Suluh Bulan (2)

Wulan ceria menceritakan apa yang tadi dia & kakak-kakak Suluh bicarakan. Termasuk jangan memakai inisial nama lengkap nanti di undangan nikah, Wulan Clarissa, akan jadi WC dan Suluh Daniswara jadi SD, Wulan sampai terbahak-bahak. Suluh tetap menyetir, memandang lurus kedepan dengan serius.

Wulan lalu menyadari dia hanya tertawa sendiri, ditegurnya Suluh : “Hey….ngelamun aja”. Suluh tersenyum tanpa menoleh.

“Mikir apa sih? Nikah kita ya?” Wulan tersenyum-senyum, menyerongkan duduknya, menghadap Suluh.

“Mas rasa kita harus pikirkan lagi rencana nikah kita”.

Ada jeda lama.

Wulan memegang lembut lengan Suluh  : “Apa sih Mas? Ada apa?”

“Mas perlu berpikir lagi, tapi sepertinya kita gak sejalan Wulan”

Terkejut. Wulan menjawab dengan emosi : “Gak sejalan?….gak sejalan gimana?…udah 2 tahun kita bareng…Mas udah kenal keluarga aku, aku juga kenal keluarga Mas yang baik sama aku. Tadi pagi Mas gak apa-apa, masih mesra, masih mau kita serius, aku jadi istri Mas….jangan main-main Mas, aku gak suka”

Mobil Suluh masuk ke komplek rumah Wulan.

“Makanya Mas perlu berpikir lagi. Besok kita bicara lagi ya”

“Gak! Sekarang aja! Buat apa ditunda-tunda!” Wulan menangis

Mobil berhenti di depan rumah Wulan.

“Ini keputusan besar dalam hidup Mas. Mas perlu waktu berpikir “ Suluh merendahkan suaranya

Wulan menyeka airmatanya, memandang mata Suluh dalam-dalam.  Dia tidak ingin kelihatan lemah di depan laki-laki  yang sepertinya bersiap menyakiti hatinya ini.

“Mas besok malam kesini, kita bicarakan semuanya” Suluh berkata selembut mungkin

Wulan menepis tangan Suluh : “Terserah”, lalu membanting pintu mobil dengan keras

Suluh menghela nafas panjang, dadanya sesak menahan perasaan bingung.

 

Wulan menghambur masuk kamar tidur. Rumah terasa sangat sepi. Wulan hanya tinggal bersama adiknya, sedang Papa Mamanya sudah tinggal di Australia. Wulan melanjutkan tangisnya, ingin sekali dia menelfon Papa, dan melaporkan apa yang baru saja Suluh lakukan padanya. Wulan bisa merasa apa yang akan terjadi, mereka akan berpisah. Wulan tidak pernah ditolak atau diputus hubungan oleh laki-laki. Dulu jika sudah bosan pacaran, dia yang memutuskan, dan dengan cepat menemukan pengganti.

Tapi Suluh beda. Suluh selalu lembut, menghormati dan mendukungnya. Meski status sosial mereka beda, tapi dengan luwes Suluh mampu berbaur dengan keluarga besar Wulan, kolega dan lingkungan Wulan. Lalu apa yang membuat Suluh berubah pikiran? Apakah dia pernah salah bicara? Apakah ada perempuan lain?. Diurungkannya jarinya memencet kontak Papa. Ditelusurinya chat, medsos nya, medsos Suluh. Tidak ada yang aneh. Tiba-tiba alarm berbunyi. Sudah jam 6 pagi !

Wulan memutuskan tidak masuk kerja hari ini. Dia merasa tidak punya tenaga. Adik & pembantunya sudah berkali-kali mengetuk pintu. Wulan bergelung dalam selimut, dan….menangis lagi.

Hari sudah siang, saat adik sudah masuk ke kamarnya, lalu dengan cemas meletakkan tangan di atas dahinya.

“Mas Suluh nelfon ada kali 20 kali tuh ke telpon kakak, gak diangkat, kata orang kantor kakak gak masuk, dia kuatir, dia mau kesini habis ini”

Wulan sebenarnya masih ingin di kamar, tapi dia penasaran dengan apa yang akan Suluh katakan. Dipaksanya untuk bangun.

 
 
Suluh tidak ingin berbasa-basi, tapi dia menunduk : “Ibu dan Mbak Ratih memang bilang kamu ndak cocok buat Mas, tapi mereka mendukung apapun keputusannya. ……Perkataan mereka membuat Mas berpikir jujur tentang apa yang Mas rasakan. Selama ini sebenarnya sudah banyak pertanda, bahwa kita gak cocok, tapi Mas selalu berusaha tak mengakuinya, karena…. Mas menginginkan kamu …kamu sempurna, Wulan”.

Suluh menghela nafas, Wulan menyeka airmata.

“Kebutuhan kita berbeda. Cara untuk bahagia kita berbeda. Kalau kita paksakan, sepertinya salah satu akan terluka”

Wulan parau menyahut : “Apa kebutuhanmu Mas? Gimana cara bahagiamu?”

Suluh lirih : “Mas sudah lihat gimana bersinarnya Wulan kalau bekerja, mengurus kegiatan kantor….gimana bahagia nya Wulan kalau diberi tantangan client yang sulit lalu bisa menaklukan…gimana inginnya Wulan jadi CEO…dibanding Wulan waktu kumpul anak kecil, atau kumpul keluarga. Wulan butuh ruang dan waktu yang luas untuk itu. Sedangkan mas, mas ternyata ingin istri yang selalu ada mendukung mas, mengurus anak-anak. Mas pasti egois. Pasti laki-laki kuno. Tapi justru karena Mas gak bisa menyediakan apa yang Wulan butuh, Mas lepas Wulan sekarang, biar Wulan gak buang-buang waktu”

Wulan : “siapa tuh yang buang-buang waktu? Aku atau mas? Mas yang sudah 27 atau aku yang masih 23 tahun ini ?”

Suluh diam.

Wulan masih melanjutkan dengan sinis : “Kayak dibuat-buat gini sih mas alasannya, masa sih orang kayak mas gak bisa menghargai & mendukung karir perempuan. Kita bisa berkembang bareng. Kita bisa bentuk team : pembantu, sopir, keluarga, apapun yang dibutuhkan buat kita bisa tetap aktifitas kerja. Banyak cara kreatif kalau ada kemauan dan gak pesimis dari awal. Aku bisa kok ngalah, kerja sedikit atau gak kerja, kalau mas minta baik-baik untuk mendukung”

Suluh : “Wulan tau, mas masih akan berpindah-pindah kota, negara….” Suluh tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Dadanya sungguh berat.

Wulan  mendesak: “Makanya, lihat sudut pandang Wulan”

Suluh  : “Justru karena cuma sudut itu yang kamu lihat, aku gak mau”. Suluh berdiri, matanya mulai basah, dia membungkuk, meraih tangan Wulan sekilas lalu berucap “Aku minta maaf”.

Di perjalanan pulang, Suluh menelfon orang tua Wulan, menceritakan semua lalu pamit. Setelahnya dia menangis seperti anak kecil.

 
 
Seminggu setelah itu Suluh mendapat kabar, Wulan masih cuti bekerja. Suluh semakin mencurahkan tenaganya untuk berkerja,hanya  bekerja yang bisa mengalihkan resahnya memikirkan sudah menyakiti Wulan.

Dalam 6 bulan, sudah 4 kali Suluh masuk Rumah Sakit karena typhus, demam berdarah, virus. Suluh tahu dia begini karena tidak memperhatikan makanan & istirahatnya, jadi dia tidak pernah memberitahu Ibu atau kakak-kakaknya. Untungnya rumah sakit langganannya ini mau memudahkan semua keperluannya, disitulah dia bertemu Dahlia, kepala admin rumah sakit, yang sering membantunya. Setahun kemudian Suluh dan Dahlia menikah.

2019

Suluh mengantar Dahlia ke rumah sakit, setelah 20 tahun menikah, Dahlia ingin bekerja lagi. Suluh setuju, anak-anak sudah besar dan justru mendorong Dahlia punya kegiatan sosial, seperti mengurus organisasi penyintas kanker ini.

Kali ini ada pameran  seni penderita & penyintas kanker di lobby rumah sakit. Suluh tergerak ikut  melihat-lihat. Sebuah lukisan di tengah, menarik perhatian. Diperhatikannya dengan seksama. Lukisan itu besar, megah, berpigura emas dengan motif ombak, di kanvasnya berpadu serasi warna langit malam, bintang-bintang  gemerlap, remang savana luas dan dan bayang rembulan purnama. Semakin dipandang semakin indah dan syahdu.

Diliriknya kertas di ujung bawah lukisan.  Keterangan judul lukisan menyentuh hatinya. “Suluh Bulan”.

Suluh lekas menemui resepsionis, “Siapa yang melukis Suluh Bulan itu mbak?”

“Seorang suami penderita kanker pak. Itu lukisan permintaan istrinya sebelum meninggal. Jadi sang suami menyumbangkannya kesini”

Deg. Sesuatu yang sedih menelusup ke instingnya. “Boleh saya tahu nama penderita kanker itu?”

“Ibu Wulan Clarissa”

Suluh Bulan

Layar handphone Wulan menyala tanpa suara, nama ‘Sayangku’ yang terpampang, membuat Wulan reflek meraih handphone, mengetik  “Bentar ya, masih meeting”.

Sejam setelahnya, Wulan menelepon ‘Sayangku’

Wulan : “Halo mas Suluh sayanggg”

Suluh : “Assalamualaikum sayang”

Wulan : “Eh iyaaa…waalaikumsalam heheheh”

Suluh : “Aku udah di resto bawah ya, udah pesen salad favorit buatmu”

Wulan : “Ohhh ya ampun, mas udah lama ya disini..dari kapan..dari pas aku text tadi ya..aduh bentar ya..bentar..aku beresin ini dulu…15 menit lagi ya mas aku ke  bawah…bentar”

Wulan berjalan cepat, Suluh tersenyum lebar menyambut kekasihnya itu.

Wulan : “Mas mau bicara yang soal kita mau ke rumah mas ya..kenalan sama ibu, kakak2”

Suluh : “Udah, istirahat dulu…ini maem dulu”

Wulan menjangkau makanannya : “Sabtu apa Minggu ya mas? Sabtu aku ke Singapore dulu ya, mau urus  agreement”

Suluh : “Silahkan bu calon manajer marketing”

Wulan mencubit mesra pinggang Suluh, malam itu mereka lalu bicara banyak hal.

 

Suluh membuka panci yang masih di atas kompor, mengambil sesendok sup jagung ayam, tapi belum sempat menyuapnya, seseorang menjewer telinganya.

Ibu : “Suluhhhh jorokk, sana ambil piring dulu”

Suluh terkekeh diperlakukan seperti anak kecil. Sambil memeluk Ibu, Suluh menyuap sup favoritnya.

Suluh : ”Gak tahan Bu, masakan Ibu kayak dari surga…ueeenakkk”

Ibu : “Halah…eh, gimana besok jadi ndak pacarmu kesini?”

Suluh : “Insyaallah Bu, aku jemput dia”

Ibu tersenyum sambil mengusap-usap kepala Suluh : “Bungsu Ibu, udah 27 tahun”

Suluh tahu Ibu sudah menantikan dia menikah, tapi dia juga mengerti, betapa Ibu dan kakak-kakaknya akan sangat memilih perempuan yang boleh jadi istrinya. Sejak Bapak meninggal 22 tahun lalu, Ibu adalah tulang punggung dan inspirasi bagi keluarga. Dua kakak Suluh, perempuan, Ajeng dan Ratih, sangat paham, bagaimana Ibu bekerja keras, menjual kue & menjahit di rumah, demi kehidupan yang baik untuk 3 anaknya.

 

Wulan duduk dengan tegak dan merapikan bajunya. Dia tidak menyangka akan gugup, bahkan lebih gugup daripada menghadapi client pekerjaan paling sulit.

Ajeng bertatapan dengan  Ratih sebelum menyapa Wulan : “Suluh cerita, Wulan s1 nya di UI ya?”

Wulan : “Iya mbak”

Ajeng :  “Oh sama dong dengan aku. S2 nya juga di UI?”

Wulan : “Di Aussie mbak, Melbourne”

Ratih : “Lho, aku ya pernah apply kesitu”

Ketiganya lalu asyik membahas masalah pendidikan. Suami dan anak-anak kakaknya juga nampak akrab.

Suluh tersenyum melihatnya, kakak-kakaknya nampak bisa menerima Wulan dengan baik. Dia lalu ke dapur, membantu Ibu menyiapkan makan siang.  Hati-hati ditanyakannya Ibu.

Suluh : “Gimana Bu?”

Ibu : “Apanya?”

Suluh : “Wulan”

Ibu : “Kayaknya baik … ini bawa ke meja makan…ini juga”

Suluh sumringah. Mereka makan dengan suasana bahagia.

Makanan sudah tandas.

Wulan : “Ibu terimakasih makanannya, enak sekali”

Ibu : “Ibu ada kumpulan resep nya, makan yang sehat nak, jaga kesehatan”

Wulan : “Iya bu, tapi saya gak sempat masak”

Ibu tersenyum, beliau lalu mengangkati piring kotor.

Ratih : “Ke sini aja sabtu minggu Wulan, kita kumpul-kumpul”

Wulan : “Wah iya mbak, makasih, tapi bisa-bisa kerjaan saya gak selesai-selesai. Yang ada client nanti nyusul kesini”

Anak mbak Ajeng : “Gpp, nanti suruh beli makanan kita aja, tante”. Mereka lalu tertawa-tawa bercanda.

Suluh mengangkat piring kotor terakhir ke dapur. Ibu menatap Suluh.

Ibu : “Wulan itu ndak cocok buat kamu Nak”

Suluh terkejut : “Kenapa Bu, dia pintar, baik, cantik, sayang sama aku…apa karena dia gak berkerudung?”

Ibu menggeleng pelan: “Ibu kenal kamu, kalau kamu mau punya keluarga seperti keluarga kita, keluarga Ajeng, keluarga Ratih…Wulan bukan buat mu”

Suluh : “Ibu ndak adil, Ibu belum kenal  Wulan, Ibu cuma liat dia sepintas ini, Ibu harus mengijinkan dia berbaur dulu di keluarga ini. Dia baik kok Bu, mau nurut kalau kukasih tau”

Ratih yang sudah ada di pintu dapur mendekat : “Kamu itu manajer project, pekerjaanmu pergi-pergi terus lihat progress proyek dimana-mana. Kamu  dua tahun ini selalu cerita bagaimana Wulan. Bagaimana dia wanita karir yang juga makin sibuk. Kita mau ketemu ini saja sudah merancang berapa lama baru kesampaian kan. Apa iya kamu mau rumah tangga yang seperti itu, sama-sama sibuk. Mbak taunya kamu ingin keluarga seperti kita ini”

Suluh : “Lah terus gimana?  Wulan aku suruh berhenti kerja kayak Mbak Ajeng berhenti kerja kantoran atau Mbak Ratih yang memang freelance di rumah? Egois banget aku mbak!”

Ratih menepuk-nepuk bahu Suluh : “Kami berdua berhenti kerja bukan karena disuruh, tapi karena kami sadar mau punya keluarga seperti sekarang yang kamu lihat”

Ibu tiba-tiba datang dari arah belakang sambil membawa kotak perhiasan.

“Ini cincin lamaran Ibu dari Bapak dulu, ini hak mu. Silahkan”

Suluh menerima kotak itu dengan perasaan tidak karuan. Dari dapur, dilihatnya Wulan masih berbicara dengan kakak iparnya tentang pekerjaan dengan semangat.

Ibu dan Mbak Ajeng mengeluarkan makanan penutup, mereka berkumpul lagi.

Suluh memperhatikan kakak ipar dan keponakannya. Mereka tampak utuh dan bahagia.

Suluh sadar dia membutuhkan pasangan yang bisa mendukungnya dengan memberikan ketenangan dari rumah. Wulan perempuan sempurna, tapi mungkin benar dia tidak cocok untuk tujuan hidup Suluh.

Saat pamit mengantar Wulan pulang. Suluh takzim menemui Ibu.

Kotak cincin diserahkan lagi ke tangan Ibu. “Nanti Suluh ambil kalau bareng restu Ibu”

Ibu meneteskan airmata : “Sebahagianya Suluh. Ibu doakan”

 

 

 

 

 

 

 

 

Tolak

“Kenapa proposal saya ditolak pak? Apa kekurangannya? Tolong beritahu saya”
Meski beliau senior dan bijaksana. Tapi saya sudah mempelajari hal ini sudah sejak pertengahan tahun kemarin, dan percaya diri pendapat saya sangat baik, jadi saya merasa perlu memperjuangkannya.
Beliau tersenyum = “Anda tau ini bukan keputusan saya sendiri, ada panitia”
Saya mengangguk.
Beliau = “Pendapat anda tidak jelek, anda tidak buruk, hanya saja, tidak sesuai dengan kebutuhan kami.”
“Saya sampaikan di forum ini, bukan untuk merendahkan, tapi agar setelah ini anda akan mendapat banyak masukan dari rekan disini. Saya harap anda memahami”
Kali ini saya yang tersenyum. Beliau bisa menjelaskan dengan bahasa sederhana, bahwa kadang gagal kita itu bukan karena kualitas kita tapi karena kebutuhan orang lain.
Untuk saya, menghadapi penolakan atau kegagalan ini agak berat, tapi bisa juga jadi pelajaran yang berharga, bahwa percaya diri harus dijaga. 🙂

Shibori Ecoprinting

Saya ingat, dulu waktu masih SD, guru seni pernah menyuruh kami untuk mencetak bunga & daun yang warnanya cerah di kertas, pelajaran komposisi warna. Waktu itu saya dapat nilai 70, karena eh karena saya cuma nitip daun (&hasilnya) pada teman-teman saya, alasannya halaman rumah saya sempit. Teman-teman saya memang baik 😀

Nah ternyata sekarang saya ada kesempatan untuk mewarna dan mencetak pola kain (shibori) dengan warna & pola dari daun & bunga alami (ecoprinting). Tehnik ini berasal dari jepang. Berikut pelajaran yang saya dapat :

1. Tehnik shibori ada 2

– iron blanket (dikukus / direbus selama 2 jam)

– pounding (dipukul dengan palu kayu)

2. Tehnik mencetak pola shibori

– Itajime (melipat, menekan, celup)

– Kanako (mengikat)

– Arashi (melilitkan pada pipa)

– Nui (menjahit jelujur)

– Spray (menyemprotkan pola)

– Kumo (melipat kain)

– Miura /loop (mengikat tanpa simpul)

 

3. Kain yang baik untuk shibori

Katun primisima

Sutra

Polyester

 

4. Pola & pewarna yang umum digunakan

Pola : Daun jati, daun ketapang, daun jambu, daun jarak merah, segala jenis eucalyptus. Tapi pola daun lain juga bebas untuk di eksplor

Pewarna : kunyit, daun sirsak, bayam dll

5. Langkah shibori ecoprinting secara umum :

* Pre Mordant : untuk menghilangkan kotoran pada kain

*Mordant : prosesnya tergantung jenis kain

*Daun yg digunakan perlu dikondisikan agar tanin nya dapat menempel dengan baik.

A. Tehnik iron blanket :

– daun yang telah dicelup ditata di atas kain yg dimordant ditutup (diblanket) dengan kain lain yang telah direndam air karat.

-tumpukan kain dilapis plastik bening lalu digulung dengan pralon/kayu/besi

-lalu direbus/dikukus 2 jam

B. Teknik pounding

– daun ditata diatas kain mordant, dipukul dengan palu dari kayu sampai pola daun berpindah ke kain

Anak Panda dan Anak Burung Hantu

Anak Burung Hantu beringsut mendekati ayahnya yang sedang serius mengawasi pepohonan di sekitar sarang mereka.
“Ayah ada yang mau aku ceritakan”, “Hmm” sahut Ayah Burung Hantu hanya berdehem tanpa menoleh.
“Aku ingin mencari sarang sendiri”. Hening.
Lalu mata besar ayahnya lama menatap Anak Burung Hantu. “Kita bicarakan dulu dengan ibumu”.
Ayah Burung Hantu masuk ke dalam sarang. Ibu Burung Hantu yang sedang menata makanan, tersenyum melihat Anak Burung Hantu ikut masuk.
“Ibuu boleh kan ya aku pindah sarang? Aku suka sekali disini, ada ibu dan kakak-kakak. Tapi banyak temanku sudah pindah dari rumahnya bu, itu si kelinci, si kucing, si burung pipit. Katanya seru di rumah sendiri”. Anak Burung Hantu bercerita sambil melonjak-lonjak.
Ibu Burung Hantu “Apa kau sudah yakin?”
“Iya” jawab Anak Burung Hantu semangat. Ibu Burung Hantu tersenyum, menoleh dan menggangguk pada Ayah Burung Hantu.
Ayah Burung Hantu : “Baik, kau boleh pindah sarang, tapi jangan jauh-jauh ya”
“Horeeeee” Anak Burung Hantu cepat-cepat terbang, tapi lalu kembali lagi “terimakasihhhh ibuuu ayahhh”
Ayah dan Ibu Burung Hantu tersenyum lebar melihatnya.

Wah, Anak Burung Hantu semangat sekali mencari sarang baru, sudah seharian dia berkeliling. Akhirnya dia menemukan batu-batu besar berongga, tidak jauh dari sungai dan pohon-pohon bambu. Ya pohon bambu yang jadi rumah keluarga panda.
Anak Burung Hantu : “hai Anak Panda”
Anak Panda menatap hewan yang mungil tapi ada kesan seram itu : “Hai”. Hewan ini wajahnya berbentuk jantung, warna putih dengan tepi coklat.
Anak Burung Hantu : “aku Anak Burung Hantu, aku baru diijinkan punya sarang baru, terus aku menemukannya disebelah sini”. Anak Burung Hantu menunjukkan celah diantara batu-batu besar tidak jauh dari rumah Anak Panda.
Anak Panda kebingungan : “kamu tidur dicelah kecil itu?”
Anak Burung Hantu menggangguk semangat : “cukup kok”
Anak Panda : “oh oke, ini sudah sore, sampai ketemu besok ya”

Setelah itu Anak Burung Hantu sibuk menata sarang barunya, sambil menyapa teman-teman lain yang kebetulan ditemuinya, dia lalu tidur kelelahan. Sore hari dia baru bangun. Dan malamnya dia tak bisa tidur.
“Ah ini pasti karena aku terlalu lama tidur, jadi tidak ngantuk”. Anak Burung Hantu mondar-mandir sampai bosan bermain sendiri. Jadi dia mengetuk sarang buaya, “anak buaya, ayo kita main”. tidak ada sahutan.
Anak Burung Hantu pergi ke rumah anak kelinci, tapi anak kelinci bilang dia tidak mau bermain malam-malam.
Anak Burung Hantu ke rumah Anak Panda “Anak Panda…Anak Panda.. ayo main”, Anak Panda turun sambil mengusap mata “Ada apa?”,”Aku tidak bisa tidur, ayo kita main “, “Ohhh ayoo” jawab Anak Panda sambil menguap.
Begitulah selama 3 hari, Anak Panda menemani Anak Burung Hantu bermain di malam hari. Tapi di hari keempat, Anak Panda tidak bisa lagi diajak main, karena pagi itu Anak Panda tertidur di pohon bambu, masih mencoba sarapan tapi lalu terjatuh. “Aku rasanya capek dan ngantuk, jadi aku ketiduran, terus jatuh, aku tidak main lagi ya” kata Anak Panda sambil menutup pintu dengan tangannya yang digips.

Anak Burung Hantu tidak punya teman, sebenarnya ingin pulang tapi kan dia sudah janji yakin pada hidup mandiri. Dia sedang melamun di pintu sarangnya, saat di gelap malam dia melihat ada dua pasang mata besar, sedang menatap tajam padanya dari seberang. Anak Burung Hantu siaga ketika hewan itu mendekat, oh ternyata ayah dan Ibu Burung Hantu. Ibu Burung Hantu membawa sekerat daging lalu meletakkan di pojok sarang.
“Ibu, aku tidak bisa tidur sudah 3 hari, aku jadi tidak punya teman, teman-teman mainnya waktu aku ngantuk” Anak Burung Hantu memelas.
Ayah dan Ibu tertawa keras. “Nah itu lah, taukah kamu…malam hari itu memang waktunya kita cari makan. Pagi kita tidur”
Anak Burung Hantu hanya tertegun. Ayah dan Ibu tetap tertawa-tawa. “Kami sudah mengawasi, kamu hanya bermain, makanya kami masih kirim makanan. Kamu terbiasa di sarang kan. Main dengan kakak-kakak lalu ada makanan.”
Anak Burung Hantu terperangah sadar bahwa punya rumah sendiri berarti dia sudah harus cari makan sendiri. “ohhhhh” hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya. “Maaf ayah ibu”
“Tidak apa. Besok malam kita berburu bersama ya, malam ini kamu istirahat dulu”
Leganya. Anak Burung Hantu buru-buru memeluk ayah ibu. Jantung hatinya.

 

 

 

Rich

Everything I know is in this thing” katanya serius sambil memasukkan flashdisk ke genggaman saya, dan meletakkan amplop besar di meja saya.
Udah serasa transaksi agen-agen rahasia di film-film.
Padahal cerita aslinya : sabtu kemarin saya batal menghadiri seminar finance, dan teman saya yang baik hati itu bersedia meng-copy bahannya. Begitu. 😀

Apa ini?” tanya saya menunjuk amplop.
Ssstt itu kado mahal, bagi2 hasil project kemarin. It will make you rich

Saya mengkerutkan dahi, …’masa iya dia ngasih saya uang , tebal lagi’ , pikir saya,…’tapi ya bisa saja dia kan baik banget dan sudah kaya, mungkin aja dia bagi2 uang’.
Dia jalan mundur perlahan. Saya buka perlahan.

Ternyata isinya cuma kertas tulisan!!!


I wish for you to become RICH, not rich in money terms, although that will come to.
I mean rich in SPIRIT, rich in JOY, rich in PRESENCE, rich in LOVE, rich in GREAT RELATIONSHIP.

Rich in surrounding yourself with amazing people who are in alignment with you.
I hope you become to be truly rich in your soul
I wish for you to go deeper. To continue growing, continue evolving.
To take everything to the next level. To find peace. To live in kindness & compassion.

“Copy dari buku motivasi bule tuh harganya $38, mahal kan” katanya sambil tertawa2 menjauh sebelum saya sambit pakai amplop.
Ini, saya bagi dengan anda, semoga kita sama-sama become rich 🙂

BAHAGIA

Bunyi notifikasi group WA saya bersahutan. Wah tema apa yang bikin rame dibahas di weekend pagi seperti hari ini, pikir saya. Ternyata teman-teman saya sedang ‘challenge’ : mendeskripsikan apa itu “Bahagia” dengan kalimat sesingkat-singkatnya. Sulittt :), jadi saya cuma menyimak :D.

Teman saya, hanya menyertakan satu link dari twitter, milik Mona Ratuliu, yang memuat tulisan dr. Jiemi Ardian, di @jiemiardian.
Saya copy disini, karena ini penting untuk saya :).

Sejak kecil kita jarang diajari emosi, kita diajari nama nama hewan, tumbuhan, warna namun jarang (atau tidak pernah) kita diajari tentang emosi. Akibatnya? Karna kita tidak mengenali emosi, sering sekali emosi menjadi tidak terkendali dan menguasai diri.

Emosi yang akan kita pelajari hari ini adalah SENANG dan BAHAGIA.
Senang dulu ya. Senang itu didasari oleh sebuah zat di otak yang bernama Dopamin. Dopamin ini berfungsi dalam “reward system”, dia akan meningkat ketika kita mendapatkan sesuatu (reward).

Akibat dari “reward system”, senang jadi memiliki beberapa sifat. Yang pertama “senang” itu cenderung nyandu. Kita ingin lebih, kita ingin terus mendapatkan, dan terus lebih. Cintamu yang kamu bilang tulus itu dasarnya dopamin ini. Makanya walau kamu dapat, kamu tetep ga puas.
“senang” juga ga akan bertahan lama. Dia akan muncul dengan cepat, lalu berlalu juga dengan cepat. Seperti kita senang waktu ngemil, dapet handphone baru, naik gaji, semua emosi ini mereda dengan cukup cepat kan. Karena mereda, kita craving merindukan emosi “senang” ini lagi.

Senang cenderung membuat kita ingin mendapatkan dan memiliki, dan hanya dinikmati sendirian. Senang baju, cemilan, gadgets, belanja, semua tentang mendapatkan. Membuat otak kita berkata “senang ini enak, aku ingin senang terus”. Candu jadinya.

Nah sekarang kita belajar emosi yang sering dianggap sama seperti senang. Padahal berbeda. BAHAGIA. Sering sekali kita tidak bisa membedakan keduanya. Kita ingin hidup bahagia, namun karna tidak mengenali emosi, kita malah terjebak kecanduan kesenangan, bukan bahagia.

Bahagia didasari zat yang berbeda di otak, kali ini kita berkenalan dengan serotonin

Serotonin ini berkaitan dengan perasaan “cukup” dan “puas”. Kita tahu cukup dan puas ini tidak dicapai dengan mendapatkan sesuatu, iya kan? Jadi jelas bahagia dan senang itu berbeda.
Berbeda dengan senang, bahagia tidak bersifat Candu. Kita tidak kecanduan dengan perasaan cukup. Bahkan kita perlu berusaha untuk mengarahkan batin tetap merasa cukup.

Tidak bisa hanya dengan membeli atau mendapat sesuatu, bahagia malah muncul dengan melepaskan dan mengikhlaskan
Bahagia bertahan lebih panjang dibandingkan senang. Bahagia membuat kita ingin berbagi, ingin memberi, tanpa perlu mendapatkan atau memiliki. Terdengar seperti kisah cinta yang sesungguhnya bukan? Iya, itulah bahagia.

Cinta yang memberi, dan ikhlas membebaskan/melepaskan.
Bahagia sulit dinikmati sendiri, dia perlu dibagikan. Membuat kita bergerak menolong orang, menjadi volunteer kegiatan sosial, itu bahagia.Membuat otak berkata “ini indah dan ini cukup”. Serotonin dalam bahagia ini, jika sedikit jumlahnya, itu yang membuat seseorang depresi.

Untuk hidup bahagia kita perlu belajar melepaskan, mengikhlaskan, merasa cukup. Dan hidup yang bermakna butuh rasa bahagia, bukan hanya sekedar senang.

Yuk kejar kebahagiaan, dan jangan terkecoh dengan kesenangan.

Icon applause berdatangan. Calon pemenang challenge ini. Meski cuma copy link. 😀

Ternyata ada satu teman lain, hanya mengirimkan gambar.

Nah :D, saya rasa kita tahu siapa pemenang nya 😀

Previous Older Entries