Murni

Bu Mu’ay buru-buru memasukkan gula setelah air sereh mendidih. Wajahnya penuh senyum, “hidup itu berbagi…kalau ada acara apa2 yang butuh energi, orang2 biasanya minta dibikinin wedang sereh ini”, tangannya cekatan mengaduk air, “karang taruna tanding bola, ibu2 lomba sholawatan, kerja bakti warga, terus…biasanya jadi menang atau acaranya jadi sukses”.
“Wah, kyk doping aja bu, eh apa jangan-jangan dikasih disitu, obat apa gitu..” sahut ibu2 yang lain becanda.
“Ndak lah, ini cuma bikin anget aja, murni, tanpa pengawet, 100% kebaikan alam!!!”.
“Yes, semangat anget!”, saya menyahut :D. Kami jadi tertawa-tawa.
Hidup memang tidak semurni wedang sereh Bu Mu’ay. Ada keseimbangan. Tidak hanya alam yang bekerja, tapi manusianya sendiri juga berperan. Maka tidak ada manusia yang sepenuhnya jahat atau sepenuhnya baik.
Manusia hidup berusaha memenuhi standar, standar selama & setelah hidup.
Standar selama hidup, ditentukan oleh ukuran manusia sendiri. Standar setelah hidup, yaitu standar hidup setelah kematian, ditentukan oleh Tuhan.
Selama berusaha memenuhi standar hidupnya, kadang manusia bisa saling menyakiti tapi juga bisa saling mencintai.  Ya, tentu saja hanya cinta yang bisa membawa cerah & bahagia.

Hari ini matahari bersinar, setelah beberapa hari hujan turun. Mungkin itulah kemurnian hidup, selalu ada keseimbangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: