Anak Panda dan Burung Hantu

      Anak Panda menunduk, tidak berani menatap Ayahnya. Belum pernah Ayah Panda marah dan Anak Panda tidak ingin itu terjadi sekarang.
Ayah Panda = “Ayah tanya sekali lagi..kamu yang rusakkan sarang-sarang itu bukan?”
Anak Panda menggeleng.
Ayah Panda menahan marah = “Baik kalo itu pengakuanmu, besok Ayah antar kamu menghadap Burung Manyar”
Anak Panda tetap menunduk sampai Ayah berlalu. ‘Ah sial sekali hari ini’, Anak Panda meruntuki dirinya sendiri. Awalnya, tadi pagi dia menemukan sarang burung terjatuh di dekat rumpun bambu, sarang itu bentuknya seperti buah alpukat tapi dibuat dari rumput-rumput kering yang disusun sedemikian rupa, unik. Ditelitinya sarang itu, ketika dia coba merogoh kedalam, dia merasakan ada beberapa sekat. ‘ini pasti ruangan2 jebakan untuk pengaman telur, pengalih para pengganggu..wah cerdas sekali’ pikir Anak Panda. ‘Burung apa ya yang membuatnya?’ Anak Panda mendongak, dilihatnya ada banyak sarang-sarang lain bergelantungan di pucuk bambu-bambu, ‘Ahaaa’ Anak Panda girang, dia segera memanjat bambu itu.

      Anak Panda masih asyik mengamati dari dekat sarang-sarang bagus itu, dia tidak menyadari datangnya serombongan Burung Manyar yang pulang dari mencari bahan sarang. Sedangkan para Burung Manyar, begitu melihat ada Anak Panda di dekat sarang langsung meneriakinya menjauh, Anak Panda kaget, reflek bergerak turun tapi menyenggol beberapa sarang sampai jatuh. Tentu saja para Burung Manyar jadi marah, Anak Panda lari terbirit-birit.

      Disitulah masalahnya, seekor Bapak Burung Manyar lalu datang menemui Ayah Panda, menceritakan kejadiannya dan meminta agar Anak Panda diberitahu untuk tidak mengganggu sarang-sarang itu lagi, kasihan para telur dan burung yang sedang ada dalam sarang.
Ughh…sekarang, sampai tengah malam begini, Anak Panda tidak bisa tidur, memikirkan apa yang harus dia katakan besok, dia sudah terlanjur berbohong, kalau dia mengaku, ayahnya pasti marah lalu menghukumnya. Anak Panda berguling-guling tidak tenang.
      Tepat dari jendela kamar dia melihat seekor Burung Hantu sedang bertengger tak jauh dari rumahnya, Anak Panda ingat Burung Hantu adalah lambang kebijaksanaan, ‘mungkin dia bisa membantu kalau aku bercerita’ harap Anak Panda.

Anak Panda menemui Burung Hantu = “Halo Burung Hantu aku Anak Panda”
Burung Hantu diam saja mengawasi Anak Panda dengan mata besarnya.
Anak Panda = “Eh hmm..engg..begini..aku ingin bercerita, boleh?”
Burung Hantu = “Tentu”
Anak Panda sebenernya agak segan bercerita..dengan wajah seram, sikap tegak dan banyak diam, Burung Hantu terkesan sangar, ‘tapi sepertinya bisa dipercaya’ pikir Anak Panda, dia lalu menceritakan semua kejadian hari ini = “…begitu ceritanya..pokoknya aku tidak berniat merusak, itu bukan salahku!!”
Burung Hantu = “Niat dan hasil memang bisa tidak sama, tapi kau harus menceritakan yang sebenarnya”
Anak Panda = “Kalau aku jujur aku nanti dihukum”
Burung Hantu = “Belum tentu, kalaupun dihukum, jujur akan melegakanmu, tidak seperti berbohong yang membuatmu gelisah begini”
Anak Panda = “Aku kan tidak bohong, aku hanya tidak menceritakan yang sebenarnya”
Burung Hantu diam saja seperti memberi jeda Anak Panda berpikir.
Anak Panda menunduk nyaris menangis membayangkan marah dan hukuman dari Ayahnya dan Burung Manyar = “Aku takut”
Burung Hantu = “Iya….yang mampu jujur memang pasti pemberani”
Anak Panda mengangkat pandangannya, menatap Burung Hantu yang mengangguk meyakinkan.
Ya, Anak Panda tahu sekarang, dia harus mengaku apa pada Burung Manyar besok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: