Semoga Kita Bahagia

Saya sedang sibuk mencuci piring, ketika tv di ruang sebelah lamat-lamat terdengar suara seorang perempuan sedang berorasi, ditimpali tepuk tangan riuh penontonnya. Saya bukan komunikator verbal yang baik, saya merasa lebih bisa berkomunikasi lewat tulisan, jadi kalau ada seseorang yang bisa berbicara menyampaikan pemikirannya dengan bahasa runut & sederhana, apalagi kalau beliau perempuan..saya pasti akan menyimak..pasti 🙂

Saya buru-buru mendekat, ternyata acara ini berisi potongan-potongan wawancara perempuan yang berpengaruh di Indonesia :

Pertanyaan : “Ibu dulu model sebelum menikah?”
Jawab : “(tertawa) iya waktu masih muda, sekarang kegiatan utama saya jadi banyak membaca, banyak wawasan, agar kalau bicara dengan bapak atau teman-teman, meski cuma celetukan, bisa nyambung. Kalau tidak bisa mengikuti nanti saya ketinggalan di belakang kan, lama-lama nanti hilang (tertawa), bapak berkembang, saya juga berkembang.”

Pikiran saya sibuk mencerna, dibalik kata-kata ibu cantik yang terlihat riang itu sebenarnya maknanya dalam.
Iklan. Saya tidak sempat membaca nama si ibu cantik. Sudah ganti narasumber. 😦

P : “Waktu Bapak dapat beasiswa ke Korea ibu bekerja disana?”
J : “Iya, Bapak itu organisator sejati, karena tunjangan beasiswa tidak cukup untuk hidup sehari-hari dan Bapak banyak berurusan organisasi disana, jadi saya merasa perlu bekerja, pekerjaan pencuci piring restoran juga saya jalani. Alhamdulillah hidup kami cukup.”

P : “Berarti benar ya Bu, dibelakang setiap laki-laki sukses ada perempuan hebat?”
J : “Ada ibu dan istri ya perempuannya, kalau ibu pasti didikan ibu yang hebat, kalau istri..saya rasa terlalu berlebihan ya kalau dibilang hebat, saya percaya bapak punya kemampuan hebat, yang beliau perlukan itu istri yang bahagia, jadi kalau beliau di rumah tenang, ditinggal bekerja juga fokus.”

Saya terpesona, si ibu terlihat jutaan kali lipat lebih cantik dari miss universe, hanya dengan beberapa potong kalimat. Saya amati wajahnya, cara berbicaranya, teduh bukan main. Dan yak, saking fokusnya, saya lewatkan lagi footnote nama beliau. Iklan lagi. Ganti narasumber. 😦

P : “Menurut cerita, sejak dari kecil ibu memang selalu jadi pemimpin, apakah ini bakat?”
J : “Saya rasa, kalau dilihat dari pintar atau bakat, saya tidak ada apa-apanya dibanding yang lain. Di bisnis atau di jabatan ini, saya cuma lebih tahan banting, lebih ngotot atau bahkan mungkin terobsesi (tertawa) dengan tujuan-tujuan saya.”

Luar biasa, tau-tau acara sudah berakhir, dan tangan saya panas akibat belum cuci tangan dengan benar sepertinya :D, tapi pikiran saya seperti sudah bersih tercuci kesimpulan baru.

Untuk menjadikan suami sukses, jadilah istri bahagia.
Untuk jadi perempuan sukses, jadilah lebih tahan banting.
Itu saja, insyaallah. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: