Mainan Surga

Mamad sudah sedari jam 6 tadi duduk di serambi. Hari ini Mas Kusno akan menjemputnya untuk pergi ke sebuah acara. Mamad sendiri tak paham acara apa, kata Titin, kakaknya, mereka akan pergi ke acara Santunan Anak Yatim di rumah seorang pejabat.
Mamad = “Ayo mbak…sebentar lagi mas Kusno datang loh, katanya jam 1/2 9 harus siap, nanti kita ditinggal”
Titin = “Sabar Mad, ini masih jam 8..mbak siapin dulu singkong buat Bapak, kalau pulang nanti biar ada makanan”
 
Mamad beranjak ke sudut rumah, ada potongan kaca disana, dia mematut-matut baju kokonya, meski yang terlihat di kaca hanya separuh wajahnya. Titin tengadah melihat adiknya yang sumringah, di 6 tahun hidupnya, baru kali ini dia akan naik mobil berkursi, maksudnya nanti di mobil dia akan duduk di kursi, dulu waktu Bapak masih jadi kuli angkut di pasar dan Titin masih sekolah, memang Bapak sesekali mengajak Mamad naik mobil pickup sayur, tapi itu sudah lama sekali dan duduknya di atas sayur bukan di kursi.
 
Pantas saja kini adiknya itu semangat sekali, dari kemarin-kemarin, saat mas Kusno datang dan memberitahu mereka acara ini, Mamad langsung mencari pinjaman baju koko. Hari ini dia juga sudah mandi pagi-pagi dan membantunya membersihkan rumah. Iya, mereka harus mandiri, Bapak tidak sempat mehgurus rumah dari triplek ini, pagi beliau jualan mainan anak, dan malamnya menjadi tukang parkir. Ibunya ? “Ibuk mu dulu pergi karena gak tahan miskin” begitu yang Titin dengar dari si Mbah, neneknya, waktu mengurus Mamad yang masih bayi, sekarang si Mbah juga sudah pergi, meninggal.
 
“Mbakkkkk..ayooo, yang lain sudah pada naik ke mobil” teriakan Mamad dari serambi menyadarkan Titin.
Titin buru-buru menutup pintu rumah dan menyusul Mamad, yang sudah duduk sambil berteriak senang “Sini mbak, deket jendela”. Di mobil itu ada sekitar 20 anak, udara yang panas pengap tidak menyurutkan mereka untuk riuh rendah sepanjang jalan. Titin menatap adiknya, Mamad tidak tertarik untuk ikut becanda, Mamad juga tidak tertarik dengan iming-iming bahwa nanti mereka akan mendapatkan bingkisan, gudibeg katanya namanya, isinya tas, kaos, buku, alat sekolah dan uang, matanya lekat menatap gedung dan jalanan.
 
Ketika mereka sampai di tempat acara, ternyata merekalah yang pertama datang. Titin terperangah melihat tempat itu, Mamad yang memegang lengan Titin langsung berteriak “waduhhhhh…besar sekali….ini rumahnya siapa mbak?..pasti banyak orangnya ya mbak”
“Sssttt malu..jangan teriak-teriak, sudah duduk dulu disini” Titin mendekap mulut adiknya.
Tidak lama, mas Kusno memanggil Titin, menyuruhnya bantu-bantu pemilik rumah di dapur, Titin menurut saja, apalagi mas Kusno memberinya uang 10ribu.
“Mad, kamu disini ya, hafalkan lagu sholawat seperti yang disuruh, nanti harus nyanyi bareng-bareng, mbak disuruh bantu dapur dulu”. Mamad yang diwanti-wanti menyeringai sambil mengangguk-angguk.
Acara di rumah itu meriah luar biasa, ada pengajian, ada nyanyian, ada sambutan dari pejabat-pejabat, ada banyak lampu, kata orang-orang, acara ini diliput TV. Penghujung acara adalah pembagian bingkisan untuk anak-anak kemudian makan siang. Titin lega sekali ketika akhirnya bisa kembali ke tempat duduk kumpulan anak-anak dari kampungnya.
“Mbak…sini sini” Mamad melambaikan tangan saat melihatnya.
“Kamu sudah selesai makan?” tanya Titin melihat ke arah piring mamad yang kosong, licin
“Sudah..kenyang..aku malah bawain Bapak ayam goreng sama bistik katanya nih mbak” Mamad merogoh kantong baju kokonya dan mengeluarkan bungkusan tissue.
Titin tersenyum, pantas saja sakunya jadi kotor pikirnya.
“Mbak, aku tadi kan masuk kedalam rumah situ…mainan didalamnya banyakkkkk sekali mbak, ada perosotan, ada ayunan..iya, didalam rumah loh mbak.. warna warni, ada mobil-mobilan tapi besar, ada pesawat-pesawatan, ada robot…duh mbak, serasa di surga”
Titin tertawa sambil mendorong kening adiknya “Kayak pernah ke surga aja”.
“Nanti uangnya bisa buat beli mainan itu ya mbak?”..Titin belum sempat menjawab, mas Kusno memanggilnya lagi, piring-piring perlu dibersihkan.
 
Acara selesai. Titin mengangkuti piring-piring itu sampai ke dekat tempat sampah. Miris sekali hatinya melihat tumpukan sisa makanan di piring-piring itu, seandainya dia bisa membawakan ayahnya sepiring utuh saja. Tapi buru-buru diselesaikannya pekerjaannya, hujan sudah turun.
 
“Nah, sudah sampai…ayo turun semua..uang kalian dititipkan di mas Kusno tadi kan..ini ambil satu-satu…kalian 20 ribuan, sisanya mas Kusno ambil buat beli bensin” Mas Kusno membagikan uang saat mereka sudah sampai di kampung. Titin hendak protes, bukannya tadi Bapak yang punya acara bilang, ada 50ribu untuk masing-masing anak, tapi Mamad membuatnya sibuk, menyampirkan baju dan gudibegnya sekenanya ke pundak Titin, lalu menyusul teman-temannya berlarian menonton tivi di warung ujung jalan.
 
Mas Kusno juga sudah buru-buru pergi, Titin gontai melangkah ke rumah, merasa dibohongi.
Sampai di dalam rumah, dilihatnya Bapaknya duduk santai menyantap singkong rebus. Senyumnya lepas saat melihat Titin.
“Sini nak…ini..nah kamu mau sekolah lagi kan? Bapak dapat pekerjaan jadi satpam pabrik lho” kata Bapak tak sabar sambil mengangsurkan baju seragam merah putih untuk Titin.
 
Lamat-lamat didengarnya tivi dari warung, rupanya sedang ada liputan demo, seperti yang rutin terjadi akhir-akhir ini.
“Tidak perlu berubah jadi superhero untuk jadi pahlawan..lihat Kartini..lihat Gie..lihat Munir…pemberi harapan kemerdekaan, harapan pendidikan..dan sekarang lihat 238juta rakyat negeri ini..lihatttt”
Ah, bagi Titin, ayahnyalah Kartini, walau senyumnya tidak serapi dan wajahnya tidak semulus bu Kartini.

Advertisements

18 Comments (+add yours?)

  1. sunarnosahlan
    Feb 09, 2010 @ 23:06:06

    sudah tidak mencantumkan ini fiktif kan!

    Reply

    • wigati10
      Feb 10, 2010 @ 07:14:27

      😀 gak dong mas..tapi ini…kok rasanya ndak se-greget pas nulis yang kemaren, apa bener fiksi itu gak boleh terburu2 mas? harus dibaca lagi, cari sudut pandang lain, kalau perlu riset lagi?

      Reply

      • sunarnosahlan
        Feb 10, 2010 @ 10:30:27

        saya juga tak pernah puas ketika menulis cerpen, tapi selalu merasa sudah selesai, tak bisa diutak-atik lagi, atau pernah sekali saya rombak total hanya saya pakai pembukaannya saja, seperti yang barusan saya posting di Tak Ada Lagi Cinta.
        Judul yang Wigati buat bagus, membuat orang penasaran pingin tahu apa isinya. sedangkan terburu-buru atau tidak itu penulisnyalah yang lebih tahu.

      • wigati10
        Feb 10, 2010 @ 20:28:17

        hmm..pokoknya menulis sesuai hati gitu ya mas. Tapi cara menyampaikannya yang memang harus terus belajar..

  2. nurhayadi
    Feb 10, 2010 @ 05:26:34

    Cerita tentang korupsi kecil-kecilan ya…itu dari sudut pandangku

    Reply

    • wigati10
      Feb 10, 2010 @ 07:20:04

      ooo gitu ya kesimpulannya mas? :), saya sebenernya pengen cerita tentang semangat, seterpuruk apapun, jangan menyerah.

      Reply

  3. Didien®
    Feb 10, 2010 @ 18:39:37

    kadang² orang² yg suka berbuat curang itu tidak pernah melihat orang lain yg seperjuangan..artinya sama² repot, sama² kerja tp hasilnya di tilep juga..masyaAllah…kejam sekali tuh orang yah
    kunjungan sore hari utk bersilaturrahmi

    salam, ^_^

    Reply

    • wigati10
      Feb 10, 2010 @ 20:31:07

      iya mas, bikin ‘panas’, tapi kalau ingat Yang Kuasa pasti Maha Adil, sejuk lagi ya..salam semangat d^_^

      Reply

  4. Caride™
    Feb 10, 2010 @ 18:41:55

    judul yg unik “mainan surga”
    dalam bayangan saya orang yg mainan surga berarti tidak menginginkan surga :mrgreen:

    Reply

    • wigati10
      Feb 10, 2010 @ 20:33:09

      bisa mas, berarti tokoh nya Mas Kusno+ibunya Titin ya…seneng saya lihat orang bisa beda-beda kesimpulan habis baca 🙂

      Reply

  5. d-Gadget™
    Feb 10, 2010 @ 18:43:02

    banyak pejabat sekarang yg selalu menyebut dirinya pahlawan, tp faktanya tidak ada? hahahaha geli aku

    Reply

    • wigati10
      Feb 10, 2010 @ 20:38:18

      mungkin ada yang benar pahlawan sih ya mas, dan harusnya itu yang ada di media massa, biar gak kayak sekarang, bikin ‘panas’ aja bisanya 🙂

      Reply

  6. zarod
    Feb 10, 2010 @ 23:56:22

    Mainan surga = mendekatkan surga kepada anak anak yang identik dengan mainan dan kesenangan… 🙂

    Reply

  7. JhezeR
    Feb 11, 2010 @ 00:34:22

    Salam kenal…
    cerita yg menarik

    keep share 🙂

    Reply

  8. darahbiroe
    Feb 16, 2010 @ 13:03:10

    wah cerita yang kreatif dan inspiratif nuyy makasihh yaw mbakk kerennn

    berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya lagi heh maksih 😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: