Pensiun

Cuaca Jakarta yang sedang tidak ramah, memaksa saya terduduk di sebuah cafe mungil di daerah selatannya. Saya memperhatikan suasana, hujan deras, pengunjung tidak banyak, di meja seberang saya, seorang Bapak sudah berumur sedang serius menghadap laptopnya. Tidak lama seorang perempuan muda menenteng beberapa berkas bergabung di meja itu.
Perempuan dengan sumringah menyapa: “Wah, terimakasih lho Pak, jam segini masih bisa saya hubungi, gak ngira habis pensiun Bapak masih semangat kerja ya Pak”
Bapak tertawa sopan : “aduh Mbak, kalau bukan karena anak-anak saya masih kecil, mending di rumah ini”
Setelah itu saya tidak mendengar lagi obrolan mereka yang ‘kuping-able’ karena jaraknya yang dekat 😀 . Saya asik dengan pikiran saya.
Pensiun.
Apa sih pensiun itu? pensiun itu tidak bekerja lagi karena dianggap sudah tidak produktif. Di Indonesia usia pensiun adalah di 56 tahun, beda dengan negara maju yang 65 tahun, bahkan Jepang yang 70 tahun.

Saya ndak mau ah jadi seperti Bapak tersebut. Di tua nanti saya ingin tetap bekerja karena saya ingin berkarya, bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup. Apa ya yang harus saya lakukan?
Kalau umur saya sekarang hampir 36 tahun, berarti saya akan pensiun 20 tahun lagi. Menabung! Ya itu harus saya lakukan.
Tapai kalau sekedar menabung konvensional, tentu hasilnya tidak seberapa. Investasi! nah itu lebih tepat.

Investasi ada 2 level : untuk tujuan jangka panjang(misal: menanam pohon jati) dan untuk menghasilkan rutin/pengganti gaji(misal: membuka kedai kopi).
Nah, level pertama sudah terpikirkan, bagaimana dengan level investasi untuk pengganti gaji nanti? usaha apa yang cocok untuk pensiunan?
Sepertinya ya…menurut saya, ini pilihan kok, bukan kewajiban, pemasukan memang dibutuhkan, tapi jika memang beresiko pada keuangan/malah membebani, mending cari kegiatan dan kesenangan baru untuk mengisi waktu. Ya kan?

Ok, cara-cara sukses untuk menghadapi usia pensiun sudah tahu, sekarang faktor apa yang kira-kira bisa menghambat?
Saya google dong 😀 …menurut Ligwina Hananto, ada 5 alasan gagal pensiun :
1. BOROS
Masuk akal sih ya, pemasukan berkurang tapi kalau gaya hidup tetap sama, simpanan pensiun ya lama-lama habis juga.
2. TIDAK INVESTASI
PNS masih menerima pensiunan, kalau pegawai swasta atau pengusaha? pilihannya ya harus tetap bekerja
3. BISNIS BANGKRUT
Sepanjang umur produktif terbiasa bekerja secara team sebagai pegawai, lalu tiba-tiba harus berbisnis, bekerja mandiri, pasti banyak yang tidak siap. Maka persiapan berbisnis di usia pensiun perlu direncanakan dan dilakukan jauh-jauh hari, dari sekarang, bangkrut-bangkrutnya sekarang saja, nanti setelah tua sudah stabil 🙂 . Bahkan sesaat sebelum pensiun, rencana keuangan harus direview lagi, masih relevan tidak.
4. TIDAK PUNYA FASILITAS KESEHATAN
Waktu masih jadi pekerja, sakit kita masih bisa tercover perusahaan. Kalau sudah pensiun? dengan kesehatan yang terus menurun, dana kesehatan pasti harus jadi prioritas, jangan sampai mengganggu dana hidup sehari-hari.
5. ANAK GAK MANDIRI
Di negara maju, orang-orang tua masih bekerja karena ingin mandiri, tidak merepotkan anak. Tapi disini sering kita jumpai, orang-orang tua masih bekerja karena direpoti anak.

Selesai coret-coret, saya sedikit tenang, karena jadi tahu jalan menuju tua secara finansial. Jadi gimana sekarang? work hard travel harder? 😀 . Well, apa-apa baiknya seimbang ya, prepare seimbang, menikmati hasil juga seimbang. 🙂

Semoga saya dan anda menua dengan bahagia 🙂

 

Advertisements

Rawon

            Lia terduduk lemas, pecahan vas dan karangan bunga mawar berserakan tepat di kakinya. Juga kartu ucapan berwarna merah muda, lumat diinjak-injaknya, tapi tulisannya masih terbaca “beatiful things don’t ask for attention, baby”, tulisan tangan Hendra, suaminya. Ah sebentar lagi dia harus menyebut Hendra sebagai mantan suami, karangan bunga tadi ditempeli berkas surat cerai. Lia menangis lagi, dia merasa dipermainkan nasib. Dua bulan lalu, ibunya baru saja meninggal dunia, tidak lama setelah itu Hendra menceraikannya.

            Lia ingat dia mengamuk ketika Hendra pertama kali meminta berpisah, dia tak mengerti dengan apa yang sebenarnya menjadi masalah.
Hendra hanya mengatakan “Hidup ini singkat, saya tidak sanggup menjalaninya dengan tidak bahagia”.
Lia marah “Untuk bersama kamu, aku lawan Ibuku, satu-satunya orangtuaku yang masih hidup, yang tidak setuju aku memilihmu. Demi kamu! demi kamu mas, sekarang begini kamu ?!”
Hendra beranjak pergi. Lia menahan lengannya. “Kenapa? jawab! karena aku belum kasih kamu anak?”
Hendra mendorong Lia dan bergegas pergi.
Lia cuma bisa berteriak “pengecuttt!”
Sejak itu Hendra menghilang. Dan Lia tidak berhenti mengenang apa yang kira-kira menjadi masalah.
Mereka menikah sudah 7 tahun dan sama-sama sibuk bekerja. Lia merasa mereka baik-baik saja, bisa mempunyai rumah, mobil, berlibur ke luar negeri, mereka sejahtera.
Lia terus mencari tahu tentang Hendra, beberapa hari lalu akhirnya dia bisa menemukan Hendra, sedang mesra bersama perempuan muda di sebuah restoran. Meski emosinya serasa meledak, tak urung Lia bisa mendapat informasi dari pelayan-pelayan disana. Perempuan itu adalah pemilik restorannya, dan Hendra yang membiayai bisnis ini.
Lia berpura-pura membaca menu mengaburkan airmatanya yang hampir menetes, disana tertera : ‘rawon spesial’, menu kesukaan Hendra, kesukaan Lia juga.

             Esoknya, Lia menelfon mencari Hendra sampai ke perusahaan Hendra, bermaksud meminta bertemu untuk bicara baik-baik. Tapi yang datang setelah itu justru karangan bunga mawar warna merah tadi.
Tertegun, Lia ingat suatu waktu Hendra memang pernah memintanya belajar memasak, tapi Lia hanya tertawa, urusan kantornya lebih penting dari sekedar berkotor-kotor berkeringat di dapur jawabnya.
Atau apakah iya, ia kurang memperhatikan kebutuhan Hendra ?, Lia tersenyum pahit melihat notes di dekat telefon rumah, berisi belasan nomer telefon restoran favorit Hendra, dia yang membuatnya “nih, kalau mau makan tinggal pesan”.

            Lia lalu ke dapur, dapur yang lengkap tapi selalu bersih, karena jarang dipakai. Di ujung rak dilihatnya toples bumbu kiriman dari Ibu. Dulu setiap 2 minggu Ibu rajin berkirim bumbu, bumbu rawon, bumbu nasi goreng, bumbu saos spaghetti berjajar rapi dalam toples-toples kaca kecil. Lia sebenarnya melarang untuk tidak repot-repot, tapi ibu selalu menjawab “kalau-kalau kamu lapar tengah malam atau sarapan, masakkan untuk suamimu, meski cuma ini atau tahu tempe hangat-hangat ya”. Lia hanya mengangguk saja, tapi bagaimana mau sarapan berdua, mereka berangkat kantor terpisah berbeda arah, pagi sekali, setelah shubuh.

           Lia menghela nafas, memandang toples, sembari mengingat ayah dan ibunya, ayahnya meninggal saat Lia masih berumur 10 tahun, akibat penyakit jantung, sejak itu Ibu bekerja dan tidak menikah lagi, bandingkan dengan nasibnya sekarang, rumah tangganya kandas tanpa menunggu maut memisahkan.
Tiba-tiba dilihatnya ada kertas kecil terselip dibagian bawah toples, toples itu ada 2 lapis ternyata, disela-selanya ada celah. Dia ingat dulu pernah bertanya tapi Ibu hanya menjawab menggoda “itu kertas resep rahasia, rahasia negara”. Mereka lalu tertawa-tawa berdua.

           Ketika kertas kecil itu bisa diraihnya, tulisannya singkat saja ternyata “jangan anggap sepele, dalam memasak itu ada rasa, perhatian, usaha dan cinta“. oh Ibu, pesan-pesannya ternyata tercatat agar dibacanya. Dadanya sesak, Lia menciumi kertas itu, membayangkan betapa ibunya menasehati banyak hal penting, tapi tak pernah didengarkannya dengan serius.

Uap

Ruangan ini hingar bingar. Dia bicara di telinga saya = “Saya setuju dengan tulisanmu yang bilang kita ini hidup seperti air, orang tua kayak saya ini power nya cuma jadi uap, nunggu kembali ke asal”.
Saya kaget, bukan itu maksud analog saya. Saya masih mencerna kata-katanya waktu dia pamit, saya melambai-lambaikan tangan bukan tanda perpisahan tapi tanda saya tidak setuju dengan kesimpulannya.
Di (QS 67:15) kataNya hidup ini memang tidak susah, tapi mengalir juga harus punya power, masa iya kalau mentok terus menggenang, bisa jadi sumber penyakit sekitar nanti. Power yang dipunya juga kalau bisa ditambah lalu dipakai untuk membantu sesama, agar jadi manfaat.
Ngomong-ngomong soal uap, uap itu powerfull, mesin pertama dari segala mesin, mesin uap kan?
Tapi ya…terserah juga sih, mau jadi uap atau air hujan, air mineral, air laut, mungkin yang penting ujung-ujungnya taat sama Tuhan. 🙂

Roda

Dulu

“Oh, silahkan, biar OB saja nanti yang antar bu…dengan Rado ya bu”

Saya mengernyit, “Nama OB nya Rado?”, mbak receptionist mengangguk.

Aneh..kok ada orang namanya Rado, ‘Roda kali atau Dora?’ batin saya. Tapi eh..’Wigati.’ juga aneh ding, saya urung protes.

Pak Rado ternyata orang yang ceria dan handy, suka membantu orang. Tidak pernah saya dengar dia mengeluh soal pekerjaan, justru temannya yang bercerita, “Harusnya pak rado itu sudah lama diangkat jadi pegawai tetap seperti kami ini bu, tapi ada yang gak suka sama dia..gesekan gitu”

Sekarang

Pak Rado bukan OB lagi, tapi punya beberapa bisnis, termasuk ‘supply human resource’ untuk kantor lamanya itu.

Di jaman purba, untuk memindahkan benda, manusia mendorong atau mengangkat begitu saja benda-benda itu:  mendorong batu besar, mengangkat hewan. Gaya gesek terjadi antara 2 benda yang bergerak berlawanan arah.

Lalu mereka menemukan roda. Ditambah sumbu, gesekam jadi kecil dan beban berat bisa jauh lebih ringan.

Pak Rado yang memutuskan jadi roda dengan banyak membantu orang lain, menambahkan sumbu dengan sikap berusaha dan ikhlas. Sehingga bukan hanya bebannya yang terangkat, beliau bahkan bisa mendorong orang lain.

Karena roda hidup terus berputar, mari saling memudahkan, narablog 🙂

Laut

laut
    Hari ini saya melihat lomba berenang anak balita di kolam yang dalamnya 3 kali tinggi badan mereka. Mengagumkan melihat keberanian mereka, meskipun ada yang tenggelam karena grogi banyak penonton, tapi sebagian besar sudah pandai berenang, terbayang latihan yang kemarin-kemarin mereka jalani 🙂
    Mungkin begitu juga keberanian orang dewasa menghadapi laut lepas.
Buat saya, laut adalah perpaduan ketenangan dan ketakutan, menenangkan karena biru seperti tak terbatas, sekaligus menakutkan karena menyimpan kekacauan tak terduga, sesiap apapun manusia, cuaca yang menentukan, tenggelam taruhannya.
    Tapi saya pernah mendengar cerita seorang teman yang keluarganya berlayar dari Lombok ke Sumbawa memakai rakit bambu. Katanya disitulah dia mulai percaya Tuhan, dia merasa kecil sekali di laut itu. Mungkin begitu para pelaut atau para nelayan yang sudah terlatih menghadapi laut, tidak takut lagi, karena justru dalam keadaan kacau itulah mereka belajar banyak, bukan saat rencana pelayaran berjalan sempurna.

EGP

    Di sebuah restoran cepat saji. 2 anak kecil, kakak adik, kira-kira berumur 7 dan 9 tahun.
Kakak = “Adek mau pesen apa?”
Adek = “Abang, uangnya cukup gak nanti? Kan receh bang..malu”
Kakaknya cuek. Begitu makanan datang, kakaknya makan pakai tangan.
Adek = “Kok pake tangan, kayaknya diketawain tuh abang”
Kakak = “Emang Gue Pikirin?!”
Buat anak-anak, EGP mungkin bisa jadi bentuk ketidakperdulian, meskipun bisa positif, berpikirnya hanya berdasar penilaiannya sendiri 🙂
 
    Di sebuah ruang tunggu dokter. Seorang nenek mengantarkan seorang ibu-ibu.
Ibu = “…Sakit hati gue sama dia Wak, seenak-enaknya aja memperlakukan orang. Jangan-jangan gue sakit juga dia yang bikin nih Wak…”
Nenek diam saja.
Ibu = “..waktu itu dia juga ngehina Uwak didepan Mama..bla bla bla”
Akhirnya Nenek menyahut tenang= “Emang Gue Pikirin?.. Sudahlah Yu, gak usah mikir orang lain ”
Untuk orang dewasa, EGP mungkin bisa jadi tanda kebesaran hati, positifnya jiwa. Berpikirnya tidak terpengaruh penilaian orang sekaligus tidak gampang menilai orang.
 
    Seorang janda 3 anak rugi dalam bisnisnya, juga sedang bermasalah dengan istri baru suaminya.
Dia tersenyum saja saat saya tanya bagaimana nanti kabarnya = “Emang Gue Pikirin?.. Bagianku cuman berusaha hidup bener, lainnya Tuhan yang atur. Silahkan Tuhan kasih apa saja, aku akan berusaha bersyukur”
Sebagai manusia beriman, selalu menimbang penilaian Tuhan, bisa bijak berpikir untuk memilah, kapan harus menerima, kapan harus merubah hidup.
 
 
Salam EGP, Narablog 🙂

Ukuran

ukuran langkah
    Wajahnya menyiratkan lelah, tapi nada bicaranya semangat sekali. Sudah sebulan ini dia mengikuti talkshow seorang motivator terkenal, dimanapun talkshow itu digelar. Begini hasilnya,
“Katanya.. kalau kau menghadapi masalah hidup, itu tuh sebenarnya cuma masalah ukuran” dia serius menjelaskan.
“Ukuran?” saya bingung.
“Gini, kalau masalahmu besar, kau harus membuat hati dan pikiranmu berukuran lebih besar dari masalah itu.. Jadi ketampung kan, dikau jadi bisa lihat celah solusinya, ketemu jalanmu” paparnya
Saya mengangguk-angguk.
“Atau kecilkan masalahmu, biar banyak masalah yang bisa ditampung hati dan pikiranmu. Paham?”
Saya lagi-lagi mengangguk.
“Kayak patung kucing keberuntungan deh manggut2” komentarnya 🙂
    Mungkin di tahun baru ini saya juga harus begitu, besarkan kemampuan saya untuk mewujudkan resolusi saya, dan kecilkan ukuran masalah saya. Agar ringan langkah saya bagaimanapun jalannya, hanya takdir Tuhan batasannya.
    Selamat tahun baru narablog, selamat bertambah umur, selamat punya kesempatan-kesempatan baru.

Previous Older Entries