Arka

“Pesen apa neng?”
“Oh saya minum saja bu, ini cuma lagi nunggu teman”
“Belum ketemu juga alamatnya?”
“Hehehe belum..biar orangnya saja yang jemput saya kesini”, saya memang nyasar saat mencari alamat teman tadi, sudah 2 kali saya susuri jalan yang ditunjukkan ibu warung, tapi gak ketemu juga, saya menyerah, beristirahat di warung padang serba 5000 ini.
Tiba-tiba seorang anak perempuan menabrak saya dari belakang. “aduhh..eh maaf, saya ngalangin jalan ya, maaf ya”, saya reflek mengaduh, sementara dia cuek, masuk ke dalam warung sambil susah payah menggotong bungkusan terpal, ada air menetes-netes, rupanya itu es balok besar, sama besar dengan badannya.
“Tunggu di luar teh”, ibu warung menyuruhnya menunggu bayarannya.
Dia berdiri di sebelah saya sekarang, saya perhatikan, rambutnya masai, badannya kurus, mukanya tirus, tapi matanya..matanya istimewa, besar dan bola matanya berwarna coklat terang.
“Namanya siapa?” saya sapa dia. Dia diam saja.
“Ditanya tuh teh..”, kata ibu warung yang datang sambil memberikan uang seribu rupiah+sekantong plastik bekas, bukannya menjawab anak perempuan itu malah buru-buru pergi. “Dia emang begitu, sama dinginnya kayak es yang dia bawa” kata ibu warung sambil tersenyum kikuk pada saya.
 
Dia cepat-cepat mengikat kantongnya ke sebuah sepeda kecil, kalau itu bisa disebut sepeda, karena sebagian rangkanya ditopang kayu, sadelnya ditinggikan, terlalu tinggi malah, tidak sebanding dengan rangkanya, di belakang ada kotak menjulur yang bisa diisi barang2, termasuk balok es dan kantong plastik besar tadi.
Sekarang isi kantong berserakan di jalan, mungkin karena buru-buru, dia jadi tidak mengikat dengan benar, kantong di belakang terburai. Saya berlari menghampiri.
“Sini saya bantu”, saya memunguti, dia diam saja. Sebatang coklat yang ada di tas saya sampai ikut terjatuh karena saya membungkuk-bungkuk, dia melihat sekilas coklat itu lalu melengos.
“Teteh mau?”, tawar saya, dia mendorong sepedanya menjauh.
“Eh tunggu..ini buat teteh saja”, saya kejar dia.
Dia sudah jauh mengayuh ketika tiba-tiba berhenti. Saya jajari, lalu mengangsurkan coklat itu.
“Makan saja” kata saya mengatur nafas yang agak ngos-ngosan. Dia membuka bungkusnya pelan-pelan tapi lalu makan dengan lahap. Dia lapar.
Saya perhatikan lagi matanya, ada sorot yang menarik disana, liar sekaligus sedih. Dia berancang-ancang pergi tepat saat nada sms ponsel saya berbunyi, si teman minta maaf tidak bisa menjemput, “ok, besok saja, di warung yang tadi” balas saya, kebetulan sekali, soalnya besok saya ingin bertemu lagi dengan si nona tanpa suara penyuka coklat ini, yang sudah saya biarkan pergi begitu saja.
 
Saya sengaja menunggu dia, sengaja datang di jam yang sama dengan kemarin, dan saya juga sengaja membawa coklat lagi. Nah itu dia, kali ini saya ikuti dia pulang.
“Teteh jalan dulu ya sama saya” saya pegangi boncengannya, mencegah dia pergi. Dia diam saja tapi lalu menuntun sepedanya.
“Duduk di sini aja yuk” kata saya saat ada trotoar teduh. dia ikut duduk.
Saya julurkan coklat, dia terima tapi dia simpan di balik bajunya. “Loh kenapa?” tanya saya.
“Buat adik”jawabnya lirih, saya tersenyum, baru sekarang dia bicara.
“Ooohh teteh punya adik”. diam.
“Ada siapa lagi di rumah?”. diam.
“Ibunya kerja?”. “Dipenjara, nyolong”, saya terkesiap.
“Bapak?”. “Mati, aids”. Saya merasa tidak bisa bernafas, tidak mungkin ini terjadi pada saya, harusnya adegan ini hanya ada di tv, di film atau di acara ‘reality show’.
“Teteh sama siapa di rumah?”. “Ada”, caranya menjawab datar saja, tidak ada emosi. Saya lihat dia memalingkan wajah, siap-siap meraih sepedanya.
“Eh..tunggu..tunggu..saya punya 1 coklat lagi”, saya pegang tangannya, “Yang ini buat teteh”, dia menunduk.
“Hmmm..hmm..ngobrol yang lain aja ya..apa ya…teteh suka musik?”, dia menggeleng,
“Bohong, di dada teteh aja ada musik tuh, denger…dug dig dag dig dug…” saya tempelkan tangan saya di dadanya, dia masih menunduk tapi saya lihat ada senyum di bibirnya.
“Sini deh, saya punya musik bagus”, saya cari ponsel saya, saya asal bicara saja, saya cuma ingin ngobrol lebih lama dengan dia. Nah ada video Paradise-nya Coldplay, saya putar, saya dekatkan dia, dia cuma melirik. Saya perhatikan wajahnya polos, orang tua macam apa yang tega menelantarkan anak-anaknya begini batin saya.
Lagu hampir habis, “Teteh suka?”. diam.
“Teteh tau artinya?”, dia menggeleng pelan tapi, “Lagi” pintanya. Saya putar video itu 6 kali, sebelum akhirnya dia pamit pulang.
 
Kali ini saya bawakan dia buku-buku cerita, “Teteh, ini buat baca di rumah”, dia diam saja memegangi buku-buku itu.
“Teteh bisa baca?” tanya saya hati-hati, dia mengangguk sambil mengelus-elus sampul buku.
“Baca bareng yuk” saya angsurkan halaman 1 padanya, dia terbata-bata membaca. “A..r..k..a..Ar..ka.”.
“Teteh umur berapa?”, “11” jawabnya, kerongkongan saya mendadak perih, di umur 11 tahun dia masih mengeja membaca.
“Teteh nanti besar mau jadi apa?”, lama sebelum akhirnya dia menjawab “Jadi bu guru bahasa inggris”, “Kenapa?”, “Biar bisa pergi kemana-mana”, “Ke luar negeri?”, dia mengangguk. Saya amini cita-citanya.
 
september 2012,
Sudah beberapa buku yang dia kembalikan, tanda dia sudah selesai membaca. Saya bawakan makin banyak buku, dan makin banyak lagu buat dia. Hari itu dia mengembalikan mp3 player saya,
“Teteh paling suka lagu apa disini?” tanya saya. “Maksim”.
“Maksim??? yang cuma piano doang itu?”. dia mengangguk, saya kagum, tadinya saya tebak dia akan menyukai lagu st12 atau cherybelle.
“Teteh mau mp3 player ini?”, dia mendorong player ke tangan saya dan menggeleng kuat-kuat, ekspresinya masih saja tidak berubah, tidak pernah mau kontak mata dan bicara banyak.
Saya ambil ponsel saya, “Ada video baru” kata saya, saya putar Hall Of Fame-The Script, dia melirik. Adiknya, yang baru pertama kali ini bertemu saya, umurnya sekitar 3 tahun, bergoyang-goyang sambil tertawa mendengar lagunya, saya ikut tertawa. Si teteh menatap serius video.
 
november 2012
Saya tidak pernah lagi bertemu teteh, berkali-kali saya ke tempat kami biasa bertemu dia tidak pernah ada. Kata ibu warung, teteh tadinya menumpang di rumah kerabatnya di penampungan metromini di ciputat, tapi kalau sampai si teteh tidak mengantar es balok berarti dia sudah tidak ada di rumah itu lagi, karena cuma teteh yang bekerja menghidupi rumah itu.
 
Hati saya pedih karena perpisahan yang tiba-tiba, tapi saya tidak mengkhawatirkan teteh, saya tahu dia akan bisa bertahan, bisa sukses malah, karena terakhir kali kami bertemu, sebelum pamit dia pegang tangan saya sekilas, dia berjanji “makasih, teteh akan sekolah lagi”. Jangan menyerah ya teteh sayang, arka di tangan teteh, insyallah.
 
 
 
 

Bentara, 1112

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: