Rawon

            Lia terduduk lemas, pecahan vas dan karangan bunga mawar berserakan tepat di kakinya. Juga kartu ucapan berwarna merah muda, lumat diinjak-injaknya, tapi tulisannya masih terbaca “beatiful things don’t ask for attention, baby”, tulisan tangan Hendra, suaminya. Ah sebentar lagi dia harus menyebut Hendra sebagai mantan suami, karangan bunga tadi ditempeli berkas surat cerai. Lia menangis lagi, dia merasa dipermainkan nasib. Dua bulan lalu, ibunya baru saja meninggal dunia, tidak lama setelah itu Hendra menceraikannya.

            Lia ingat dia mengamuk ketika Hendra pertama kali meminta berpisah, dia tak mengerti dengan apa yang sebenarnya menjadi masalah.
Hendra hanya mengatakan “Hidup ini singkat, saya tidak sanggup menjalaninya dengan tidak bahagia”.
Lia marah “Untuk bersama kamu, aku lawan Ibuku, satu-satunya orangtuaku yang masih hidup, yang tidak setuju aku memilihmu. Demi kamu! demi kamu mas, sekarang begini kamu ?!”
Hendra beranjak pergi. Lia menahan lengannya. “Kenapa? jawab! karena aku belum kasih kamu anak?”
Hendra mendorong Lia dan bergegas pergi.
Lia cuma bisa berteriak “pengecuttt!”
Sejak itu Hendra menghilang. Dan Lia tidak berhenti mengenang apa yang kira-kira menjadi masalah.
Mereka menikah sudah 7 tahun dan sama-sama sibuk bekerja. Lia merasa mereka baik-baik saja, bisa mempunyai rumah, mobil, berlibur ke luar negeri, mereka sejahtera.
Lia terus mencari tahu tentang Hendra, beberapa hari lalu akhirnya dia bisa menemukan Hendra, sedang mesra bersama perempuan muda di sebuah restoran. Meski emosinya serasa meledak, tak urung Lia bisa mendapat informasi dari pelayan-pelayan disana. Perempuan itu adalah pemilik restorannya, dan Hendra yang membiayai bisnis ini.
Lia berpura-pura membaca menu mengaburkan airmatanya yang hampir menetes, disana tertera : ‘rawon spesial’, menu kesukaan Hendra, kesukaan Lia juga.

             Esoknya, Lia menelfon mencari Hendra sampai ke perusahaan Hendra, bermaksud meminta bertemu untuk bicara baik-baik. Tapi yang datang setelah itu justru karangan bunga mawar warna merah tadi.
Tertegun, Lia ingat suatu waktu Hendra memang pernah memintanya belajar memasak, tapi Lia hanya tertawa, urusan kantornya lebih penting dari sekedar berkotor-kotor berkeringat di dapur jawabnya.
Atau apakah iya, ia kurang memperhatikan kebutuhan Hendra ?, Lia tersenyum pahit melihat notes di dekat telefon rumah, berisi belasan nomer telefon restoran favorit Hendra, dia yang membuatnya “nih, kalau mau makan tinggal pesan”.

            Lia lalu ke dapur, dapur yang lengkap tapi selalu bersih, karena jarang dipakai. Di ujung rak dilihatnya toples bumbu kiriman dari Ibu. Dulu setiap 2 minggu Ibu rajin berkirim bumbu, bumbu rawon, bumbu nasi goreng, bumbu saos spaghetti berjajar rapi dalam toples-toples kaca kecil. Lia sebenarnya melarang untuk tidak repot-repot, tapi ibu selalu menjawab “kalau-kalau kamu lapar tengah malam atau sarapan, masakkan untuk suamimu, meski cuma ini atau tahu tempe hangat-hangat ya”. Lia hanya mengangguk saja, tapi bagaimana mau sarapan berdua, mereka berangkat kantor terpisah berbeda arah, pagi sekali, setelah shubuh.

           Lia menghela nafas, memandang toples, sembari mengingat ayah dan ibunya, ayahnya meninggal saat Lia masih berumur 10 tahun, akibat penyakit jantung, sejak itu Ibu bekerja dan tidak menikah lagi, bandingkan dengan nasibnya sekarang, rumah tangganya kandas tanpa menunggu maut memisahkan.
Tiba-tiba dilihatnya ada kertas kecil terselip dibagian bawah toples, toples itu ada 2 lapis ternyata, disela-selanya ada celah. Dia ingat dulu pernah bertanya tapi Ibu hanya menjawab menggoda “itu kertas resep rahasia, rahasia negara”. Mereka lalu tertawa-tawa berdua.

           Ketika kertas kecil itu bisa diraihnya, tulisannya singkat saja ternyata “jangan anggap sepele, dalam memasak itu ada rasa, perhatian, usaha dan cinta“. oh Ibu, pesan-pesannya ternyata tercatat agar dibacanya. Dadanya sesak, Lia menciumi kertas itu, membayangkan betapa ibunya menasehati banyak hal penting, tapi tak pernah didengarkannya dengan serius.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: