Anak Panda dan Monster Belalang

   Anak Panda sedang suka menyusuri aliran sungai, jernihnya membuat dia bisa melihat banyak hal : hewan, tumbuhan, bahkan batu-batu berbentuk unik yang ada di dalam sungai. Tapi kemarin dia menemukan hal baru, di belakang pagar kantor hutan ada pipa-pipa yang terjulur ke sungai, Anak Panda mencari pangkal menyusuri asal pipa itu tapi hari keburu sore, jadi dia harus pulang meski belum menemukannya.
   
   Pagi ini Anak Panda ingin kembali melihat pipa-pipa itu lagi, dia buru-buru menghabiskan sarapannya, Ibu Panda keheranan tapi belum sempat bertanya, Anak Panda sudah berlari pamit bermain, untung Ibu Panda sempat menyuapkan sesendok madu tadi, berkurang sedikit khawatirnya.
Anak Panda sedang berusaha melongok ke sambungan pipa waktu dilihatnya ada seekor hewan sedang berjalan menggotong daun.
Anak Panda berteriak menyapa = “Hai..hai..halo…aku anak panda”
Hewan sedang menggotong daun = “Halo juga…aku anak musang”
Anak Panda = “Ooohhh iya..iya..aku ingat kau memang musang”
Anak Musang terbengong-bengong = “???? maksudmu? ”
Anak Panda = “Iya..Aku pernah lihat fotomu di majalah dinding di kantor hutan, kau hewan tukang bikin kopi kan?”
Anak Musang hanya tertawa = “Hahaha..Eh aku pulang dulu ya, aku ditunggu ibuku”
Anak Panda melompat penasaran = “Boleh aku ikut? sini aku bawakan daunmu” Anak Panda bertanya begitu sambil mengambil daun bawaan Anak Musang dan berjalan mendahului Anak Musang yang terbengong-bengong melihat gaya Anak Panda yang bersemangat
Anak Panda = “Ayo”
Anak Musang berlari menyusul.
   
   Sepanjang jalan Anak Musang banyak bercerita tentang caranya membuat kopi, dia juga bercerita soal ibunya.
Anak Musang = “..ibuku dan musang betina lainnya, adalah hewan paling berani, beliau akan bertarung melawan hewan lain, bahkan serigala sekalipun untuk melindungi anak-anaknya..”
Anak Panda senang sekali mendengarkan cerita-cerita Anak Musang, sesampai di rumah musang pun, Anak Panda makin senang, keluarga musang adalah hewan-hewan yang ramah.
“Mau minum Anak Panda?” Ibu Musang mengangsurkan segelas air putih…ahhh Anak Panda jadi ingat tujuannya tadi, Anak Panda lalu bercerita tentang pipa-pipa hutan pada keluarga Musang, ternyata Ayah Musang tau tentang pipa-pipa itu, dan bagian terbaiknya adalah..Ibu Musang mengijinkan mereka bermain ke sana. Tentu saja mereka segera berangkat.
   
   Setelah puas melihat-lihat, Anak Panda dan Anak Musang memutuskan masuk ke dalam pipa. Kata Ayah Musang tadi, pipa itu berasal dari pengolahan limbah air jadi air bersih di kantor hutan, berkelok-kelok lalu bermuara di sungai.
Menyenangkan sekali suasana di dalam pipa, pipa itu besar, diameternya sekitar 2 meter, hawanya sejuk dan ternyata ada banyak hewan yang tidak Anak Panda temui di tanah hutan, hidup disitu.
Sampailah mereka di sebuah percabangan, terbagi dua arah, ke kanan dan ke kiri, yang ke kiri sangat kering, berarti jalur pipa itu tidak pernah digunakan, ada juga berkas sinar dari bagian atas. Anak Musang menunjuk jalan itu “Anak Panda..yang ini mungkin atasnya bocor ya?”, Anak Panda mengangguk.
Di bawah remang sorotan sinar dari luar itu terlihat beberapa bunga kecil berwarna merah tumbuh di dasar pipa “cantik sekali, ibu pasti suka” pikir Anak Panda.
“Aku ambil bunga itu dulu ya” kata Anak Panda pada Anak Musang. Anak Panda berjalan mendekati bunga. Tapi tak disangka sebuah bayangan besar mendekat dari ujung bagian pipa yang terkena sinar.
“Arrgghhhhh” Anak Panda buru-buru berbalik.
“Ada apa?” Anak Musang yang hampir tertabrak Anak Panda, kebingungan melihat Anak Panda panik.
“Ada monsterrrrrr…lariiii…”, Anak Panda menarik tangan Anak Musang, mereka berdua cepat-cepat lari keluar dari pipa.
“Monster??? Monster apa sih?” tanya Anak Musang setelah dia bisa mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
“Besar sekali…aku belum pernah melihat hewan bentuknya seperti itu” Anak Panda menggerakkan-gerakkan tangannya berusaha menjelaskan bentuk si monster.
Setelah agak lama, Anak Panda melongok kedalam pipa lagi “Aku ingin tau itu monster apa, ayo kita masuk lagi Anak Musang”.
“Haaa…tidak tidak, kalau dia jahat bagaimana, bisa-bisa dimakannya kita” Anak Musang menggeleng.
Anak Panda berpikir = “Kita lempar batu kecil saja, kalau dia tidak bergerak berarti dia kenyang dan tidak akan memakan kita”
Anak Musang buru-buru memotong = “Kalau bergerak?”
Anak Panda = “Ya kita lari, dia kan besar, pasti tidak lebih cepat dari kita”
Anak Musang memandangi Anak Panda.
Anak Panda = “Bagaimana?”. Anak Musang mengangguk. Dan masuklah mereka ke dalam lagi.
Baru saja Anak Panda melongok di pertigaan pipa yang mereka tuju, ada suara menggema berasal dari monster itu, Anak Panda sudah menjerit “Dia makin besarrrrr”,
Anak Musang belum sempat melempar batu, Anak Panda sudah berteriak = “..Dia bergerak dan suaranya nyaring sekali..ayo…ayooo keluar” dan sekali lagi mereka berlari keluar dari pipa.
Di luar, Anak Panda sampai terlentang, kelelahan di tanah. Anak Musang membungkuk terbatuk-batuk mengatur nafas.
Tapi setelah tenang kembali, mereka cuma saling menatap, sama-sama tersenyum lalu sama-sama berkata “Ayo kita masuk lagi”.
Kali ini Anak Panda membawa kayu yang ujungnya runcing, hanya untuk berjaga-jaga kalau mereka harus membela diri.
Anak Musang berjalan di depan, kini dia bisa melihat wujud monster itu. Keringat Anak Musang menetes, nafasnya memburu. Bayangan monster di dinding pipa itu besar sekali memang. Dia memperhatikan kaki monster, antenanya, bentuk kepalanya, dan badannya yang panjang. Menakjubkan sekaligus menakutkan.
   
   Lama Anak Musang memperhatikan, sepertinya dia kenal bentuk monster itu, tanpa sadar kakinya melangkah maju. “Anak Musanggggg…Jangan mendekat” Anak Panda menjerit tertahan. Yang dipanggil justru menyilangkan jarinya dimulut, dia makin mendekat ke arah bayangan sang monster.
Sebentar kemudian Anak Musang terpingkal-pingkal menunjuk sang monster, Anak Panda ketakutan segera menghambur berusaha menutup mulut Anak Musang. “Nanti monsternya dengar, bisa dikejar kita”. Anak Musang masih saja tertawa, kini menunjuk lubang pipa tempat berkas sinar masuk. “Dia cuma Jangkrik”…”yang terkena cahaya dari sana dan dari sana”…Anak Musang makin terpingkal2, Anak Panda mendekat dan ikut tertawa, mereka tertawa sampai mengeluarkan airmata.
Anak Musang benar, itu cuma bayangan jangkrik.
 
   

   
   Jangkrik, ‘sang monster’ rupanya tadi sedang tidur, dia masih mengusap-ngusap antena nya saat mendengar suara berisik Anak Panda dan Anak Musang.
Anak Panda mendekat = “Aduhhh Jangkrik, kau tidak mendengar kami berteriak2 ketakutan setengah mati ya tadi…kenapa tidak kasih tau kalau itu cuma bayanganmu sih”
Jangkrik yang tak tau apa-apa malah berkata = “Aku bukan Jangkrik aku Belalang, lihat..telingaku ada di perut kalau Jangkrik telinganya ada di kakinya”
Anak Panda kaget, dia membayangkan susahnya punya telinga di perut. Dia jadi serba salah “Ohhhh maaf, pasti memang susah untuk mendengar ya..” Anak Panda menyesal telah menyalahkan Belalang.
Belalang = “oh aku justru bersyukur, serangga lain hampir semuanya terlahir bisu dan tuli”
   
   Anak Panda menunduk, tadinya Anak Panda ingin bercanda dengan Belalang dan Anak Musang tapi perasaannya tiba-tiba berubah, dia berpikir, baru saja dia ketakutan setengah mati merasa bertemu monster, tapi lalu terpingkal menertawakan kebodohannya karena monster itu ternyata hanya bayangan dari seekor hewan kecil. Dia jadi sadar, dibanding belalang, bahkan dia yang bertelinga dan berpenglihatan sempurna pun tertipu bayangan tadi, sempurna matanya terbatas letak cahaya.
Dilihatnya dua temannya, Musang yang tidak bisa berdiri tapi pemberani dan belalang yang telinganya ada di perut tapi bisa bersyukur, lali dia sendiri, Anak Panda yang besar tapi tak bisa berlari apalagi melompat.
Anak Panda senang bisa mengenal teman-temannya yang berbeda-beda, karena dari situ dia semakin mengenali dirinya sendiri.
 
 

Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. siscaamellya
    Jul 30, 2012 @ 14:38:36

    Bersama Gorengan dan camilan ane nobatkan agan ini sebagai Penulis.. Heheheh.. Mau?? Mau?? 😛

    Reply

    • wigati10
      Jul 31, 2012 @ 07:29:08

      siscaamellya : wow tawaran yg menggiurkan :D..Dengan ini saya nyatakan penobatan saya sah! hehehe
      mas cahya : terimakasih ‘like’2 nya, sungguh support yg luar biasa ^_^

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: