Berpulang

Melayat atau bahkan hanya mendengar kabar meninggalnya seseorang pasti mengingatkan batas umur kita sendiri, walau mungkin kesannya bisa berbeda di tiap peristiwanya.
Seperti seorang teman yang bercerita anak tetangganya yang masih balita meninggal terlindas mobil tetangga yang lain tanpa sengaja, tentu mengingatkan kita, betapa kapan ajal menjemput kita sepenuhnya kuasa Allah.
Atau cerita tetangga tentang kerabatnya yang terkenal baik&dermawan harus menghadapi sakaratul maut yang sulit, tapi pembantunya yang hampir bersamaan waktu meninggalnya justru mudah sekali prosesnya, Allah Maha Berkehendak atas cara kita meninggal.
Tapi satu lagi pelajaran dari ‘berpulang’ yang saya dapat adalah pagi tadi, saat nenek sepupu canggah saya(saudara kandung dari ibunya nenek saya langsung) meninggal dunia dalam usia yang sangat sepuh/tua, sepupu2 saya yang terkejut serentak mengabari, padahal di tingkat kami, cicitnya, bisa dihitung jari kapan kami bertemu beliau.
Yang tidak kalah terkejut adalah nenek saya, walaupun beliau pasti tahu umur nenek canggah mungkin tidak lama lagi, ini karena nenek canggah tampak fit dan care terhadap kabar cucu cicitnya bahkan sampai saat terakhirnya. Dari suara nenek yang ditegar-tegarkan saat menerima telp saya, tergambar jelas kehilangan itu, saya jadi sadar, sampai umur berapapun, dengan persiapan apapun, seorang anak akan tetap merasa kehilangan saat orangtuanya berpulang ke tempatNya…sedih tapi tak terelakkan…
Mudah-mudahan Allah menjadikan akhir hidup kita husnul khatimah

Advertisements

22 Comments (+add yours?)

  1. Oyen
    Feb 26, 2010 @ 21:07:10

    pernah baca salah satu kisah di La Tahzan..

    diceritakan ada seorang ibu yang sangat khawatir ketika anaknya akan pergi dengan pesawat, karena cuaca yang sangat mengkhawatirkan. Saat itu sang anak tidur dan pesan ke ibu untuk membangunkan dia menjelang jadwal keberangkatan. Karena di dorong kekhawatiran yang sangat akhirnya sang ibu sengaja tidak membangunkannya berharap dia ketinggalan pesawat dan tidak terjebak cuaca buruk. Setelah jadwal terlewat, si ibu berusaha membangunkan anaknya, tapi apa yang terjadi….si anak sudah tak bisa bangun lagi…

    Yah, hal yang paling dekat dengan manusia di dunia ini adalah ajal, siapkah kita menjemputnya?

    Reply

    • wigati10
      Feb 27, 2010 @ 08:17:52

      aduh oyen, biasa ngobrol hahahehe, ngobrol serius gini kok jd merinding sendiri..tmksh share nya…

      Reply

  2. nurhayadi
    Feb 26, 2010 @ 21:27:39

    Barusan ol di ym ternyata ada postingan baru ya. Sayangnya nggak sempat chat, keburu wigati off. Kematian adalah sesuatu yg pasti, hanya Allahlah yang tahu waktunya, dan sesungguhnya ia sangat dekat dengan kita.

    Reply

  3. BiJe
    Feb 26, 2010 @ 22:59:49

    Kehidupan berlangsung tanpa disadari dari detik ke detik. aku masih tak menyadari bahwa hari-hari yang dilewati justru semakin mendekatkan kepada kematian sebagaimana yang di ceritakan di atas 😦 . Moga kita mati dalam keadaan khusnul khotimah…

    Reply

    • wigati10
      Feb 27, 2010 @ 08:19:29

      iya, saya seringnya juga merasa gitu mas, merasa ‘muda’, masih ‘jauh’ dari mati 😦 ..amin ya robbal alamin..

      Reply

  4. fai_cong
    Feb 27, 2010 @ 01:30:43

    doa imam Al-Ghozali.
    ” Ya Allah.. tetapkanlah hati kami dalam agamaMu”

    Reply

  5. didot
    Feb 27, 2010 @ 07:36:25

    hidup jadi berharga karena adanya kematian,maka bersyukurlah atas setiap waktu yg kita jalani dalam kehidupan yg hanya sementara ini:)

    Reply

  6. Rafi
    Feb 27, 2010 @ 11:49:10

    Gak salah kalo guru ngaji Saya mengajarkan kejarlah bekal Akhiratmu, InsyaAllah Dunia akan mengejarmu. tp jika sebaliknya. Maka tunggulah AzabNYA yg sangat pedih

    Reply

  7. sunarnosahlan
    Feb 27, 2010 @ 14:42:51

    bagaimana dan kapan orang itu akan meninggal memang kita tak tahu, ketika ayah kami meninggal, tak ada satu orangpun yang menduga di pagi hari ibu kami sudah pergi ke pasar, kami anak-anaknya siap-siap berangkat sekolah dan kemudian tidak jadi sekolah karena ayah kami kita temukan sedang sakaratul maut, peristiwa puluhan tahun yang lalu

    Reply

  8. ario saja
    Feb 28, 2010 @ 00:18:59

    duh, jadi ingat betapa pendeknya umur kita di dunia

    Reply

  9. sundacamp.com
    Feb 28, 2010 @ 01:55:02

    “Mudah-mudahan Allah menjadikan akhir hidup kita husnul khatimah ”
    amin teteh… mudah2an kedah kitu… urang sarerea kudu inget kana maot… amih tiasa ningkatkeun ka takwaan urang….

    Reply

    • wigati10
      Feb 28, 2010 @ 10:04:33

      sumuhun akang/teteh..hidup kan ternyata cepat berlalu(bagian ini udah gak ingat bahasa sundanya πŸ˜€ )

      Reply

  10. kank_ripay
    Feb 28, 2010 @ 01:59:31

    ya… kita memang harus mengingat mati…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: