Peluk

“Saya bukan ibu yang baik mbak, saya sibuk kerja di kantor, jadi ndak merawat anak di rumah, sampai dia sakit begini. Teman-teman saya bilang begitu” lingkaran hitam dimatanya cukup membuat saya ikut merasakan letihnya. Saya tidak mengerti harus merespon bagaimana, jadi saya mengangsurkan makanan yang sempat saya beli di kantin rumah sakit, “Maem yuk”. Lalu mengalirlah cerita dari beliau, seorang ibu single parent yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Mbak sih perempuan yang baik ya, 100% di rumah, anak-anak sehat, suami sayang”, tutupnya sambil memandang saya. Ah, saya jelas tidak lebih baik dari beliau.

Obrolan beberapa hari lalu itu membuat saya merenung dan punya banyak pertanyaan.
Saya juga punya teman yang ibu rumah tangga, yang aktif di kegiatan lingkungan dan sekolah anaknya.
Saya juga punya teman yang ibu vegetarian, sekeluarga sehat dan jarang sekali sakit.
Saya juga punya teman yang ibu bekerja kantoran tapi anak2nya juara banyak bidang, keluarganya jadi panutan di lingkungan.
Dengan sekilas keadaan itu apakah mereka jadi wanita lebih baik dari teman saya yang di rumah sakit tadi?

Saya juga punya teman yang belum juga hamil lagi setelah keguguran dan menikah sudah 11 tahun.
Sekarang, apakah beliau semua yang bisa punya anak lantas jadi lebih utuh wanita dari teman saya yang belum juga punya anak ini?

Apakah mereka lebih baik dari satu sama lain?

Mungkin yang tampak dari luar(itu juga sedikit), tidak menggambarkan keadaan seluruhnya. Setiap keluarga pasti punya airmata tersendiri.
Seorang sahabat pernah menasehati saya : kunci tidak galau adalah menerima bahwa semuanya adalah paket lengkap, ada baiknya ada buruknya. Semua orang ada kelebihan ada kekurangannya. Semua hal ada baiknya ada buruknya.
Maka peluk erat saya untuk semua wanita, mari saling mendukung, bukan saling menghakimi ๐Ÿ™‚

Advertisements

10 menit

Aktifitas apa ya yang bisa disisipkan di sela-sela rutinitas agar semangat jadi terdongkrak lagi?
pertanyaan itu dari saya yang pembosan, untuk saya yang jadi cranky kalau sudah bosan :)).
setelah memperhatikan diri sendiri, 10 cara ini , cukup dilakukan selama 10 menit saja, ampuh jadi mood booster saya.

1.beribadah
Banyak penelitian sudah membuktikan bahwa berdoa, berbagi, berbuat baik bisa meningkatkan kesehatan mental. Jadi masuk akal juga ya kalau menjaga kesehatan fisik akan lebih mudah dilakukan jika kita bisa menjaga kesehatan mental dan mengelola stress

2.yoga
Saya awalnyaย sempat under estimate dengan olahraga ‘lambat’ ini :D, karena saya tipe yang suka olahraga heboh seperti zumba, berenang, bersepeda. Tapi seorang teman menantang saya coba mengikuti yoga ‘popsugar’, ok, mulai workout 5menit saja dulu..saya…BERKERINGAT :)).. lalu 10 menit dan 30 menit. Yoga menyenangkan

3.memasak
Sekarang ada banyak resep masakan yang cuma butuh hitungan menit sudah jadi ya, contoh saja urbancook, diy food, dapurpemula dll. Nah, setelah makanan masak dijamin pikiran segar, perutpun kenyang ๐Ÿ˜€

4.membaca
Saya suka twitter, karena beritanya pendek tapi uptodate :). Sebisa mungkin juga saya membaca hal positif, seperti goodnewsfromindonesia.org, juga yang lucu-lucu seperti 9gag. Banyak senyum dan optimis itu bikin manis dan sehat kan ๐Ÿ˜‰

5.bertemu teman
Saling bertemu muka, ngobrol di group wa atau medsos tidak masuk hitungan ya. Asal jangan jadi ajang gosip, ini ajaib efeknya, meski ngobrolnya juga hal-hal tidak penting ๐Ÿ˜€

6.menyiram kebun

anggrek-lemon
Hati jadi ringan begitu memperhatikan bahwa apa yang saya tanam akhirnya tumbuh. Apalagi kalau melihat ada capung yang jadi indikator air&lingkungan bersih terbang di antara bunga-bunga ditemani kupu-kupu, duh tukang kebun in action pokonya ๐Ÿ˜€

7.musik
Coba deh karaoke nyanyi dengan mengikuti gaya penyanyi asli, misal gaya candil nyanyi “rocker juga manusiaaaaaa”. Wih seru :))

8.main game
Saya suka main game di hp. Tapi sekarang sedang suka bermain wii, wii sports, asik juga di cuaca yang sering hujan serasa bisa tetap olahraga indoor ๐Ÿ˜€

9.menulis
Saya suka menuliskan apa yang saya rasa dalam satu hari. Kalau hari sedang jelek saya akan tulis di kertas lalu setelah puas, saya robek2 saya buang tempat sampah :)). Kalau hari saya baik atau ada ide-ide, saya akan menuliskannya di jurnal harian saya. Intinya yang sudah dilewati jangan jadi beban & pikiran.

10.melakukan hal yang sama sekali baru
Saya sedang suka belajar bahasa mandarin, meski banyak orang menyarankan betapa tidak mungkinnya saya bisa menguasainya tapi saya suka berusaha menjejalkan kata2 baru yang susah itu dalam ingatan saya :D. Saya juga sedang mencoba kebalikan beberapa hal, misal biasanya suka baca tentang pengembangan diri, sekarang sayapun baca tentang robotik, biasanya tentang fashion sekarang tentang hutan :D. Ada perspektif lain yang saya dapat.

Nah itu 10 dari saya. Semoga anda punya 11, 100, 200 aktifitas yang bisa membuat anda 11, 10, 200 kali lipat semangat ๐Ÿ˜€

Selamat beraktifitas.

JALAN

jalan-jalan

Hari ini ada demo di Jakarta, teman-teman pekerja saling berbagi info menghindari macet.
Minggu ini juga ada diskon besar dari airways ternama, teman-teman sayapun ada yang buru-buru memanfaatkannya traveling.
Saya jadi punya pemikiran sederhana, hidup ini seperti perjalanan ya.
Bukan tentang berpindah tempatnya, tapi tentang menghadapi.
Kalau ada masalah, cari jalan keluar, biasanya makin banyak wawasan, makin mudah milih solusi.
Kalau ada kesempatan baik, siapa yang punya persiapan, dia yang bisa menikmati.

Suatu saat, selama di perjalanan kita beristirahat, lalu jadi sempat memperhatikan orang lain, ndak perlu merasa iri dengan kelebihannya, karena kita tidak tau jalur mana saja yang sudah susah payah dilaluinya. Tidak perlu juga merasa punya kelebihan. Ikuti nurani saja : tawarkan bantuan kepada yang kira-kira membutuhkan dan ‘bela yang benar bukan yang lemah’.

Menurut penelitian, manusia sudah ada sejak 1 juta tahun yang lalu, jadi kita-kita yang ada sekarang ini adalahย manusia yang sudah bertahan melewati berbagai evolusi. Jelasnya kita adalah manusia yang berharga dan mulia, jadi ndak usahlahย melakukan hal yang menurunkan nilai kita itu. ๐Ÿ™‚

Yap, hidup punya berbagai sisi, selain nurani, kita butuh agama sebagai serangkaian aturan. Tanpa berpegang agama, saya rasa seseorang tidak akan kuat menjalani hidup kan ?

Ada beberapa orang yang punya kemampuan untuk menemukan jalur yang baik, jadi pemimpin. Tujuan hidup kita bisa saja sama dengan pemimpin dan banyak orang. Tapi karena kendaraan dan barang bawaan kita tidak sama, kita butuh pendidikan agar kita bisa mengumpulkan informasi untuk meghadapi jalur. Pendidikan jadi jauh lebih luas dari sekedar untuk ekonomi, gelar mempersiapkan tenaga kerja. Pendidikan =ย proses terus belajar jadi lebih baik.

Tapiiiiii :), sebaik apapun kita mempersiapkan perjalanan, pemilik semua adalah Allah SWT, kalau ada kejadian kendaraan mogok, sopir sakit, penumpang rewel, jalan rusak, kita kembalikan saja : “Hidup adalah petualangan penuh kejutan, dinikmati saja, tidak perlu dimengerti “. ๐Ÿ™‚ ย Salam jalan-jalan

 

#catatan kecil ini sepenuhnya reminder untuk wigati

Ketika Tidak Bisa Memilih 1 Diantara 3

IMG-20160720-WA0010

Saya punya 3 buku yang alhamdulillah baru selesai saya baca \(^.^)/, saya terkesan, dan ingin mencatatnya, semoga jadi manfaat juga untuk yang kebetulan membaca nya disini.
Sebenarnya buku-bukunya merupakan buku yang sudah lama terbit, tapi nilainya menurut saya akan selalu relevan, ada Bakat Bukan Takdir, Passion 2 performance, dan 5 Guru Kecilku.

Passion 2 performance, dari Rene SUhardono, tebalnya sekitar 360 halaman, tapi tidak terasa tebal atau membosankan karena layoutnya oke, kreatif :), isinya tentang penegasan Rene bahwa passion adalah aktivitas yang membuat kita merasa berdaya dan menghasilkan karya. Passion bukan sekedar hobi tapi justru salah satu unsur karir. Karir bukanlah jabatan tapi perjalanan yang berisi passion, value, tujuan hidup dan kebahagiaan. Jika seseorang sudah mempunyai passion maka perfomance/kinerjanya akan bagus, Rene membuktikannya di buku ini dengan melakukan survey ke 11 industri, yang mewakili bidang yang berbeda, ternyata hasilnya sama, bagi pekerja : perlu untuk perduli & menggali passion pribadi agar bisa menemukan karir yang tepat.
Sedang bagi perusahaan, perlu diperhatikan hal-hal yang harus dikondisikan dalam perusahaan agar pekerja bisa meningkat kinerjanya, pada akhirnya, makin besar rasa ikut memiliki perusahaan & berpikir seperti owner, makin baik kinerja mereka bagi perusahaan.
Menarik ya, saya jadi punya kesimpulan bekerja bukan lagi sekedar cara mencari gaji lalu menghabiskannya untuk membayar tagihan ini itu. ๐Ÿ™‚

5 guru kecilku, Kiki Barkiah, sudah ada 2 jilid, menjadi buku unik, karena menceritakan sebuah keluarga muslim, dengan 5 orang anak, yang rentang usia yang dekat. Beliau-beliau ini muslim taat yang pindah dari Indonesia ke Amerika mengikuti sang Bapak yang bekerja disana. Karena perbedaan kultur dan biaya sekolah islam yang mahal, maka Bapak dan Umi memutuskan menjalani homeschooling untuk 4 anak yang sudah masuk usia sekolah. Kumpulan cerita pendek didalamnya sangatlah sehari-hari, tapi sang Umi, yang berhasil mengambil hikmah di setiap kejadiannya, membuat pembaca seperti berkaca lalu membandingkan diri. Ada berbagai sisi yang diceritakan, misal,
-betapa peran Bapak sangatlah penting untuk mendukung Umi tetap konsisten menjalankan homeschooling dan bersabar mendidik anak-anak,
-betapa keluarga adalah team yang saling mendukung, karena menurut beliau kesuksesan sebuah keluarga adalah saat mampu berkumpul kembali di surga di kedudukan yang istimewa,
-ada juga sisi tentang kekhawatiran sang Umi untuk menghadapi masa janda, tapi dengan keyakinan bahwa Allah punya berbagai jalan rezeki, gaji suami hanya salah satunya, maka keinginan Umi untuk ikut bekerja diurungkan agar mampu fokus mendidik anak-anak
-betapa pendidikan agama sangatlah berperan penting untuk membatasi dan menjaga anak, benih jiwa yang kelak diharapkan tumbuh baik dan sukses.
-dan ada list link dan ide permainan untuk anak-anak mengisi homeschooling
Buku ini perlu dibaca oleh seluruh ibu muslim, terutama yang cengeng seperti saya *shy*, pelajaran baik dari sesama ibu yang selalu mendoakan keselamatan anak-anaknya.

Bakat Bukan Takdir, Bukik Setiawan & Andrie Firdaus, rasanya lebih merupakan buku pintar untuk orangtua, karena ditulis oleh praktisi psikologi :). Didalamnya Bukik dan Andrie menjelaskan bahwa bakat anak adalah passion, dan berdasar usia dan kematangan, anak mempunyai 4 fase pengembangan bakat.
-usia 0-7 tahun, fase eksplora (stimulasi, kenali, refleksi)
-usia 7 – 13 tahun, fase belajar mendalam (tanamkan gemar belajar)
-usia diatas 13 tahun, fase arah karir (menampilkan hasil belajar)
-usia diatas 18, fase karir(mendapatkan pengakuan dari masyarakat atas bakatnya)
Anak-anak bukanlah kertas kosong, tapi mereka adalah bibit, dan jika diibaratkan telur, maka peran orangtua adalah mengerami, menstimulusnya bukan mendesak dan memecahkannya dengan tekanan dari luar. Ada berbagai macam kecerdasan anak(kecerdasan majemuk), maka jika kita yang hidup di era industri, pola pendidikannya harus berubah mengikuti kebutuhan pendidikan anak kita di zaman kreatif sekarang ini. Maka orangtua, kedudukannya bukan pembayar jasa guru, tapi rekanan guru. Dan tugas orangtua bukan menanam, tapi menumbuhkan anak.
Buku ini membuka wawasan saya, bahwa anak mendapat benang merah dari sekolah, benang biru dari tempat les, benang kuning dari teman, benang hijau dari buku, media, internet, peran orangtua untuk membantu anak merajut benang pengetahuan itu jadi kain kearifan yang indah ๐Ÿ™‚

Itu sekilas review saya atas 3 buku tersebut, ujung-ujungnya kesimpulannya saya perlu terus upgrade diri dengan membaca. Salam membaca teman-teman ๐Ÿ™‚

Panjang Sumbu

IMG_20160405_101506
Dari jauh, eyang Leli, teman saya di posyandu lansia, sudah sumringah melambaikan tangan. Saya balas sumringah mendekat. “Katanya ulang tahun ya jeng, semoga panjang sumbu dan berkah ya”.
Saya tersenyum lebar, saya yakin eyang mengatakan “semoga panjang umur”, telinga saya saja yang ndak bener :).
Tapi setelah dipikir-pikir, memang iya, semoga saya panjang sumbu, tidak gampang tersinggung, tidak gampang meledak-ledak.
Karena terasanya sih saya masih sering dikit-dikit baper sama sikap orang lain, hal-hal yang tidak bermasalah harusnya, kalau tidak saya masukkan hati. Jadi kalaupun terpaksa harus terbakar semoga saya jadi kembang api saja, memperindah yang gelap ๐Ÿ˜€
Di umur ini saya sadar bahwa manusia itu ‘berubah’, ‘bergerak’, dan ‘tumbuh’. Makin dewasa makin banyak tanggung jawab, makanya harus punya kemampuan memudahkan yang rumit. Tapi disamping bertambah tua & bertambah ‘beban’, sebenarnya semakin bertambah juga peluang untuk jadi makin baik & makin sukses. Iya kan?
Maka sambil mengamini doa eyang, saya juga berdoa semoga Allah berkenan menjadikan saya manusia yang pandai bersyukur dan cerdas. Aamiin.
Saya pun mendoakan anda, saya yakin semakin banyak dikelilingi orang baik seperti anda, saya akan terikut baik. Selamat hari baik teman-teman ๐Ÿ™‚

Semoga Kita Bahagia

Saya sedang sibuk mencuci piring, ketika tv di ruang sebelah lamat-lamat terdengar suara seorang perempuan sedang berorasi, ditimpali tepuk tangan riuh penontonnya. Saya bukan komunikator verbal yang baik, saya merasa lebih bisa berkomunikasi lewat tulisan, jadi kalau ada seseorang yang bisa berbicara menyampaikan pemikirannya dengan bahasa runut & sederhana, apalagi kalau beliau perempuan..saya pasti akan menyimak..pasti ๐Ÿ™‚

Saya buru-buru mendekat, ternyata acara ini berisi potongan-potongan wawancara perempuan yang berpengaruh di Indonesia :

Pertanyaan : “Ibu dulu model sebelum menikah?”
Jawab : “(tertawa) iya waktu masih muda, sekarang kegiatan utama saya jadi banyak membaca, banyak wawasan, agar kalau bicara dengan bapak atau teman-teman, meski cuma celetukan, bisa nyambung. Kalau tidak bisa mengikuti nanti saya ketinggalan di belakang kan, lama-lama nanti hilang (tertawa), bapak berkembang, saya juga berkembang.”

Pikiran saya sibuk mencerna, dibalik kata-kata ibu cantik yang terlihat riang itu sebenarnya maknanya dalam.
Iklan. Saya tidak sempat membaca nama si ibu cantik. Sudah ganti narasumber. ๐Ÿ˜ฆ

P : “Waktu Bapak dapat beasiswa ke Korea ibu bekerja disana?”
J : “Iya, Bapak itu organisator sejati, karena tunjangan beasiswa tidak cukup untuk hidup sehari-hari dan Bapak banyak berurusan organisasi disana, jadi saya merasa perlu bekerja, pekerjaan pencuci piring restoran juga saya jalani. Alhamdulillah hidup kami cukup.”

P : “Berarti benar ya Bu, dibelakang setiap laki-laki sukses ada perempuan hebat?”
J : “Ada ibu dan istri ya perempuannya, kalau ibu pasti didikan ibu yang hebat, kalau istri..saya rasa terlalu berlebihan ya kalau dibilang hebat, saya percaya bapak punya kemampuan hebat, yang beliau perlukan itu istri yang bahagia, jadi kalau beliau di rumah tenang, ditinggal bekerja juga fokus.”

Saya terpesona, si ibu terlihat jutaan kali lipat lebih cantik dari miss universe, hanya dengan beberapa potong kalimat. Saya amati wajahnya, cara berbicaranya, teduh bukan main. Dan yak, saking fokusnya, saya lewatkan lagi footnote nama beliau. Iklan lagi. Ganti narasumber. ๐Ÿ˜ฆ

P : “Menurut cerita, sejak dari kecil ibu memang selalu jadi pemimpin, apakah ini bakat?”
J : “Saya rasa, kalau dilihat dari pintar atau bakat, saya tidak ada apa-apanya dibanding yang lain. Di bisnis atau di jabatan ini, saya cuma lebih tahan banting, lebih ngotot atau bahkan mungkin terobsesi (tertawa) dengan tujuan-tujuan saya.”

Luar biasa, tau-tau acara sudah berakhir, dan tangan saya panas akibat belum cuci tangan dengan benar sepertinya :D, tapi pikiran saya seperti sudah bersih tercuci kesimpulan baru.

Untuk menjadikan suami sukses, jadilah istri bahagia.
Untuk jadi perempuan sukses, jadilah lebih tahan banting.
Itu saja, insyaallah. ๐Ÿ™‚

Prioritas

Seorang kenalan mengeluh, “gila ya, kerjaan gue gak habis2, kapan ketemu anak gue gini caranya”, baru beberapa waktu lalu dia naik jabatan. “lah..kenapa mau ditambah kerjaan?”, “ya, gimana lagi..udah ditunjuk bos, lagian cuma gue yang bisa ngerjain”
Saya ndak bermaksud menghakimi, tapi saya jadi bercermin : betapa pentingnya punya rencana & prioritas hidup.
Kalau kata Rene Suhardono, : jangan memilih pekerjaan yang menjauhkan kita dari tujuan hidup.
Ya iya sih, logikanya, kalau punya tujuan, lalu ditengah jalan diberi pilihan, dia pasti bisa menentukan prioritas.
Misal, tujuannya atau rencananya, punya pekerjaan yang masih bisa punya waktu untuk anak, ya pilih jabatan yang akomodir, boleh-boleh saja kan menolak promosi jabatan :). Begitupun kalau sudah menyanggupi suatu jabatan tertentu ya harus faham dulu segala konsukuensinya, lalu jalani seprofesional mungkin.
Kalau tempat kerja ndak memungkinkan untuk membuat pilihan..cari tempat lain atau bikin sendiri ๐Ÿ™‚
Tiap orang berhak punya rencana berbeda-beda, bahkan yang paling eksentrik sekalipun, ‘saya mau jadi perempuan kaya, bisa belanja apapun yang saya mau’..ya dijalani saja kerjanya, setiap tujuan butuh pengorbanan kan.

Tapi mungkin, semua jadi berbeda kalau ada hubungannya sama cinta ya..kalau sudah melibatkan perasaan, orang susah mengkaji, keputusan ini sesuai tujuan hidup tidak, alasan-alasannya masuk akal tidak, saya sanggup tidak melakukannya. Yang dipikir hanya yang dicinta, apa keputusan ini bisa membahagiakan dia. Susahhh ๐Ÿ˜€

Kembali lagi ke topik, yang jelas, dalam bekerja, seseorang pasti ada dalam sebuah team. Di jabatan tertentu malah mempimpin team. Pastikan kita bertanggung jawab tidak hanya pada diri sendiri tapi juga pada team. Pastikan juga bukan hanya hasil kerjanya yang sesuai tapi juga prosesnya.

Eh ini menurut saya loh ya…manajer rumah tangga yang mendadak jadi pengamat hidup :D… karena saya perduli pada kebahagiaan orang-orang disekitar saya ๐Ÿ™‚

 

Previous Older Entries