Merdeka

“Takaran watak jujur seseorang itu apa yang dia lakukan waktu dia tau gak ada seorangpun yang melihat yang dia perbuat. Dan jujur itu sifatnya memerdekakan”. Saya buru-buru mencatat kata-kata guru di depan. Bolpoin beradu dengan pikiran saya.

Saya..saya ini orangnya apa adanya, jujur, saking apa adanya kadang bicara saya tidak terkontrol, yang penting saya sudah keluarkan penilaian saya terserah orang lain menerimanya bagaimana. Kata orang, saya jarang bicara tapi sekali bicara bisa mak nyelekit :).
Saya menghela nafas, tidak sengaja melirik ke sebelah…ah saya kenal baik teman saya yang di sebelah ini, ibadahnya masih bolong-bolong tapi hatinya bersih…bertahun saya berteman belum pernah mendengar dia bicara yang menyakitkan atau menjelek-jelekkan orang lain. Sedangkan saya..saya rajin ibadah tapi mulutnya pedas.

“NGINGG….” suara mikrofon berdenging menyadarkan saya,
“..ada seorang laki-laki, yang diikuti Abdullah bin Amru, dijamin masuk surga, ternyata karena dia tidak bicara selain yang baik-baik saja, tidak pernah tidak tulus dan juga tidak pernah iri atas rezeki orang lain…” suara guru yang timbul tenggelam sedang lanjut bercerita.

Saya belajar menyimpulkan bahwa ternyata di atas kejujuran ada nilai yang lebih tinggi: ketulusan. Kalau sudah tulus, kita akan merdeka untuk tidak punya beban apa-apa.

Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. Oyen
    Jul 03, 2013 @ 14:39:54

    berguru pada tulisan… lagi πŸ™‚

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: