya sekolah islam yang mahal, maka Bapak dan Umi memutuskan menjalani homeschooling untuk 4 anak yang sudah masuk usia sekolah. Kumpulan cerita pendek didalamnya sangatlah sehari-hari, tapi sang Umi, yang berhasil mengambil hikmah di setiap kejadiannya, membuat pembaca seperti berkaca lalu membandingkan diri. Ada berbagai sisi yang diceritakan, misal,
-betapa peran Bapak sangatlah penting untuk mendukung Umi tetap konsisten menjalankan homeschooling dan bersabar mendidik anak-anak,
-betapa keluarga adalah team yang saling mendukung, karena menurut beliau kesuksesan sebuah keluarga adalah saat mampu berkumpul kembali di surga di kedudukan yang istimewa,
-ada juga sisi tentang kekhawatiran sang Umi untuk menghadapi masa janda, tapi dengan keyakinan bahwa Allah punya berbagai jalan rezeki, gaji suami hanya salah satunya, maka keinginan Umi untuk ikut bekerja diurungkan agar mampu fokus mendidik anak-anak
-betapa pendidikan agama sangatlah berperan penting untuk membatasi dan menjaga anak, benih jiwa yang kelak diharapkan tumbuh baik dan sukses.
-dan ada list link dan ide permainan untuk anak-anak mengisi homeschooling
Buku ini perlu dibaca oleh seluruh ibu muslim, terutama yang cengeng seperti saya *shy*, pelajaran baik dari sesama ibu yang selalu mendoakan keselamatan anak-anaknya.

Bakat Bukan Takdir, Bukik Setiawan & Andrie Firdaus, rasanya lebih merupakan buku pintar untuk orangtua, karena ditulis oleh praktisi psikologi :). Didalamnya Bukik dan Andrie menjelaskan bahwa bakat anak adalah passion, dan berdasar usia dan kematangan, anak mempunyai 4 fase pengembangan bakat.
-usia 0-7 tahun, fase eksplora (stimulasi, kenali, refleksi)
-usia 7 – 13 tahun, fase belajar mendalam (tanamkan gemar belajar)
-usia diatas 13 tahun, fase arah karir (menampilkan hasil belajar)
-usia diatas 18, fase karir(mendapatkan pengakuan dari masyarakat atas bakatnya)
Anak-anak bukanlah kertas kosong, tapi mereka adalah bibit, dan jika diibaratkan telur, maka peran orangtua adalah mengerami, menstimulusnya bukan mendesak dan memecahkannya dengan tekanan dari luar. Ada berbagai macam kecerdasan anak(kecerdasan majemuk), maka jika kita yang hidup di era industri, pola pendidikannya harus berubah mengikuti kebutuhan pendidikan anak kita di zaman kreatif sekarang ini. Maka orangtua, kedudukannya bukan pembayar jasa guru, tapi rekanan guru. Dan tugas orangtua bukan menanam, tapi menumbuhkan anak.
Buku ini membuka wawasan saya, bahwa anak mendapat benang merah dari sekolah, benang biru dari tempat les, benang kuning dari teman, benang hijau dari buku, media, internet, peran orangtua untuk membantu anak merajut benang pengetahuan itu jadi kain kearifan yang indah 🙂

Itu sekilas review saya atas 3 buku tersebut, ujung-ujungnya kesimpulannya saya perlu terus upgrade diri dengan membaca. Salam membaca teman-teman 🙂

Previous Older Entries