Diri

Saya bukan pembicara yang baik, dalam grup apapun saya terkesan pendiam (bahkan judes dan sombong :D)..ya mungkin itu betul sih hehehe…
Tapi saya memang lebih tertarik mendengarkan. Senang rasanya kalau mendengar berbagai sudut pandang, saya jadi bisa mendengar diri saya sendiri gitu. Dan dari situ saya belajar menghormati, bahwa tidak ada pendapat yang mutlak benar dan mutlak salah.
 
Seperti tadi, di tengah diskusi tentang sistem pendidikan negeri ini, terselip banyak cerita betapa mereka harus berjuang sendiri untuk jadi lebih baik. Bayangkan, untuk lulus UN harus les sana sini, belum biaya sekolah yang mahal, mutu sekolah yang tidak rata padahal tidak boleh mendaftar lintas kawasan, korupsi, pergaulan bebas dan lain sebagainya. Dan eh…obrolan jadi melebar, katanya ini tidak hanya terjadi di sistem pendidikan, tapi juga di seluruh sistem negeri ini, sampai-sampai untuk masalah keamanan pun, masyarakat harus menangani sendiri karena hukum bisa dibeli, dan seterusnya..obrolan serius mengalir deras.
 
Lama-lama saya nge-hang, cuma bisa mencerna..orang-orang ini, pribadi-pribadi ini, diri-diri ini…banyak menggunakan kata ‘sen-diri’…padahal kan ‘diri’ masih bisa ditempeli awal yang lain ya..
 
tegak ‘ber-diri’
bertindak ‘man-diri’
jadi ‘pen-diri

 
Iya kan?
Eh, ini sih pikiran saya sendiri loh, anda jangan ikut-ikut, anda harus tetap serius ikut serta memperbaiki negeri ini, karena perbaikan sekecil apapun harus dimulai dari diri sendiri. jangan pernah merasa sendiri berusaha, karena anda tidak pernah benar-benar sendiri.
Salam hormat saya 😀

Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. Cole Hubbard
    Jul 03, 2013 @ 10:10:58

    Parang Jati menggunakan kata “satria” dan “wigati. Ketika aku tak mengerti kenapa ia tidak memilih bentuk maskulin “wigata”. Wigati, atau wigata seperti yang terdaftar dalam kamus Jawa Kuna, mengandung sikap peduli, merawat, memperhatikan, memelihara. Parang Jati percaya bahwa dalam dirinya, seperti dalam diri segala zat, terdapat perempuan dan lelaki bersama-sama, dan keadaan inilah yang menjadikan sesuatu netral. Ia menggunakan paduan “satria dan wigati” barangkali untuk menegaskan keberadaan dua unsur itu. Kata “wigati, atau “wigata”, nyaris tidak dipakai dalam bahasa Indonesia. Kecuali dalam nama-nama orang. Itupun tidak umum.

    Reply

  2. Alejandra Albert
    Nov 20, 2013 @ 08:45:30

    Perlu diingatkan juga bahwa Daftar Penyembuh Prana ini bukanlah sarana untuk mengiklankan diri, karena yang lebih kami butuhkan adalah Para penyembuh Prana yang tulus dan punya keinginan untuk meringankan penderitaan sesama serta melakukan penyembuhan secara murni. Ini tidak berarti bahwa Penyembuh Prana Profesional tidak kami kehendaki. Kami sangat berterimakasih kalau para Penyembuh Prana profesional ikut bergabung bersama kami.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: