Cacat Yang Sempurna

       Toni  sudah selesai memakaikan Eka baju. “Ayo Ma berangkat, keburu hujan” tangan Toni jahil mencubit pipi Dian yang sedang memulas wajahnya dengan bedak. Dian diam, mematut diri sekali lagi di depan cermin.
“Ayooo” kali ini Toni mengalungkan gendongan batik ke pundak Dian. Dian cepat menggendong Eka.
Dian sangat senang bisa keluar menghabiskan waktu bersama suami dan anaknya seperti Sabtu ini, hanya saja dia masih risih dengan tatapan tetangga dan orang-orang setiap mereka berpapasan.
Toni menuntunnya menaiki angkot. Sekali lagi mereka bertiga jadi pusat perhatian. Dian menunduk, Toni malah sibuk membetulkan posisi Eka, “ini tangan Eka ketekuk Ma”, bayi 6 bulan itu tertidur, “aduh dia keringetan, gerah ya nak, sini ayah kipasin”. Dian tersenyum melihat perhatian Toni, dia jadi tidak memikirkan pandangan orang-orang di angkot lagi.
       
       “Kiri bang”, rupanya mereka sudah sampai di swalayan yang mereka tuju. “Maap, ini turunnya agak lama ya bang”, Toni dengan sopan bicara pada sopir. Toni harus mengambil Eka dari gendongan Dian, lalu membantu Dian menuruni tangga angkot. Dian berusaha keras membungkuk, pelan-pelan, bertumpu pada Toni, akhirnya dia berhasil turun. “makasih bang”. Sopir angkot tak sempat menjawab, dia sudah buru-buru menekan gas angkotnya.
Dahi Dian penuh keringat, Toni menyekanya perlahan “Doakan rezeki lancar ya Ma, nanti kita bisa beli motor”. Dian tersenyum mengangguk, memindahkan Eka ke gendongannya lagi.
       
       Bapak-bapak satpam memperhatikan mereka dari kejauhan mungkin mereka sedikit curiga pada perawakan Toni yang ceking,  Toni menggamit tangan Dian. Dian cacat kaki sejak kecil, mereka tidak tahu penyakitnya, sampai 2 tahun lalu, saat ada dokter dari rombongan calon gubernur yang sedang kampanye, memberitahu, Dian kemungkinan terkena penyakit PFFD (proximal focal femoral dislocation).  Penyakit yang membuat kakinya tidak sama panjang dan pinggulnya tumbuh miring.
“Mama capek? mau tunggu diluar disini?” Toni mengimbangi langkah perlahan Dian.
“Gak, aku juga mau lihat pilihan makanan pendamping asi-nya Eka”
Toni  bersemangat. Dia membaca setiap kandungan makanan dan susu anak yang tertera di kotak saji. Toni ingin yang terbaik untuk anaknya, meski tahu akhirnya dia akan kalah oleh perhitungan harga.
       
Toni memandangi kotak susu lalu beralih memandangi  tangan dan dompetnya. Waktu cepat sekali berlalu.
Dulu tangannya ini digunakan untuk memukul & merebut, memukul siapa saja yang tidak mau menyerahkan barang yang ditodongnya.
Dia preman yang tidak bosan ditangkap satpol pp juga polisi, merasa cukup hidup dengan ditakuti orang & disegani preman lain.

Sampai suatu hari, badannya luka-luka hasil bertengkar karena berebut perempuan untuk berkencan, dia mabuk berat lalu mengotori lapak buku jualan seorang perempuan cacat. Perempuan itu marah-marah, Toni juga marah, sebelumnya tidak ada perempuan yang berani membentaknya.
Toni menghancurkan lapak.  Perempuan itu menangis,  balas memukul dengan kayu sampai  Toni pingsan.

Ketika terbangun, dia sudah ada di kasur. Disampingnya, ada makanan hangat dan perempuan yang sudah memukulnya, memandang cemas.
“Maaf aku memukulmu, lapak itu kehidupanku”
“Gila lo” Toni menghardiknya, berusaha bangkit tapi kepalanya pusing luar biasa
Perempuan itu juga berusaha bangkit : “Kalau kamu kasar, kamu bisa mati sendirian”
Toni terdiam, perutnya lapar, membuatnya susah payah meraih makanan
Sudah 3 hari dia di gubuk itu, perempuan bernama Dian itu tetap membawa makanan 2 kali sehari tapi menolak bicara jika Toni kasar.
Malam harinya, saat Dian membawa makanan, Toni memutuskan bicara dengan sopan.
“Gue yang minta maap udah ngerepotin elu. Tenang aja, kerugian lo gue ganti.” diulurkannya uang 200 ribu. Uang hasil copet terakhirnya. “Gue lagi stres, pacar gue dicuri temen gue, padahal pacar gue itu baik”
Dian menyahut lirih : “Orang baik itu tidak tidak mencuri dan tidak tercuri”
Toni marah : “Tidak tercuri???.. Lo pikir barang hah???!!”
Dian menyahut : “Lah kalau barang aja gak mau digituin apalagi manusia yang punya fikir”
Toni makin marah : “Tau apa Lo soal perasaan? pernah Lo pacaran? Ada yang mau sama Lo?  Dia tuh cuma mau bikin gue cemburu, gue akan rebut dia lagi meski dituker nyawa. Tau Lo”
Dian tak takut : “Pacar yang keren tuh bukan yang bikin cemburu, tapi yang bikin orang lain cemburu liat kalian berdua, lagian kalau sudah dewasa, mainnya bukan, “kalau aku gini, kamu cemburu gak? tapi kalau aku gini, cita-cita kita lebih cepet kesampai gak?”
“arrhhhhhh” Toni bangkit, ingin rasanya Toni memukul Dian, tapi urung, dia menendang pintu, lalu lari sekencang-kencangnya.
       
Setahun setelah malam itu, Toni kembali menemui Dian, dia sudah jadi sopir truk. Sudah mengontrak kamar. Dan ingin menikahi Dian.
       
“Yang ini ada minyak ikannya Yah”, ” Yang ini kandungan besi nya lebih banyak pasti Eka nanti makin kuat, otot kawat balung besi” Dian mengangkat kedua lengannya, mereka tertawa-tawa.
       
Uang mereka hanya cukup membeli 1 kotak makanan pendamping asi, dan 1 minyak telon.  Antrian di kasir panjang.
       
Dian

Dian mengamati Toni yang memegang belanjaan mereka. Sudah  2 tahun mereka menikah, cukup untuk mengenal, bahwa dibalik penampilannya yang menakutkan, Toni itu orang yang bisa sabar sesabar-sabarnya, bisa lembut, tapi akan tegas di waktu yang diperlukan. Dian berdoa semoga umurnya cukup panjang untuk mengurus dua laki-laki dalam hidupnya itu.

 

“Silahkan Bu” kasir di depannya tampak tersenyum melihat pemandangan tak biasa. Seorang laki-laki kurus penuh tato, melamun memandang kotak makanan, sembari menggandeng perempuan cacat yang  menggendong bayi lelap.

 

 

10 menit

Aktifitas apa ya yang bisa disisipkan di sela-sela rutinitas agar semangat jadi terdongkrak lagi?
pertanyaan itu dari saya yang pembosan, untuk saya yang jadi cranky kalau sudah bosan :)).
setelah memperhatikan diri sendiri, 10 cara ini , cukup dilakukan selama 10 menit saja, ampuh jadi mood booster saya.

1.beribadah
Banyak penelitian sudah membuktikan bahwa berdoa, berbagi, berbuat baik bisa meningkatkan kesehatan mental. Jadi masuk akal juga ya kalau menjaga kesehatan fisik akan lebih mudah dilakukan jika kita bisa menjaga kesehatan mental dan mengelola stress

2.yoga
Saya awalnya sempat under estimate dengan olahraga ‘lambat’ ini :D, karena saya tipe yang suka olahraga heboh seperti zumba, berenang, bersepeda. Tapi seorang teman menantang saya coba mengikuti yoga ‘popsugar’, ok, mulai workout 5menit saja dulu..saya…BERKERINGAT :)).. lalu 10 menit dan 30 menit. Yoga menyenangkan

3.memasak
Sekarang ada banyak resep masakan yang cuma butuh hitungan menit sudah jadi ya, contoh saja urbancook, diy food, dapurpemula dll. Nah, setelah makanan masak dijamin pikiran segar, perutpun kenyang 😀

4.membaca
Saya suka twitter, karena beritanya pendek tapi uptodate :). Sebisa mungkin juga saya membaca hal positif, seperti goodnewsfromindonesia.org, juga yang lucu-lucu seperti 9gag. Banyak senyum dan optimis itu bikin manis dan sehat kan 😉

5.bertemu teman
Saling bertemu muka, ngobrol di group wa atau medsos tidak masuk hitungan ya. Asal jangan jadi ajang gosip, ini ajaib efeknya, meski ngobrolnya juga hal-hal tidak penting 😀

6.menyiram kebun

anggrek-lemon
Hati jadi ringan begitu memperhatikan bahwa apa yang saya tanam akhirnya tumbuh. Apalagi kalau melihat ada capung yang jadi indikator air&lingkungan bersih terbang di antara bunga-bunga ditemani kupu-kupu, duh tukang kebun in action pokonya 😀

7.musik
Coba deh karaoke nyanyi dengan mengikuti gaya penyanyi asli, misal gaya candil nyanyi “rocker juga manusiaaaaaa”. Wih seru :))

8.main game
Saya suka main game di hp. Tapi sekarang sedang suka bermain wii, wii sports, asik juga di cuaca yang sering hujan serasa bisa tetap olahraga indoor 😀

9.menulis
Saya suka menuliskan apa yang saya rasa dalam satu hari. Kalau hari sedang jelek saya akan tulis di kertas lalu setelah puas, saya robek2 saya buang tempat sampah :)). Kalau hari saya baik atau ada ide-ide, saya akan menuliskannya di jurnal harian saya. Intinya yang sudah dilewati jangan jadi beban & pikiran.

10.melakukan hal yang sama sekali baru
Saya sedang suka belajar bahasa mandarin, meski banyak orang menyarankan betapa tidak mungkinnya saya bisa menguasainya tapi saya suka berusaha menjejalkan kata2 baru yang susah itu dalam ingatan saya :D. Saya juga sedang mencoba kebalikan beberapa hal, misal biasanya suka baca tentang pengembangan diri, sekarang sayapun baca tentang robotik, biasanya tentang fashion sekarang tentang hutan :D. Ada perspektif lain yang saya dapat.

Nah itu 10 dari saya. Semoga anda punya 11, 100, 200 aktifitas yang bisa membuat anda 11, 10, 200 kali lipat semangat 😀

Selamat beraktifitas.

JALAN

jalan-jalan

Hari ini ada demo di Jakarta, teman-teman pekerja saling berbagi info menghindari macet.
Minggu ini juga ada diskon besar dari airways ternama, teman-teman sayapun ada yang buru-buru memanfaatkannya traveling.
Saya jadi punya pemikiran sederhana, hidup ini seperti perjalanan ya.
Bukan tentang berpindah tempatnya, tapi tentang menghadapi.
Kalau ada masalah, cari jalan keluar, biasanya makin banyak wawasan, makin mudah milih solusi.
Kalau ada kesempatan baik, siapa yang punya persiapan, dia yang bisa menikmati.

Suatu saat, selama di perjalanan kita beristirahat, lalu jadi sempat memperhatikan orang lain, ndak perlu merasa iri dengan kelebihannya, karena kita tidak tau jalur mana saja yang sudah susah payah dilaluinya. Tidak perlu juga merasa punya kelebihan. Ikuti nurani saja : tawarkan bantuan kepada yang kira-kira membutuhkan dan ‘bela yang benar bukan yang lemah’.

Menurut penelitian, manusia sudah ada sejak 1 juta tahun yang lalu, jadi kita-kita yang ada sekarang ini adalah manusia yang sudah bertahan melewati berbagai evolusi. Jelasnya kita adalah manusia yang berharga dan mulia, jadi ndak usahlah melakukan hal yang menurunkan nilai kita itu. 🙂

Yap, hidup punya berbagai sisi, selain nurani, kita butuh agama sebagai serangkaian aturan. Tanpa berpegang agama, saya rasa seseorang tidak akan kuat menjalani hidup kan ?

Ada beberapa orang yang punya kemampuan untuk menemukan jalur yang baik, jadi pemimpin. Tujuan hidup kita bisa saja sama dengan pemimpin dan banyak orang. Tapi karena kendaraan dan barang bawaan kita tidak sama, kita butuh pendidikan agar kita bisa mengumpulkan informasi untuk meghadapi jalur. Pendidikan jadi jauh lebih luas dari sekedar untuk ekonomi, gelar mempersiapkan tenaga kerja. Pendidikan = proses terus belajar jadi lebih baik.

Tapiiiiii :), sebaik apapun kita mempersiapkan perjalanan, pemilik semua adalah Allah SWT, kalau ada kejadian kendaraan mogok, sopir sakit, penumpang rewel, jalan rusak, kita kembalikan saja : “Hidup adalah petualangan penuh kejutan, dinikmati saja, tidak perlu dimengerti “. 🙂  Salam jalan-jalan

 

#catatan kecil ini sepenuhnya reminder untuk wigati

Posisi

Masih ingat dengan jargon “posisi menentukan prestasi” saat sekolah dulu?..ya itu diartikan dengan posisi aman untuk menyontek ya :D. Pengalaman lugu dan menyenangkan itu kami bicarakan lagi tadi sore. Kami, maksudnya saya dan dua teman lama saya.

Setelah cerita-cerita flashback, kamipun lalu membahas pencapaian kami saat ini. Satu teman sudah ada di posisi yang tinggi dan tidak pernah dia bayangkan akan capai sebelumnya, sedangkan satu teman yang lain bercerita bahwa dia ada di posisi yang berubah sama sekali dari yang dia inginkan awalnya.

Saya percaya, ‘teman tinggi ini’ mencapai posisinya sekarang bukan hanya berdasar keberuntungan momen yang pas, tapi karena dia siap, dia terus meningkatkan kualitasnya sehingga ketika sewaktu-waktu pintu kesempatan terbuka, dia bisa masuk ke arena persaingan dan memenangkannya.

Sedangkan bagi ‘teman yang berubah posisi’, saya percaya selama dia tahu tujuannya dia akan bisa mencapai cita-citanya, meski harus melalui jalan berputar dan memakan waktu.

Apakah  ‘teman tinggi’ lebih baik daripada ‘teman yang berubah posisi’? Apakah lebih sukses?

Saat ini sekilas mungkin iya, tapi menurut saya tidak untuk seterusnya, karena ciri orang sukses adalah tahu bagaimana menyusun prioritas dalam hidupnya. Jika sekarang harus berubah posisi, mundur atau bergeser?! tidak mengapa, selama itu nanti akan membuatnya melompat lebih tinggi.

Maka kesimpulannya, jangan sampai tersesat! Tau tujuan itu penting, sepenting tau, dimana posisi kita sekarang.

Selamat melompat lebih tinggi 🙂

Ketika Tidak Bisa Memilih 1 Diantara 3

IMG-20160720-WA0010

Saya punya 3 buku yang alhamdulillah baru selesai saya baca \(^.^)/, saya terkesan, dan ingin mencatatnya, semoga jadi manfaat juga untuk yang kebetulan membaca nya disini.
Sebenarnya buku-bukunya merupakan buku yang sudah lama terbit, tapi nilainya menurut saya akan selalu relevan, ada Bakat Bukan Takdir, Passion 2 performance, dan 5 Guru Kecilku.

Passion 2 performance, dari Rene SUhardono, tebalnya sekitar 360 halaman, tapi tidak terasa tebal atau membosankan karena layoutnya oke, kreatif :), isinya tentang penegasan Rene bahwa passion adalah aktivitas yang membuat kita merasa berdaya dan menghasilkan karya. Passion bukan sekedar hobi tapi justru salah satu unsur karir. Karir bukanlah jabatan tapi perjalanan yang berisi passion, value, tujuan hidup dan kebahagiaan. Jika seseorang sudah mempunyai passion maka perfomance/kinerjanya akan bagus, Rene membuktikannya di buku ini dengan melakukan survey ke 11 industri, yang mewakili bidang yang berbeda, ternyata hasilnya sama, bagi pekerja : perlu untuk perduli & menggali passion pribadi agar bisa menemukan karir yang tepat.
Sedang bagi perusahaan, perlu diperhatikan hal-hal yang harus dikondisikan dalam perusahaan agar pekerja bisa meningkat kinerjanya, pada akhirnya, makin besar rasa ikut memiliki perusahaan & berpikir seperti owner, makin baik kinerja mereka bagi perusahaan.
Menarik ya, saya jadi punya kesimpulan bekerja bukan lagi sekedar cara mencari gaji lalu menghabiskannya untuk membayar tagihan ini itu. 🙂

5 guru kecilku, Kiki Barkiah, sudah ada 2 jilid, menjadi buku unik, karena menceritakan sebuah keluarga muslim, dengan 5 orang anak, yang rentang usia yang dekat. Beliau-beliau ini muslim taat yang pindah dari Indonesia ke Amerika mengikuti sang Bapak yang bekerja disana. Karena perbedaan kultur dan biaya sekolah islam yang mahal, maka Bapak dan Umi memutuskan menjalani homeschooling untuk 4 anak yang sudah masuk usia sekolah. Kumpulan cerita pendek didalamnya sangatlah sehari-hari, tapi sang Umi, yang berhasil mengambil hikmah di setiap kejadiannya, membuat pembaca seperti berkaca lalu membandingkan diri. Ada berbagai sisi yang diceritakan, misal,
-betapa peran Bapak sangatlah penting untuk mendukung Umi tetap konsisten menjalankan homeschooling dan bersabar mendidik anak-anak,
-betapa keluarga adalah team yang saling mendukung, karena menurut beliau kesuksesan sebuah keluarga adalah saat mampu berkumpul kembali di surga di kedudukan yang istimewa,
-ada juga sisi tentang kekhawatiran sang Umi untuk menghadapi masa janda, tapi dengan keyakinan bahwa Allah punya berbagai jalan rezeki, gaji suami hanya salah satunya, maka keinginan Umi untuk ikut bekerja diurungkan agar mampu fokus mendidik anak-anak
-betapa pendidikan agama sangatlah berperan penting untuk membatasi dan menjaga anak, benih jiwa yang kelak diharapkan tumbuh baik dan sukses.
-dan ada list link dan ide permainan untuk anak-anak mengisi homeschooling
Buku ini perlu dibaca oleh seluruh ibu muslim, terutama yang cengeng seperti saya *shy*, pelajaran baik dari sesama ibu yang selalu mendoakan keselamatan anak-anaknya.

Bakat Bukan Takdir, Bukik Setiawan & Andrie Firdaus, rasanya lebih merupakan buku pintar untuk orangtua, karena ditulis oleh praktisi psikologi :). Didalamnya Bukik dan Andrie menjelaskan bahwa bakat anak adalah passion, dan berdasar usia dan kematangan, anak mempunyai 4 fase pengembangan bakat.
-usia 0-7 tahun, fase eksplora (stimulasi, kenali, refleksi)
-usia 7 – 13 tahun, fase belajar mendalam (tanamkan gemar belajar)
-usia diatas 13 tahun, fase arah karir (menampilkan hasil belajar)
-usia diatas 18, fase karir(mendapatkan pengakuan dari masyarakat atas bakatnya)
Anak-anak bukanlah kertas kosong, tapi mereka adalah bibit, dan jika diibaratkan telur, maka peran orangtua adalah mengerami, menstimulusnya bukan mendesak dan memecahkannya dengan tekanan dari luar. Ada berbagai macam kecerdasan anak(kecerdasan majemuk), maka jika kita yang hidup di era industri, pola pendidikannya harus berubah mengikuti kebutuhan pendidikan anak kita di zaman kreatif sekarang ini. Maka orangtua, kedudukannya bukan pembayar jasa guru, tapi rekanan guru. Dan tugas orangtua bukan menanam, tapi menumbuhkan anak.
Buku ini membuka wawasan saya, bahwa anak mendapat benang merah dari sekolah, benang biru dari tempat les, benang kuning dari teman, benang hijau dari buku, media, internet, peran orangtua untuk membantu anak merajut benang pengetahuan itu jadi kain kearifan yang indah 🙂

Itu sekilas review saya atas 3 buku tersebut, ujung-ujungnya kesimpulannya saya perlu terus upgrade diri dengan membaca. Salam membaca teman-teman 🙂

Panjang Sumbu

IMG_20160405_101506
Dari jauh, eyang Leli, teman saya di posyandu lansia, sudah sumringah melambaikan tangan. Saya balas sumringah mendekat. “Katanya ulang tahun ya jeng, semoga panjang sumbu dan berkah ya”.
Saya tersenyum lebar, saya yakin eyang mengatakan “semoga panjang umur”, telinga saya saja yang ndak bener :).
Tapi setelah dipikir-pikir, memang iya, semoga saya panjang sumbu, tidak gampang tersinggung, tidak gampang meledak-ledak.
Karena terasanya sih saya masih sering dikit-dikit baper sama sikap orang lain, hal-hal yang tidak bermasalah harusnya, kalau tidak saya masukkan hati. Jadi kalaupun terpaksa harus terbakar semoga saya jadi kembang api saja, memperindah yang gelap 😀
Di umur ini saya sadar bahwa manusia itu ‘berubah’, ‘bergerak’, dan ‘tumbuh’. Makin dewasa makin banyak tanggung jawab, makanya harus punya kemampuan memudahkan yang rumit. Tapi disamping bertambah tua & bertambah ‘beban’, sebenarnya semakin bertambah juga peluang untuk jadi makin baik & makin sukses. Iya kan?
Maka sambil mengamini doa eyang, saya juga berdoa semoga Allah berkenan menjadikan saya manusia yang pandai bersyukur dan cerdas. Aamiin.
Saya pun mendoakan anda, saya yakin semakin banyak dikelilingi orang baik seperti anda, saya akan terikut baik. Selamat hari baik teman-teman 🙂

Semoga Kita Bahagia

Saya sedang sibuk mencuci piring, ketika tv di ruang sebelah lamat-lamat terdengar suara seorang perempuan sedang berorasi, ditimpali tepuk tangan riuh penontonnya. Saya bukan komunikator verbal yang baik, saya merasa lebih bisa berkomunikasi lewat tulisan, jadi kalau ada seseorang yang bisa berbicara menyampaikan pemikirannya dengan bahasa runut & sederhana, apalagi kalau beliau perempuan..saya pasti akan menyimak..pasti 🙂

Saya buru-buru mendekat, ternyata acara ini berisi potongan-potongan wawancara perempuan yang berpengaruh di Indonesia :

Pertanyaan : “Ibu dulu model sebelum menikah?”
Jawab : “(tertawa) iya waktu masih muda, sekarang kegiatan utama saya jadi banyak membaca, banyak wawasan, agar kalau bicara dengan bapak atau teman-teman, meski cuma celetukan, bisa nyambung. Kalau tidak bisa mengikuti nanti saya ketinggalan di belakang kan, lama-lama nanti hilang (tertawa), bapak berkembang, saya juga berkembang.”

Pikiran saya sibuk mencerna, dibalik kata-kata ibu cantik yang terlihat riang itu sebenarnya maknanya dalam.
Iklan. Saya tidak sempat membaca nama si ibu cantik. Sudah ganti narasumber. 😦

P : “Waktu Bapak dapat beasiswa ke Korea ibu bekerja disana?”
J : “Iya, Bapak itu organisator sejati, karena tunjangan beasiswa tidak cukup untuk hidup sehari-hari dan Bapak banyak berurusan organisasi disana, jadi saya merasa perlu bekerja, pekerjaan pencuci piring restoran juga saya jalani. Alhamdulillah hidup kami cukup.”

P : “Berarti benar ya Bu, dibelakang setiap laki-laki sukses ada perempuan hebat?”
J : “Ada ibu dan istri ya perempuannya, kalau ibu pasti didikan ibu yang hebat, kalau istri..saya rasa terlalu berlebihan ya kalau dibilang hebat, saya percaya bapak punya kemampuan hebat, yang beliau perlukan itu istri yang bahagia, jadi kalau beliau di rumah tenang, ditinggal bekerja juga fokus.”

Saya terpesona, si ibu terlihat jutaan kali lipat lebih cantik dari miss universe, hanya dengan beberapa potong kalimat. Saya amati wajahnya, cara berbicaranya, teduh bukan main. Dan yak, saking fokusnya, saya lewatkan lagi footnote nama beliau. Iklan lagi. Ganti narasumber. 😦

P : “Menurut cerita, sejak dari kecil ibu memang selalu jadi pemimpin, apakah ini bakat?”
J : “Saya rasa, kalau dilihat dari pintar atau bakat, saya tidak ada apa-apanya dibanding yang lain. Di bisnis atau di jabatan ini, saya cuma lebih tahan banting, lebih ngotot atau bahkan mungkin terobsesi (tertawa) dengan tujuan-tujuan saya.”

Luar biasa, tau-tau acara sudah berakhir, dan tangan saya panas akibat belum cuci tangan dengan benar sepertinya :D, tapi pikiran saya seperti sudah bersih tercuci kesimpulan baru.

Untuk menjadikan suami sukses, jadilah istri bahagia.
Untuk jadi perempuan sukses, jadilah lebih tahan banting.
Itu saja, insyaallah. 🙂

Previous Older Entries