Anak Panda dan Liar


Anak Panda sangat suka berfoto dengan para pengunjung, semua yang ingin berfoto akan ia layani dengan ramah dan pose menggemaskan. Para penjaga sampai menamai kandanganya, ‘kandang Anak Panda zaman now’. Padahal Anak Panda hanya suka melihat ekspresi orang2 yang berfoto dengannya, mereka nampak tersenyum lebar & sangat senang.
Pak penjaga memilih beberapa foto untuk dipajang di ruang pengunjung, beberapa lainnya disimpan, siapa tau bisa jadi foto iklan, katanya.

Suatu hari Anak Panda masuk klinik untuk imunisasi rutin. Disana dia bertemu dengan 3 hewan liar yang baru saja sadar setelah ditembak obat bius. Anak-anak harimau tutul. Mereka dilumpuhkan karena menganggu perkampungan manusia didekat muara sungai.
Anak Panda yang ramah mencoba menyapa : “Halo, namaku Anak Panda”
Anak-anak harimau itu tidak bergeming.
Anak Panda mendekat ke kandang : “Nama kalian siapa?….halo?…”
Salah satu Anak Harimau tiba-tiba maju menerjang pembatas kandang sambil mengaum, tepat di depan wajah Anak Panda. Keras sekali.
Bapak-bapak penjaga segera berhamburan masuk, ada yang mendorong kepala Anak Harimau dengan tongkat, ada yang menarik ranjang dorong Anak Panda, yang lainnya berdiri siaga di sekitar kandang Anak Harimau.

Setelah beberapa lama, dan semua sudah tenang kembali. Bapak penjaga akhirnya mengatur Anak Panda dan Anak Harimau ditempatkan saling berjauhan ujung ke ujung, meski tetap di ruangan yang sama.
Anak Harimau : “Hey..kau..panda gemuk…hewan paling terkenal ya kau disini..wajahmu ditempel dimana-mana”,
Anak-anak harimau yg lain terkekeh : “Namanya Anak Panda lho”, mereka tertawa-tawa sambil menirukan pose Anak Panda.
Anak Panda tetap tenang : “Ya betul, namaku Anak Panda, nama kalian siapa?”
Anak Harimau terbahak : “Hah…buat apa sih nama?”
Anak Panda hampir menjawab ‘ya biar bisa dibedakan dengan yang lain’,
tapi dia lalu berpikir ‘oh iya ya, mereka kan di hutan liar, buat apa dibeda-bedakan’
jadi Anak Panda memutuskan mengganti pertanyaan:… “Kalian dari hutan mana?”
Anak Harimau 1 : “Hmmm cerewet juga kau…kami dari hutan di gunung utara”
Anak Panda : “Oh aku tau tempat itu, aku pernah kesana saat masih kecil, bagus ya disana, ada padang luas dan air terjun besar. Wah enak sekali kalian bisa bebas disana, tidak ada yang mengatur ya, dan tidak ada yang menyuruh suntik sambil ditaruh di kandang begini..kadang aku bosan”
Anak-anak harimau tidak menjawab, mereka sibuk bercanda, saling terkam & menggigit.
Anak Panda sudah lama tidak punya teman sesama anak panda. Teman-temannya sedang dikirim ke tempat lain. Jadi duta.
Dia iri melihat anak-anak itu bermain, Anak Panda ingin ikut akrab, jadi dia bertanya lagi : “Ngomong-ngomong jauh sekali kalian sampai kemari”
Anak Harimau 2 : “Kami cari makan”
Anak Panda : “Makanan manusia?”
Anak Harimau 2 : “Ya kami hanya mau cari makan”
Anak Harimau 3 : “Sudahhh…ngapain juga kau ladeni hewan manja itu, dia tidak akan mengerti cerita kita”
Anak Panda : “eh…eh…aku tidak bermaksud begitu”
Anak Harimau 1 : “Benar, kau tidak akan mengerti kami, karena seumur hidupmu kau dilayani, dirawat manusia, sedangkan kami, kami mandiri dan kuat. Hanya saja kami sudah tidak punya rumah, rumah kami ditebangi, diganti jadi tanaman karet dan kelapa sawit, tidak ada lagi yang bisa kami makan”
Anak Harimau 3 : “Kami beda denganmu!”

Anak Panda melihat anak-Anak Harimau, melihat dirinya, melihat ruangan, mengingat teman-temannya.
Anak Panda sadar, dia terpenuhi segala kebutuhannya, tapi berada dalam kandang. Sedangkan anak-anak harimau ini terbiasa bebas tapi kesulitan memenuhi kebutuhannya. Mungkin itu yang membuat anak harimau ini berbeda, cara bicaranya…cara makannya..cara bertemannya.
Tapi kan sekarang mereka berada di rumahnya, Anak Panda memutuskan jadi tuan rumah yang ramah dan baik.

Anak Panda lalu menyahut : “Menurutku kita tidak beda. Lihat kita punya 2 kaki 2 tangan, 1 hidung, 1 mata. Kita tidak jauh beda. Kita sama”

Anak-anak Harimau saling berpandangan, mengaum keras pada Anak Panda “Tidak!!”.
Tapi dalam hati mereka mengakui, mereka sama-sama hewan kok. Dan anak-anak.

Advertisements

Anak Panda yang pemimpin

        Minggu lalu Anak Panda baru saja pulang ke hutan lindung dari tour keliling dunia tentang perlindungan hewan liar. Anak Panda kan ikon wwf. Hari ini dia sudah dibolehkan keluar dari karantina. Wah dia tidak sabar bertemu semua hewan.
“Hai Anak Panda” Anak Kura-kura menyapa. disusul sapaan teman-teman yang lain yang kebetulan sedang berkumpul.
“Haiii” balas Anak Panda riang.
“Kabarnya kamu sudah naik kapal laut dan pesawat di perjalanan kemaren ya?” Anak Rusa penasaran mendekat pada Anak Panda.
“Wah cerita dong ceritaaa” semua mendekat
Anak Panda tertawa senang “kalian tau, laut itu luassss sekali, kemana melihat cuma ada air”
“Wah darimana air sebanyak itu?”
“Dari es di kutub yang mencair, dari hujan, dari sungai-sungai yang bersatu….laut itu didalamnya tidak rata lho, sama seperti di darat begini, cuma terisi air”
“Kalau pesawat..pesawat..seperti apa rasanya?” Anak Kodok bertanya dengan semangat
“Heyyy tunggu dulu..selesaikan dulu cerita lautnya…” Anak Kuda protes
ribut sejenak.
“Pesawat itu waktu berangkat sama turunnya saja yang agak menaik dan menukik, selama di atas ya tidak terasa…oh iya, waktu menebus awan juga ternyata tidak terasa apa-apa, awan itu ternyata seperti kapas, pesawatnya nembus”
“Wahhhhh” anak-Anak hewan itu ternganga membayangkan cerita Anak Panda.
setelah itu bersahutan pertanyaan-pertanyaan lain, Anak Panda menjawabnya dengan semangat.

Beberapa minggu kemudian,
di suatu sore yang cerah, Bapak Singa mendatangi Anak Panda yang sedang bergelayutan di pohon bambunya.
“Anak Panda, tolong kemari sebentar”
“Eh Bapak Singa, baik pak”
“Langsung saja ya, bapak tanya, apakah kemarin lusa kau bertemu teman-temanmu sesama anak hewan?”
“Tidak pak, saya kemaren lusa masuk klinik kesehatan, entah tes apa, baru tadi pagi saya dilepas, ada apa pak?”
“Begini…jadi, ada para anak hewan yang terpilih akan menjalani tour keliling dunia sepertimu, ada Anak kura-kura, Anak monyet, Anak badak, Anak kanguru,..beberapa lagi bapak lupa, mereka tidak mau pergi, entah kenapa. Bisa saja sih mereka langsung diangkut petugas, tapi kan bisa-bisa dijalan nanti mereka jatuh sakit kalau terpaksa begitu. Bapak minta tolong kamu bujuk mereka..kamu kan sudah pernah pergi..ya?”
“Hah..saya?..ba..baik pak, saya usahakan”
“Terimakasih ya nak”
Padahal Anak Panda tidak punya ide samasekali bagaimana menghadapi teman-temannya itu.

        Keesokannya, Anak Panda langsung memanggil anak-anak, termasuk Anak kura-kura, monyet, badak, dan kanguru.
Anak Panda : “Aku kemarin diberitahu pak singa, beberapa dari kita akan diberangkatkan ikut tour keliling dunia, aku mohon jangan menolak, kasihan pak singa, kasihan para petugas nanti kerepotan mengatur kita. Sudahlah, tidak lama kok cuma 5 bulan, kita ikuti saja”
tiba-tiba Anak Badak berkata : “Kamu tidak kasihan sama kita, Anak Panda? kita nanti naik turun kendaraan, ditempatkan di kandang-kandang sempit, berpisah dari keluarga, kamu lebih kasihan siapa?”
Anak Panda melongo, dia membayangkannya dan tahu Anak Badak benar, tapi ..”ehhh ehh mau kemana..semua…tunggu dulu..”, semua Anak bubar karena Anak Panda lama tidak menjawabnya.
Bapak Singa menemuinya lagi, “Bagaimana Anak Panda?”
Anak Panda menggeleng : “Besok pak…besok saya coba lagi”

        Anak Panda mengumpulkan teman-temannya lagi.
Anak Panda :”Ayolahhh, kita ini hewan, hutan yang liar saja mampu kita kuasai, masa bepergian melihat hal baru tidak berani kita jalani. Ayo teman-teman kita berangkat. Kita bersenang-senang. Kita tidak akan dipukuli, tidak dimakan, seperti hewan ternak. Kita adalah hewan bebas!!! Kita akan mengarungi laut! Melewati langit! Kita pemberani!”
Teman-temannya saling memandang ngeri. “Anak Panda, benar juga katamu, teman-teman kita yang diternak sedang dipukuli, dibunuh, masa kita bersenang-senang, kami tetap tidak mau!”.
Anak Panda sontak menutup mulutnya. Dia terlalu bersemangat sampai melontarkan kata-kata yang tidak semestinya. Dia tidak mampu berkata-kata lagi untuk mencegah teman-temannya bubar.

        Anak Panda dengan gontai pulang.
“Hey kenapa wajahmu sedih Anak Panda?” ibu dengan lembut merangkul Anak Panda yang baru sampai.
“Aku gagal bu…aku gagal menjalankan amanah pak singa, aku juga jadi malu pada teman-teman”
Ibu Panda tersenyum, menyeka airmata anaknya dan mengelus-elus kepalanya “Itu namanya latihan jadi pemimpin, pemimpin yang baik itu tidak mudah menyerah”.
Anak Panda sampai tertidur dalam pelukan ibunya.

        Anak Panda sedang duduk di bawah pohon teduh. Dia memikirkan teman-temannya. Saat melihat Anak kuda, dia ingat pernah melihat kuda yang dipacu dengan dipukul dari belakang, dia juga pernah melihat kelinci yang dipacu dengan mengikat sebatang wortel tepat di depan kepalanya.
Hmmm…mungkinkah itu yang sudah dilakukannya? mendorong dan mengumpan temannya?…teman-temannya adalah hewan yang cerdas, mungkin kalau mereka diberitahu tujuannya, bukan dipacu sebelum perjalanan, itu justru akan membuat mereka berpikir dan sadar.
AHA…Anak Panda mengumpulkan lagi teman-temannya.

        “Aduhhhh ada apa lagi sih Anak Panda?????!!” beberapa suara terdengar kesal.
Anak Panda tetap tenang “Begini teman-teman…ini memang masih soal keikutsertaan kita di tour itu, aku tidak akan memaksa, aku cuma ingin menjelaskan, tujuan perjalanan itu adalah untuk mengenalkan kita ke manusia yang sebelumnya tidak pernah melihat kita, seperti waktu aku menceritakan pengalamanku melihat laut, itu jadi hal baru kan…nah ini juga, dan akan membuat manusia mengenal lalu berusaha menjaga kita. Agar teman-teman yang lain lalu mempunyai rumah hutan lindung yang indah seperti kita ini. Tujuan kita adalah membantu hewan lain”. Anak Panda tersenyum yakin.

Beberapa bulan kemudian, truk-truk WWF berdatangan, banyak anak-anak hewan yang sehat terpilih ikut tour. Dan mereka berangkat dengan senang hati.

Tidak apa

Po

Sharing dengan teman yang tidak begitu dekat dengan agama memang gampang-gampang susah, segala sesuatu dihubungkan dengan logika.
“Kenapa sih hal-hal buruk juga terjadi ke orang baik ? ”
“Kan sudah baik! adilnya juga dapat yang baik-baik dong”, mata cantiknya menatap saya bertanya-tanya.

Saya menebak pasti dia sudah sering bertanya begitu dan diberi jawaban bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari manusia, yang sudah mengatur segala sesuatunya, atau bahwa reaksi kita akan jadi amal untuk ke surga. Lama.
“..Aku ndak tau jawabannya…tapi itu ndak apa-apa kok”, jawab saya.

Kalau sesuatu yang buruk terjadi pada orang lain, kita cuma bisa berharap kalau giliran kita mengalami hal itu, kita sudah siap dengan google, atau referensi cara ideal untuk menghadapinya 🙂 . Tapi biasanya kita jadi tidak tau bagaimana cara sebenarnya bertahan, sampai kita mengalaminya sendiri.

Kalau sesuatu yang buruk terjadi pada kita, tidak ada cara lain untuk menghadapinya selain berdamai dengan diri sendiri..’inner peace’ ya bahasanya 🙂 . Bahwa hasilnya salah, kalah, menyerah… atau sadar, benar, tegar ?

Mungkin di hidup ini ada hal-hal yang tidak perlu dilawan, biarkan, hadapi saja, tidak apa 🙂

Anak Panda Ingin Terbang

  Anak Panda sedang duduk bersama teman-temannya, sudah beberapa hari ini hujan deras sepanjang hari, mereka jadi tidak bisa main layang-layang.
“ehh lihat…Burung Merpati..banyaknyaaa” Anak Panda berteriak antusias melihat para Burung Merpati terbang. Kelinci, Kucing dan Belalang yang sedang termangu-mangu di jendela, segera melihat ke arah telunjuk Anak Panda.
“aduh..pasti keren ya jadi burung, terbang anggun, bisa melihat macam2 dari atas sana…aku ingin bisa terbang juga”, kata Anak Panda berbinar- binar melihat para burung.
Kelinci = “mana mungkin bisa Anak Panda..kau kan tidak punya sayap”
Anak Panda = “aku akan buat sayapku sendiri”
Kucing = “kita tidak pernah terbang..tidak akan tahan angin kencang ya kan?”
Anak Panda bersungut-sungut = “huh..kalian ini..tidak mendukung..”

Sejak itu, Anak Panda sungguh serius mengamati burung, sampai tidak sempat bermain bersama teman-teman yang lain. Sehari-hari kerjanya jadi mengamati burung: mengukur sayap, memperhatikan gerakan, menggambarnya dengan detail lalu menyimpan semua di kamarnya, tidak ada yang boleh menyentuh, bahkan Ayah Panda. Anak Panda mengikuti burung terbang sampai jauh, sampai ke tepi hutan, dekat sarang harimau.
Tidak hanya teman-temannya yang kebingungan dengan sikap Anak Panda, Burung-burung juga jengah Anak Panda cerewet bertanya-tanya = “terbang itu berbahaya loh Anak Panda”
Anak Panda bersikeras = “memang kenapa? kalau hari hujan atau badai kalian berlindung kan? tidak terbang?”
Burung-burung hanya bisa saling pandang, mengangkat bahu dan membiarkan Anak Panda mengamati mereka lagi.

Setelah hampir 2 minggu, Anak Panda akhirnya merasa sudah mengerti cara terbang, hari ini dia menemui para burung.
Anak Panda = “halo, akhirnya aku tau cara terbang seperti kalian”
Para burung menyimak .
Anak Panda = “aku kan besar…aku butuh 500 buah bulu sayap untuk membuat sayapku sendiri, kalian kan ada 100, aku minta 5 helai dari masing2 kalian..pasti nanti…”
Pak…pak…pak..Belum selesai Anak Panda bicara, para burung terbang ketakutan.
Ayah Panda yang melihat dari kejauhan hanya tersenyum.

Anak Panda sedih, ternyata para burung tidak mau membantunya, dia berjalan gontai, tiba-tiba dilihatnya Anak Harimau mendekat, Anak Panda siaga. “Apa maumu!!”, Anak Panda masih kesal mengingat Anak Harimau pernah mencuri kantung madunya dulu.
Anak Harimau terkekeh = “aku dengar kau ingin terbang dengan membuat sayap sendiri ya? aku juga..tapi aku inginnya terbang menggunakan pesawat, aku sudah membaca dan mencoba..”
Anak Panda kesal, tau apa Anak Harimau soal belajar terbang, ‘ah paling dia hanya sekedar mengolok-ngolok ku’ pikir Anak Panda. Anak Panda terus berlalu dengan acuh tak acuh.
Anak Harimau = “hey..hey..aku sudah hampir membuat pesawatku…kau tidak akan bisa jika terbang pakai sayap saja, badan kita terlalu berat..”, Anak Harimau terus saja berteriak-teriak meyakinkan Anak Panda sampai suaranya tak terdengar lagi.

Sampai di rumah, Anak Panda tidak bisa tidur walau capek, dia membaca-baca lagi catatan tentang burung, rasa-rasanya apa yang dikatakan Anak Harimau masuk akal. Anak Panda berniat mencari tau, besoknya dia curi-curi membaca ensiklopedia penemuan yang ada di teras kantor hutan. Anak Panda harus mengakui bahwa Anak Harimau benar. Kali ini dia belajar 2 hal, Pertama : kalau ingin berhasil belajar sesuatu, harus dari ahli nya. Kedua : belajar menghormati, mendengarkan pendapat meskipun itu dari musuh jika itu benar harus diakui bahwa itu benar.
Anak Panda tersenyum, bersiap pergi ke rumah Anak Harimau, waktunya bermain 🙂

Anak Panda dan Percaya Diri

Di musim hujan seperti ini, hujan bisa turun seharian. Ayah Panda punya ide untuk membuat jemuran daun di dalam rumah, kalau hari hujan, daun-daun bambu yang kuyup itu bisa tetap segar disimpan di dalam rumah, dan mereka tidak perlu lagi berbasah-basah makan di pohon bambu luar.
Anak Panda yang sedang flu, suka sekali dengan ide itu, meski terbersin-bersin dia semangat membantu Ayah Panda.
Tapi waktu bersinnya menerbangkan tumpukan daun-daun bambu, Ibu Panda jadi menegur = “Ibu suruh apa tadi..berjemur kan? mumpung ada matahari di luar, biar sembuh flu mu Anak Panda”
Anak Panda bersin lagi, kepalanya terasa berat = “Aku tidur saja ya Bu”
Ibu Panda = “Eh berjemur dulu”
Anak Panda diam di tempat. Malas.
Ayah Panda membisiki Anak Panda = “Sudahlah..menurut saja..sebelum..”
Ibu Panda = “Ayo Anak Panda…atau Ibu larang kamu makan madu seharian”
Ayah Panda berbisik lagi = “Nahhh kan apa Ayah bilang..”
 
Anak Panda tersenyum masam, langsung menghambur ke halaman. Daripada tidak makan madu.
Tapi ah, Ibu Panda benar, setelah 5 menit…10 menit..15 menit, ada hangat yang menjalar di punggung lalu menyebar ke seluruh badan Anak Panda. Anak Panda merentangkan tangannya, hore badannya lebih segar sekarang.
“Teruskan makan dan minum yang banyak, Anak Panda”, rupanya Ibu Panda memperhatikan dari jendela daritadi.
Anak Panda tidak membantah lagi. “Iya bu” sahutnya sambil berlari ke arah rumpun bambu.
 
percayadiri
 
Sambil telentang Anak Panda mengunyah daun bambu nya perlahan, tepat di atas dilihatnya ada Laba-laba sedang sibuk menggotong gulungan benang, berjalan hati-hati di atas garis-garis berwarna-warni.
Anak Panda = “Hey..kau sedang apa Laba-laba?”
Laba-laba serius = “Membuat rumah sekaligus piringku”
Anak Panda bangkit = “Wah..itu bagus sekali”
Laba-laba melihat Anak Panda menjulurkan tangannya = “Eitss!!! jangan sentuh ya, bisa berantakan rumahku”
Anak Panda kaget = “oh eh iya iya maaf..tapi itu gulungan benangmu seperti tidak ada habis-habisnya, apa banyak yang harus kau kerjakan?”
Laba-laba = “Tidak juga, tapi dari gulungan benang ini memang bisa jadi apa saja..ayunan, jemuran, lompat tali”
Anak Panda terpesona = “wow..iya ya jemuran..wah, tadi Ayahku juga sedang membuat jemuran loh. Bisa tidak kau mengajariku cara membuat gulungan benang itu?”
Laba-laba diam sebentar lalu menyahut = “Bisa saja asal kakimu 8”
Anak Panda melongo tapi lalu tertawa cekikikan = “hihihi baiklah…aku tidak akan menganggumu lagi”
 
Keesokan harinya Anak Panda datang lagi, niatnya hanya ingin melihat cara Laba-laba membuat sarangnya, tapi Anak Panda malah cerewet bertanya.
“Kalau hewan lain bisa lengket di sarangmu, kenapa kau sendiri tidak Laba-laba?”,
“Apa benangnya sering putus”
“Apa dari bayi kau sudah bisa membuat sarang?”
 
Semakin hari semakin memperhatikan Laba-laba, Anak Panda jadi kagum. Kalau ada pertemuan hewan dia pasti bercerita pada hewan-hewan lain betapa hebatnya Laba-laba, kalau sudah begitu dia bisa lupa waktunya makan.
“Bayangkan ya, Laba-laba itu bisa membuat sarang yang rumit. Kalau ukuran dia diperbesar sampai seukuranku, terbayang kan seberapa besar sarang yang bisa dia buat? Mungkin bisa sebesar rumpun bambu itu ya?”, hewan-hewan yang mendengarkan mengangguk-angguk.
“Sarangnya itu juga perangkap yang jitu, sering sekali aku melihat serangga terperangkap disitu, tidak perlu memakai racun. Memang sih ada kelemahannya, matanya yang 8 buah itu tidak bisa melihat jelas, tapi dia cukup mengandalkan getaran hewan lain loh untuk menandai musuh atau calon mangsanya”
Biasanya cerita panjang lebar itu ditutup dengan pernyataan Anak Panda = “Kalau bisa berubah aku ingin sekali jadi laba-laba”. Tentu saja itu mengundang protes dari teman-temannya, obrolan jadi riuh, Anak Panda banyak diingatkan untuk bersyukur dengan yang dipunyainya.
Anak Panda tersenyum-senyum saja = “Tau tidak, di ruangan Bapak Pengawas, ada gambar manusia laba-laba, namanya Spiderman…nah..lihat..manusia saja ingin jadi laba-laba kok”
Setelah itu obrolan biasanya jadi makin riuh. Sebenarnya itu saja yang Anak Panda tuju, supaya semua yang hadir jadi saling bicara.
 
Setelah berminggu-minggu. Pagi itu Laba-laba bercerita pada Anak Panda bahwa ini waktunya dia pergi berburu ke daerah lain.
Anak Panda = “Yah…sayang sekali, aku suka loh berteman denganmu, kamu inspirasiku, bahwa yang kecil tidak selamanya lemah”
Laba-laba hanya tersenyum, dia mengemasi barang-barangnya
Anak Panda = “Ada yang bisa aku bantu?”
Laba-laba = “Terimakasih. Buka saja ini”, Laba-laba mengangsurkan gulungan kertas yang di lilit benang sarang, sebelumnya, sejak laba-laba tinggal di sana, tidak se hewan pun diizinkan menyentuh apalagi melihat gulungan itu.
Anak Panda perlahan membuka. Ternyata isinya adalah gambar Panda, dibawahnya tertulis Kungfu Panda.
Laba-laba = “Aku juga suka berteman denganmu, kamu lah inspirasiku, bahwa…yang gendut tidak selamanya lemah”
Mereka tertawa terbahak. Selama ini ternyata mereka saling mengagumi.
Untuk Anak Panda, jelas sejak itu percaya diri nya menguat. Dan dia ingin itu menular.

Anak Panda dan berani

     
berani
     
Seisi hutan tahu Anak Panda sangat menyukai madu. Para lebah bahkan rela menyisakan sedikit madu yang mereka buat, khusus untuk Anak Panda. Biasanya Anak Panda akan mengumpulkan madu2 tersebut dalam sebuah wadah khusus buatan Ayah Panda, wadah itu sebuah kantung kulit sapi yang didalamnya dilapisi kaca tipis. Melihat Anak Panda sangat menyukainya Ayah Panda lalu membuatkan 3 kantung lagi berminggu-minggu lamanya.
Di musim hujan seperti sekarang Anak Panda akan membawa kantung madu itu kemana-mana, di musim ini para Lebah susah membuat madu, karena pohon-pohon jarang sekali berbunga, bakal bunga sudah ditiup angin atau diluruhkan hujan. Jadi, pikir Anak Panda, kalau dia bermain lalu tiba-tiba menemukan sarang lebah dia bisa cepat-cepat meminta madu.
 
Hari ini Anak Panda sedang bermain sendiri di tepi hutan jati, Anak Panda tahu Lebah sering membuat madu dari bunga jati. Sekarang tunas daun di pohon-pohon jati itu baru mulai keluar dari dahan, setelah sebelumnya meranggas di musim kemarau. Anak panda sedang asyik mengamati perubahan daun dan batang jati ketika tiba-tiba dia melompat kegelian, kakinya serasa menyentuh benda lunak, ihh ternyata seekor ulat kecil yang gemuk. Wah ada banyak, Anak Panda membungkuk, meletakkan wadah madunya di sandaran pohon jati lalu menyusuri Ulat-ulat yang bergeletakan.
“Kenapa kalian berjatuhan begini?” Ulat-ulat itu hanya menggeliat-geliat.
“Kalian aku bawa pulang ya, aku taruh di kebun bambuku biar kalian bisa jadi kupu-kupu” Anak Panda mengumpulkan sebanyak mungkin ulat lalu pulang. Sesampainya di rumah Anak Panda cepat-cepat menunjukkan ulat-ulat itu pada Ibu Panda
“Seharusnya kamu biarkan saja ulat-ulat ini disana, memang begitu cara mereka berubah jadi kupu-kupu”
“Di tanah begitu Bu?”
“iya, kadang bahkan sampai ditimbun daun-daun jati yang berjatuhan”
“ooo…aku kira mereka jatuh, kan biasanya kepompong bergelantungan kalau mau jadi kupu. Ya sudah aku kembalikan mereka ke sana lagi. Ibu tolong simpankan kantungku ya” Anak Panda bercerita sambil meraba pinggangnya hendak menyerahkan kantung madu.
“Eh..eh..kemana? kemana?..” Anak Panda kebingungan kantung itu tidak di tempat biasanya.
Ibu Panda ikut menoleh-noleh mencari kantung madu.
“hmmm aduh” anak panda menepuk jidat, “…aku tinggal disana tadi Bu” lalu berlari ke arah hutan jati lagi.
“Anak Pandaaa…jangan pulang terlalu sore nak!!!”, Ibu Panda cuma bisa bergeleng-geleng, sadar teriakannya tidak akan didengar.
 
Sudah lama Anak Panda mencari-cari menyusuri hutan jati, tapi kantungnya tidak juga dia temukan. Sedih rasanya, madu di kantung itu baru saja terisi separuh, seharusnya bisa dia makan untuk besok. Sambil melangkah gontai Anak Panda berjalan pulang.
“pasti ada yang mencurinya” pikir Anak Panda, dia mampir ke rumah Anak Rusa yang ada didekat hutan jati ini, “aku kehilangan kantung maduku, apa kau tau siapa yang mengambilnya rusa?”,
Anak Rusa beringsut-ingsut tidak nyaman = “ya..aku melihatnya tadi. Anak Harimau yang mengambilnya”
Anak Panda = “Anak Harimau?? buat apa dia mengambil kantung madu?”
Anak Rusa = “Ya tidak tau, tapi saranku biarkan saja, kau kan masih punya kantung lain, Anak Harimau itu tabiatnya kasar, salah-salah bisa kau yang dicelakainya”
Anak Panda = “Apapun alasannya mencuri itu tidak baik Anak Rusa, aku harus menegurnya”
Anak Panda berterimakasih lalu berpikir untuk menanyakan kebenarannya pada hewan lain. “rumah siapa lagi ya yang dekat disini..oiya..Burung Merak”.
 
Setelah itu Anak Panda menemui Burung Merak, Ular, dan Laba-laba. Mereka semua mengatakan benar Anak Harimau yang mencurinya , mereka juga mengatakan sebaiknya Anak Panda tidak menemui apalagi meminta kembali kantung madunya karena tabiat Anak Harimau yang pemarah dan tidak mau mengalah.
Anak Panda berpikir sebentar, hari sudah hampir sore, dia harus memilih, segera pulang atau menemui Anak Harimau dan merebut kembali kantung madunya.
“Ah kenapa aku harus takut, Anak Harimau kan pasti bisa kuajak bicara baik-baik. kalau aku tidak bilang bagaimana Anak Harimau tahu aku sangat menginginkan kantung itu, lagipula kalau aku tidak menegurnya Anak Harimau pasti akan terus mencuri barang-barang hewan lain”, Anak Panda melangkah ke arah rumah Harimau.
“Eh tunggu dulu, kalau dia marah lalu aku dicakar dan digigit dia bagaimana?..aduhh giginya kan tajam” Anak Panda menghentikan langkahnya, takut juga dia membayangkan akan sakit berdarah-darah.
Dia menimbang-nimbang lagi, “Tapi..kalau tidak aku coba aku tidak akan tau, lagipula yang aku lakukan ini benar kok” kali ini Anak Panda melangkah mantap.
Anak Panda sudah sampai di halaman rumah Harimau. “berhenti disitu!” sebuah suara menghentikan langkah Anak Panda.
krosak..krosak..sebuah benda dilemparkan ke arahnya, Anak Panda mengernyit, itu kantung madunya.
Anak Panda tau itu Anak Harimau = “Hey..kembalikan baik-baik padaku Anak Harimau!!”
Anak Harimau menyahut dari balik pintu = “Ahh..sudahlah, itu sudah kukembalikan, aku cuma ingin tau seperti apa rasanya madu, kenapa kau bisa sangat menyukainya. ternyata tidak enak. sudah sana…pergi”
Anak Panda melangkah ke arah pintu, dia marah Anak Harimau tidak sopan = “ayo sini keluar!…kembalikan baik-baik padaku atau kuadukan kau pada ayah ibumu!”
Lama tidak ada suara, lalu pintu terbuka, di luar dugaan Anak Harimau keluar sambil menunduk = “iya, aku minta maaf, ini aku kembalikan kantung madumu”
Anak Panda = “lain kali jangan mencuri, kau bisa bilang baik-baik bila ingin sesuatu”
Anak Harimau mengangguk lalu menutup pintu.
Haaa..lega, Anak Panda berbalik lalu melompat kegirangan, ternyata begitu saja kantung madunya kembali..tidak seheboh yang dia bayangkan.
 
Sejak itu cerita Anak Panda merebut kantung madunya dari Anak Harimau beredar di hutan, beberapa malah berkembang menjadi cerita pertarungan. Banyak hewan memberi selamat dan kagum pada keberanian Anak Panda.
Ternyata berani itu bukan turunan atau warisan gen, tapi sikap untuk bisa menghadapi rasa takut bahaya, rasa sakit, ketidakpastian atau intimidasi dan menyelesaikannya apapun yang terjadi.

Anak Panda dan Burung Hantu

      Anak Panda menunduk, tidak berani menatap Ayahnya. Belum pernah Ayah Panda marah dan Anak Panda tidak ingin itu terjadi sekarang.
Ayah Panda = “Ayah tanya sekali lagi..kamu yang rusakkan sarang-sarang itu bukan?”
Anak Panda menggeleng.
Ayah Panda menahan marah = “Baik kalo itu pengakuanmu, besok Ayah antar kamu menghadap Burung Manyar”
Anak Panda tetap menunduk sampai Ayah berlalu. ‘Ah sial sekali hari ini’, Anak Panda meruntuki dirinya sendiri. Awalnya, tadi pagi dia menemukan sarang burung terjatuh di dekat rumpun bambu, sarang itu bentuknya seperti buah alpukat tapi dibuat dari rumput-rumput kering yang disusun sedemikian rupa, unik. Ditelitinya sarang itu, ketika dia coba merogoh kedalam, dia merasakan ada beberapa sekat. ‘ini pasti ruangan2 jebakan untuk pengaman telur, pengalih para pengganggu..wah cerdas sekali’ pikir Anak Panda. ‘Burung apa ya yang membuatnya?’ Anak Panda mendongak, dilihatnya ada banyak sarang-sarang lain bergelantungan di pucuk bambu-bambu, ‘Ahaaa’ Anak Panda girang, dia segera memanjat bambu itu.

      Anak Panda masih asyik mengamati dari dekat sarang-sarang bagus itu, dia tidak menyadari datangnya serombongan Burung Manyar yang pulang dari mencari bahan sarang. Sedangkan para Burung Manyar, begitu melihat ada Anak Panda di dekat sarang langsung meneriakinya menjauh, Anak Panda kaget, reflek bergerak turun tapi menyenggol beberapa sarang sampai jatuh. Tentu saja para Burung Manyar jadi marah, Anak Panda lari terbirit-birit.

      Disitulah masalahnya, seekor Bapak Burung Manyar lalu datang menemui Ayah Panda, menceritakan kejadiannya dan meminta agar Anak Panda diberitahu untuk tidak mengganggu sarang-sarang itu lagi, kasihan para telur dan burung yang sedang ada dalam sarang.
Ughh…sekarang, sampai tengah malam begini, Anak Panda tidak bisa tidur, memikirkan apa yang harus dia katakan besok, dia sudah terlanjur berbohong, kalau dia mengaku, ayahnya pasti marah lalu menghukumnya. Anak Panda berguling-guling tidak tenang.
      Tepat dari jendela kamar dia melihat seekor Burung Hantu sedang bertengger tak jauh dari rumahnya, Anak Panda ingat Burung Hantu adalah lambang kebijaksanaan, ‘mungkin dia bisa membantu kalau aku bercerita’ harap Anak Panda.

Anak Panda menemui Burung Hantu = “Halo Burung Hantu aku Anak Panda”
Burung Hantu diam saja mengawasi Anak Panda dengan mata besarnya.
Anak Panda = “Eh hmm..engg..begini..aku ingin bercerita, boleh?”
Burung Hantu = “Tentu”
Anak Panda sebenernya agak segan bercerita..dengan wajah seram, sikap tegak dan banyak diam, Burung Hantu terkesan sangar, ‘tapi sepertinya bisa dipercaya’ pikir Anak Panda, dia lalu menceritakan semua kejadian hari ini = “…begitu ceritanya..pokoknya aku tidak berniat merusak, itu bukan salahku!!”
Burung Hantu = “Niat dan hasil memang bisa tidak sama, tapi kau harus menceritakan yang sebenarnya”
Anak Panda = “Kalau aku jujur aku nanti dihukum”
Burung Hantu = “Belum tentu, kalaupun dihukum, jujur akan melegakanmu, tidak seperti berbohong yang membuatmu gelisah begini”
Anak Panda = “Aku kan tidak bohong, aku hanya tidak menceritakan yang sebenarnya”
Burung Hantu diam saja seperti memberi jeda Anak Panda berpikir.
Anak Panda menunduk nyaris menangis membayangkan marah dan hukuman dari Ayahnya dan Burung Manyar = “Aku takut”
Burung Hantu = “Iya….yang mampu jujur memang pasti pemberani”
Anak Panda mengangkat pandangannya, menatap Burung Hantu yang mengangguk meyakinkan.
Ya, Anak Panda tahu sekarang, dia harus mengaku apa pada Burung Manyar besok.

Previous Older Entries