Wigati

JUST WANT TO DOCUMENT & SHARE…

Sabar itu Cerdas March 12, 2013

Filed under: Daily — wigati10 @ 6:14 am

Debat.
“Sabar itu beda tipis sama lemah” katanya,
“Lemah lembut?..Enggak dong, sabar itu dekat sama sukses” sahut temannya.

“Iya kan?” dua-duanya kompak berpaling ke saya. Saya cuma bisa mengangguk sambil nyengir manis.
Menurut saya sih, sabar itu harus bisa dilakukan di dua kondisi itu, waktu lemah dan waktu sukses.
Sabar waktu susah berarti tetap semangat berusaha memperbaiki keadaan.
Sabar waktu jaya berarti menahan diri untuk tidak terjerumus ke hal-hal buruk.
Karena watak orang sukses sejati adalah saat dia mempunyai semuanya, termasuk kesempatan dan kemampuan untuk berbuat buruk, tapi dia mampu bertahan untuk berbuat yang baik dan benar saja.
Jadi menurut saya…ini menurut saya loh ya :) ..orang sabar itu pasti orang cerdas.

 

Anak Panda dan Percaya Diri February 28, 2013

Filed under: Uncategorized — wigati10 @ 12:33 am

Di musim hujan seperti ini, hujan bisa turun seharian. Ayah Panda punya ide untuk membuat jemuran daun di dalam rumah, kalau hari hujan, daun-daun bambu yang kuyup itu bisa tetap segar disimpan di dalam rumah, dan mereka tidak perlu lagi berbasah-basah makan di pohon bambu luar.
Anak Panda yang sedang flu, suka sekali dengan ide itu, meski terbersin-bersin dia semangat membantu Ayah Panda.
Tapi waktu bersinnya menerbangkan tumpukan daun-daun bambu, Ibu Panda jadi menegur = “Ibu suruh apa tadi..berjemur kan? mumpung ada matahari di luar, biar sembuh flu mu Anak Panda”
Anak Panda bersin lagi, kepalanya terasa berat = “Aku tidur saja ya Bu”
Ibu Panda = “Eh berjemur dulu”
Anak Panda diam di tempat. Malas.
Ayah Panda membisiki Anak Panda = “Sudahlah..menurut saja..sebelum..”
Ibu Panda = “Ayo Anak Panda…atau Ibu larang kamu makan madu seharian”
Ayah Panda berbisik lagi = “Nahhh kan apa Ayah bilang..”
 
Anak Panda tersenyum masam, langsung menghambur ke halaman. Daripada tidak makan madu.
Tapi ah, Ibu Panda benar, setelah 5 menit…10 menit..15 menit, ada hangat yang menjalar di punggung lalu menyebar ke seluruh badan Anak Panda. Anak Panda merentangkan tangannya, hore badannya lebih segar sekarang.
“Teruskan makan dan minum yang banyak, Anak Panda”, rupanya Ibu Panda memperhatikan dari jendela daritadi.
Anak Panda tidak membantah lagi. “Iya bu” sahutnya sambil berlari ke arah rumpun bambu.
 
percayadiri
 
Sambil telentang Anak Panda mengunyah daun bambu nya perlahan, tepat di atas dilihatnya ada Laba-laba sedang sibuk menggotong gulungan benang, berjalan hati-hati di atas garis-garis berwarna-warni.
Anak Panda = “Hey..kau sedang apa Laba-laba?”
Laba-laba serius = “Membuat rumah sekaligus piringku”
Anak Panda bangkit = “Wah..itu bagus sekali”
Laba-laba melihat Anak Panda menjulurkan tangannya = “Eitss!!! jangan sentuh ya, bisa berantakan rumahku”
Anak Panda kaget = “oh eh iya iya maaf..tapi itu gulungan benangmu seperti tidak ada habis-habisnya, apa banyak yang harus kau kerjakan?”
Laba-laba = “Tidak juga, tapi dari gulungan benang ini memang bisa jadi apa saja..ayunan, jemuran, lompat tali”
Anak Panda terpesona = “wow..iya ya jemuran..wah, tadi Ayahku juga sedang membuat jemuran loh. Bisa tidak kau mengajariku cara membuat gulungan benang itu?”
Laba-laba diam sebentar lalu menyahut = “Bisa saja asal kakimu 8″
Anak Panda melongo tapi lalu tertawa cekikikan = “hihihi baiklah…aku tidak akan menganggumu lagi”
 
Keesokan harinya Anak Panda datang lagi, niatnya hanya ingin melihat cara Laba-laba membuat sarangnya, tapi Anak Panda malah cerewet bertanya.
“Kalau hewan lain bisa lengket di sarangmu, kenapa kau sendiri tidak Laba-laba?”,
“Apa benangnya sering putus”
“Apa dari bayi kau sudah bisa membuat sarang?”
 
Semakin hari semakin memperhatikan Laba-laba, Anak Panda jadi kagum. Kalau ada pertemuan hewan dia pasti bercerita pada hewan-hewan lain betapa hebatnya Laba-laba, kalau sudah begitu dia bisa lupa waktunya makan.
“Bayangkan ya, Laba-laba itu bisa membuat sarang yang rumit. Kalau ukuran dia diperbesar sampai seukuranku, terbayang kan seberapa besar sarang yang bisa dia buat? Mungkin bisa sebesar rumpun bambu itu ya?”, hewan-hewan yang mendengarkan mengangguk-angguk.
“Sarangnya itu juga perangkap yang jitu, sering sekali aku melihat serangga terperangkap disitu, tidak perlu memakai racun. Memang sih ada kelemahannya, matanya yang 8 buah itu tidak bisa melihat jelas, tapi dia cukup mengandalkan getaran hewan lain loh untuk menandai musuh atau calon mangsanya”
Biasanya cerita panjang lebar itu ditutup dengan pernyataan Anak Panda = “Kalau bisa berubah aku ingin sekali jadi laba-laba”. Tentu saja itu mengundang protes dari teman-temannya, obrolan jadi riuh, Anak Panda banyak diingatkan untuk bersyukur dengan yang dipunyainya.
Anak Panda tersenyum-senyum saja = “Tau tidak, di ruangan Bapak Pengawas, ada gambar manusia laba-laba, namanya Spiderman…nah..lihat..manusia saja ingin jadi laba-laba kok”
Setelah itu obrolan biasanya jadi makin riuh. Sebenarnya itu saja yang Anak Panda tuju, supaya semua yang hadir jadi saling bicara.
 
Setelah berminggu-minggu. Pagi itu Laba-laba bercerita pada Anak Panda bahwa ini waktunya dia pergi berburu ke daerah lain.
Anak Panda = “Yah…sayang sekali, aku suka loh berteman denganmu, kamu inspirasiku, bahwa yang kecil tidak selamanya lemah”
Laba-laba hanya tersenyum, dia mengemasi barang-barangnya
Anak Panda = “Ada yang bisa aku bantu?”
Laba-laba = “Terimakasih. Buka saja ini”, Laba-laba mengangsurkan gulungan kertas yang di lilit benang sarang, sebelumnya, sejak laba-laba tinggal di sana, tidak se hewan pun diizinkan menyentuh apalagi melihat gulungan itu.
Anak Panda perlahan membuka. Ternyata isinya adalah gambar Panda, dibawahnya tertulis Kungfu Panda.
Laba-laba = “Aku juga suka berteman denganmu, kamu lah inspirasiku, bahwa…yang gendut tidak selamanya lemah”
Mereka tertawa terbahak. Selama ini ternyata mereka saling mengagumi.
Untuk Anak Panda, jelas sejak itu percaya diri nya menguat. Dan dia ingin itu menular.

 

Anak Panda dan berani January 12, 2013

Filed under: Daily — wigati10 @ 1:56 am

     
berani
     
Seisi hutan tahu Anak Panda sangat menyukai madu. Para lebah bahkan rela menyisakan sedikit madu yang mereka buat, khusus untuk Anak Panda. Biasanya Anak Panda akan mengumpulkan madu2 tersebut dalam sebuah wadah khusus buatan Ayah Panda, wadah itu sebuah kantung kulit sapi yang didalamnya dilapisi kaca tipis. Melihat Anak Panda sangat menyukainya Ayah Panda lalu membuatkan 3 kantung lagi berminggu-minggu lamanya.
Di musim hujan seperti sekarang Anak Panda akan membawa kantung madu itu kemana-mana, di musim ini para Lebah susah membuat madu, karena pohon-pohon jarang sekali berbunga, bakal bunga sudah ditiup angin atau diluruhkan hujan. Jadi, pikir Anak Panda, kalau dia bermain lalu tiba-tiba menemukan sarang lebah dia bisa cepat-cepat meminta madu.
 
Hari ini Anak Panda sedang bermain sendiri di tepi hutan jati, Anak Panda tahu Lebah sering membuat madu dari bunga jati. Sekarang tunas daun di pohon-pohon jati itu baru mulai keluar dari dahan, setelah sebelumnya meranggas di musim kemarau. Anak panda sedang asyik mengamati perubahan daun dan batang jati ketika tiba-tiba dia melompat kegelian, kakinya serasa menyentuh benda lunak, ihh ternyata seekor ulat kecil yang gemuk. Wah ada banyak, Anak Panda membungkuk, meletakkan wadah madunya di sandaran pohon jati lalu menyusuri Ulat-ulat yang bergeletakan.
“Kenapa kalian berjatuhan begini?” Ulat-ulat itu hanya menggeliat-geliat.
“Kalian aku bawa pulang ya, aku taruh di kebun bambuku biar kalian bisa jadi kupu-kupu” Anak Panda mengumpulkan sebanyak mungkin ulat lalu pulang. Sesampainya di rumah Anak Panda cepat-cepat menunjukkan ulat-ulat itu pada Ibu Panda
“Seharusnya kamu biarkan saja ulat-ulat ini disana, memang begitu cara mereka berubah jadi kupu-kupu”
“Di tanah begitu Bu?”
“iya, kadang bahkan sampai ditimbun daun-daun jati yang berjatuhan”
“ooo…aku kira mereka jatuh, kan biasanya kepompong bergelantungan kalau mau jadi kupu. Ya sudah aku kembalikan mereka ke sana lagi. Ibu tolong simpankan kantungku ya” Anak Panda bercerita sambil meraba pinggangnya hendak menyerahkan kantung madu.
“Eh..eh..kemana? kemana?..” Anak Panda kebingungan kantung itu tidak di tempat biasanya.
Ibu Panda ikut menoleh-noleh mencari kantung madu.
“hmmm aduh” anak panda menepuk jidat, “…aku tinggal disana tadi Bu” lalu berlari ke arah hutan jati lagi.
“Anak Pandaaa…jangan pulang terlalu sore nak!!!”, Ibu Panda cuma bisa bergeleng-geleng, sadar teriakannya tidak akan didengar.
 
Sudah lama Anak Panda mencari-cari menyusuri hutan jati, tapi kantungnya tidak juga dia temukan. Sedih rasanya, madu di kantung itu baru saja terisi separuh, seharusnya bisa dia makan untuk besok. Sambil melangkah gontai Anak Panda berjalan pulang.
“pasti ada yang mencurinya” pikir Anak Panda, dia mampir ke rumah Anak Rusa yang ada didekat hutan jati ini, “aku kehilangan kantung maduku, apa kau tau siapa yang mengambilnya rusa?”,
Anak Rusa beringsut-ingsut tidak nyaman = “ya..aku melihatnya tadi. Anak Harimau yang mengambilnya”
Anak Panda = “Anak Harimau?? buat apa dia mengambil kantung madu?”
Anak Rusa = “Ya tidak tau, tapi saranku biarkan saja, kau kan masih punya kantung lain, Anak Harimau itu tabiatnya kasar, salah-salah bisa kau yang dicelakainya”
Anak Panda = “Apapun alasannya mencuri itu tidak baik Anak Rusa, aku harus menegurnya”
Anak Panda berterimakasih lalu berpikir untuk menanyakan kebenarannya pada hewan lain. “rumah siapa lagi ya yang dekat disini..oiya..Burung Merak”.
 
Setelah itu Anak Panda menemui Burung Merak, Ular, dan Laba-laba. Mereka semua mengatakan benar Anak Harimau yang mencurinya , mereka juga mengatakan sebaiknya Anak Panda tidak menemui apalagi meminta kembali kantung madunya karena tabiat Anak Harimau yang pemarah dan tidak mau mengalah.
Anak Panda berpikir sebentar, hari sudah hampir sore, dia harus memilih, segera pulang atau menemui Anak Harimau dan merebut kembali kantung madunya.
“Ah kenapa aku harus takut, Anak Harimau kan pasti bisa kuajak bicara baik-baik. kalau aku tidak bilang bagaimana Anak Harimau tahu aku sangat menginginkan kantung itu, lagipula kalau aku tidak menegurnya Anak Harimau pasti akan terus mencuri barang-barang hewan lain”, Anak Panda melangkah ke arah rumah Harimau.
“Eh tunggu dulu, kalau dia marah lalu aku dicakar dan digigit dia bagaimana?..aduhh giginya kan tajam” Anak Panda menghentikan langkahnya, takut juga dia membayangkan akan sakit berdarah-darah.
Dia menimbang-nimbang lagi, “Tapi..kalau tidak aku coba aku tidak akan tau, lagipula yang aku lakukan ini benar kok” kali ini Anak Panda melangkah mantap.
Anak Panda sudah sampai di halaman rumah Harimau. “berhenti disitu!” sebuah suara menghentikan langkah Anak Panda.
krosak..krosak..sebuah benda dilemparkan ke arahnya, Anak Panda mengernyit, itu kantung madunya.
Anak Panda tau itu Anak Harimau = “Hey..kembalikan baik-baik padaku Anak Harimau!!”
Anak Harimau menyahut dari balik pintu = “Ahh..sudahlah, itu sudah kukembalikan, aku cuma ingin tau seperti apa rasanya madu, kenapa kau bisa sangat menyukainya. ternyata tidak enak. sudah sana…pergi”
Anak Panda melangkah ke arah pintu, dia marah Anak Harimau tidak sopan = “ayo sini keluar!…kembalikan baik-baik padaku atau kuadukan kau pada ayah ibumu!”
Lama tidak ada suara, lalu pintu terbuka, di luar dugaan Anak Harimau keluar sambil menunduk = “iya, aku minta maaf, ini aku kembalikan kantung madumu”
Anak Panda = “lain kali jangan mencuri, kau bisa bilang baik-baik bila ingin sesuatu”
Anak Harimau mengangguk lalu menutup pintu.
Haaa..lega, Anak Panda berbalik lalu melompat kegirangan, ternyata begitu saja kantung madunya kembali..tidak seheboh yang dia bayangkan.
 
Sejak itu cerita Anak Panda merebut kantung madunya dari Anak Harimau beredar di hutan, beberapa malah berkembang menjadi cerita pertarungan. Banyak hewan memberi selamat dan kagum pada keberanian Anak Panda.
Ternyata berani itu bukan turunan atau warisan gen, tapi sikap untuk bisa menghadapi rasa takut bahaya, rasa sakit, ketidakpastian atau intimidasi dan menyelesaikannya apapun yang terjadi.

 

Uap December 1, 2012

Filed under: Uncategorized — wigati10 @ 12:01 am

Ruangan ini hingar bingar. Dia bicara di telinga saya = “Saya setuju dengan tulisanmu yang bilang kita ini hidup seperti air, orang tua kayak saya ini power nya cuma jadi uap, nunggu kembali ke asal”.
Saya kaget, bukan itu maksud analog saya. Saya masih mencerna kata-katanya waktu dia pamit, saya melambai-lambaikan tangan bukan tanda perpisahan tapi tanda saya tidak setuju dengan kesimpulannya.
Di (QS 67:15) kataNya hidup ini memang tidak susah, tapi mengalir juga harus punya power, masa iya kalau mentok terus menggenang, bisa jadi sumber penyakit sekitar nanti. Power yang dipunya juga kalau bisa ditambah lalu dipakai untuk membantu sesama, agar jadi manfaat.
Ngomong-ngomong soal uap, uap itu powerfull, mesin pertama dari segala mesin, mesin uap kan?
Tapi ya…terserah juga sih, mau jadi uap atau air hujan, air mineral, air laut, mungkin yang penting ujung-ujungnya taat sama Tuhan. :)

 

Arka November 13, 2012

Filed under: Daily — wigati10 @ 11:15 am

“Pesen apa neng?”
“Oh saya minum saja bu, ini cuma lagi nunggu teman”
“Belum ketemu juga alamatnya?”
“Hehehe belum..biar orangnya saja yang jemput saya kesini”, saya memang nyasar saat mencari alamat teman tadi, sudah 2 kali saya susuri jalan yang ditunjukkan ibu warung, tapi gak ketemu juga, saya menyerah, beristirahat di warung padang serba 5000 ini.
Tiba-tiba seorang anak perempuan menabrak saya dari belakang. “aduhh..eh maaf, saya ngalangin jalan ya, maaf ya”, saya reflek mengaduh, sementara dia cuek, masuk ke dalam warung sambil susah payah menggotong bungkusan terpal, ada air menetes-netes, rupanya itu es balok besar, sama besar dengan badannya.
“Tunggu di luar teh”, ibu warung menyuruhnya menunggu bayarannya.
Dia berdiri di sebelah saya sekarang, saya perhatikan, rambutnya masai, badannya kurus, mukanya tirus, tapi matanya..matanya istimewa, besar dan bola matanya berwarna coklat terang.
“Namanya siapa?” saya sapa dia. Dia diam saja.
“Ditanya tuh teh..”, kata ibu warung yang datang sambil memberikan uang seribu rupiah+sekantong plastik bekas, bukannya menjawab anak perempuan itu malah buru-buru pergi. “Dia emang begitu, sama dinginnya kayak es yang dia bawa” kata ibu warung sambil tersenyum kikuk pada saya.
 
Dia cepat-cepat mengikat kantongnya ke sebuah sepeda kecil, kalau itu bisa disebut sepeda, karena sebagian rangkanya ditopang kayu, sadelnya ditinggikan, terlalu tinggi malah, tidak sebanding dengan rangkanya, di belakang ada kotak menjulur yang bisa diisi barang2, termasuk balok es dan kantong plastik besar tadi.
Sekarang isi kantong berserakan di jalan, mungkin karena buru-buru, dia jadi tidak mengikat dengan benar, kantong di belakang terburai. Saya berlari menghampiri.
“Sini saya bantu”, saya memunguti, dia diam saja. Sebatang coklat yang ada di tas saya sampai ikut terjatuh karena saya membungkuk-bungkuk, dia melihat sekilas coklat itu lalu melengos.
“Teteh mau?”, tawar saya, dia mendorong sepedanya menjauh.
“Eh tunggu..ini buat teteh saja”, saya kejar dia.
Dia sudah jauh mengayuh ketika tiba-tiba berhenti. Saya jajari, lalu mengangsurkan coklat itu.
“Makan saja” kata saya mengatur nafas yang agak ngos-ngosan. Dia membuka bungkusnya pelan-pelan tapi lalu makan dengan lahap. Dia lapar.
Saya perhatikan lagi matanya, ada sorot yang menarik disana, liar sekaligus sedih. Dia berancang-ancang pergi tepat saat nada sms ponsel saya berbunyi, si teman minta maaf tidak bisa menjemput, “ok, besok saja, di warung yang tadi” balas saya, kebetulan sekali, soalnya besok saya ingin bertemu lagi dengan si nona tanpa suara penyuka coklat ini, yang sudah saya biarkan pergi begitu saja.
 
Saya sengaja menunggu dia, sengaja datang di jam yang sama dengan kemarin, dan saya juga sengaja membawa coklat lagi. Nah itu dia, kali ini saya ikuti dia pulang.
“Teteh jalan dulu ya sama saya” saya pegangi boncengannya, mencegah dia pergi. Dia diam saja tapi lalu menuntun sepedanya.
“Duduk di sini aja yuk” kata saya saat ada trotoar teduh. dia ikut duduk.
Saya julurkan coklat, dia terima tapi dia simpan di balik bajunya. “Loh kenapa?” tanya saya.
“Buat adik”jawabnya lirih, saya tersenyum, baru sekarang dia bicara.
“Ooohh teteh punya adik”. diam.
“Ada siapa lagi di rumah?”. diam.
“Ibunya kerja?”. “Dipenjara, nyolong”, saya terkesiap.
“Bapak?”. “Mati, aids”. Saya merasa tidak bisa bernafas, tidak mungkin ini terjadi pada saya, harusnya adegan ini hanya ada di tv, di film atau di acara ‘reality show’.
“Teteh sama siapa di rumah?”. “Ada”, caranya menjawab datar saja, tidak ada emosi. Saya lihat dia memalingkan wajah, siap-siap meraih sepedanya.
“Eh..tunggu..tunggu..saya punya 1 coklat lagi”, saya pegang tangannya, “Yang ini buat teteh”, dia menunduk.
“Hmmm..hmm..ngobrol yang lain aja ya..apa ya…teteh suka musik?”, dia menggeleng,
“Bohong, di dada teteh aja ada musik tuh, denger…dug dig dag dig dug…” saya tempelkan tangan saya di dadanya, dia masih menunduk tapi saya lihat ada senyum di bibirnya.
“Sini deh, saya punya musik bagus”, saya cari ponsel saya, saya asal bicara saja, saya cuma ingin ngobrol lebih lama dengan dia. Nah ada video Paradise-nya Coldplay, saya putar, saya dekatkan dia, dia cuma melirik. Saya perhatikan wajahnya polos, orang tua macam apa yang tega menelantarkan anak-anaknya begini batin saya.
Lagu hampir habis, “Teteh suka?”. diam.
“Teteh tau artinya?”, dia menggeleng pelan tapi, “Lagi” pintanya. Saya putar video itu 6 kali, sebelum akhirnya dia pamit pulang.
 
Kali ini saya bawakan dia buku-buku cerita, “Teteh, ini buat baca di rumah”, dia diam saja memegangi buku-buku itu.
“Teteh bisa baca?” tanya saya hati-hati, dia mengangguk sambil mengelus-elus sampul buku.
“Baca bareng yuk” saya angsurkan halaman 1 padanya, dia terbata-bata membaca. “A..r..k..a..Ar..ka.”.
“Teteh umur berapa?”, “11″ jawabnya, kerongkongan saya mendadak perih, di umur 11 tahun dia masih mengeja membaca.
“Teteh nanti besar mau jadi apa?”, lama sebelum akhirnya dia menjawab “Jadi bu guru bahasa inggris”, “Kenapa?”, “Biar bisa pergi kemana-mana”, “Ke luar negeri?”, dia mengangguk. Saya amini cita-citanya.
 
september 2012,
Sudah beberapa buku yang dia kembalikan, tanda dia sudah selesai membaca. Saya bawakan makin banyak buku, dan makin banyak lagu buat dia. Hari itu dia mengembalikan mp3 player saya,
“Teteh paling suka lagu apa disini?” tanya saya. “Maksim”.
“Maksim??? yang cuma piano doang itu?”. dia mengangguk, saya kagum, tadinya saya tebak dia akan menyukai lagu st12 atau cherybelle.
“Teteh mau mp3 player ini?”, dia mendorong player ke tangan saya dan menggeleng kuat-kuat, ekspresinya masih saja tidak berubah, tidak pernah mau kontak mata dan bicara banyak.
Saya ambil ponsel saya, “Ada video baru” kata saya, saya putar Hall Of Fame-The Script, dia melirik. Adiknya, yang baru pertama kali ini bertemu saya, umurnya sekitar 3 tahun, bergoyang-goyang sambil tertawa mendengar lagunya, saya ikut tertawa. Si teteh menatap serius video.
 
november 2012
Saya tidak pernah lagi bertemu teteh, berkali-kali saya ke tempat kami biasa bertemu dia tidak pernah ada. Kata ibu warung, teteh tadinya menumpang di rumah kerabatnya di penampungan metromini di ciputat, tapi kalau sampai si teteh tidak mengantar es balok berarti dia sudah tidak ada di rumah itu lagi, karena cuma teteh yang bekerja menghidupi rumah itu.
 
Hati saya pedih karena perpisahan yang tiba-tiba, tapi saya tidak mengkhawatirkan teteh, saya tahu dia akan bisa bertahan, bisa sukses malah, karena terakhir kali kami bertemu, sebelum pamit dia pegang tangan saya sekilas, dia berjanji “makasih, teteh akan sekolah lagi”. Jangan menyerah ya teteh sayang, arka di tangan teteh, insyallah.
 
 
 
 

Bentara, 1112

 

Dalam November 2, 2012

Filed under: Daily — wigati10 @ 10:53 am

Dia
“Mau kemana dek?”, tanya saya, bingung melihat dia menenteng banyak tas plastik.
“Dari RS fatmawati”, katanya sambil menghempaskan diri ke kursi, barangnya tercecer di depan saya, banyak obat dan struk.
“Ngapain? seingatku dikau desain kreatif bukan tukang obat”.
“He..lihat nih, pudar kan?” katanya sambil menunjuk parut bekas jerawat dan bintik-bintik hyperpigmentasi di pipinya. Saya dengar dia sudah menghabiskan banyak uang untuk ke klinik2 kecantikan dan dokter kulit terkenal buat menghilangkan itu. “Aku baru ngeh kalo asupan itu yg terpenting buat kulit daripada treatment luar. Aku borong vitamin E+C deh, disana murah banget, banyak sisa budget jadinya..Nih” dia tertawa senang sambil mengangsurkan pempek kesukaan kami.

Saya
Saya jadi ingat, dulu, pernah di sebuah komunitas, saya menjadi semacam pembicara rutin, sekali dua kali saya bicara eh kok rasanya gak dilaksanakan apa-apa yang saya sarankan ke mereka, jangankan dilaksanakan, didengerin juga sepertinya tidak. Saya jadi bertanya-tanya, apa penampilan saya kurang rapi? hand out yang saya sebarkan kurang meyakinkan? orasi saya tidak runut?.
Lama-lama saya mengerti mereka tidak melaksanakan karena mereka tahu saya juga tidak melaksanakan. Apa-apa yang saya sarankan belum saya lakukan sendiri.
Saya ini sering terjebak begitu, sibuk memoles tampilan luar padahal yang membutuhkan perbaikan itu yang di dalam. Dan meskipun ada banyak metode perbaikan diri, ada banyak kaca dari pengalaman orang lain, dan ada banyak nasihat untuk saya yang saya tahu, tapi itu semua tidak ada artinya kalau saya tidak sungguh-sungguh memulainya dari dalam saya. Benar kan?
 
Eh, sebelum anda setuju, saya beritahu, kalau dia baca ini saya yakin dia akan komentar “tumben isinya dalam mbak?” :)

 

Anak Panda dan Burung Hantu October 25, 2012

Filed under: Uncategorized — wigati10 @ 10:40 am

      Anak Panda menunduk, tidak berani menatap Ayahnya. Belum pernah Ayah Panda marah dan Anak Panda tidak ingin itu terjadi sekarang.
Ayah Panda = “Ayah tanya sekali lagi..kamu yang rusakkan sarang-sarang itu bukan?”
Anak Panda menggeleng.
Ayah Panda menahan marah = “Baik kalo itu pengakuanmu, besok Ayah antar kamu menghadap Burung Manyar”
Anak Panda tetap menunduk sampai Ayah berlalu. ‘Ah sial sekali hari ini’, Anak Panda meruntuki dirinya sendiri. Awalnya, tadi pagi dia menemukan sarang burung terjatuh di dekat rumpun bambu, sarang itu bentuknya seperti buah alpukat tapi dibuat dari rumput-rumput kering yang disusun sedemikian rupa, unik. Ditelitinya sarang itu, ketika dia coba merogoh kedalam, dia merasakan ada beberapa sekat. ‘ini pasti ruangan2 jebakan untuk pengaman telur, pengalih para pengganggu..wah cerdas sekali’ pikir Anak Panda. ‘Burung apa ya yang membuatnya?’ Anak Panda mendongak, dilihatnya ada banyak sarang-sarang lain bergelantungan di pucuk bambu-bambu, ‘Ahaaa’ Anak Panda girang, dia segera memanjat bambu itu.

      Anak Panda masih asyik mengamati dari dekat sarang-sarang bagus itu, dia tidak menyadari datangnya serombongan Burung Manyar yang pulang dari mencari bahan sarang. Sedangkan para Burung Manyar, begitu melihat ada Anak Panda di dekat sarang langsung meneriakinya menjauh, Anak Panda kaget, reflek bergerak turun tapi menyenggol beberapa sarang sampai jatuh. Tentu saja para Burung Manyar jadi marah, Anak Panda lari terbirit-birit.

      Disitulah masalahnya, seekor Bapak Burung Manyar lalu datang menemui Ayah Panda, menceritakan kejadiannya dan meminta agar Anak Panda diberitahu untuk tidak mengganggu sarang-sarang itu lagi, kasihan para telur dan burung yang sedang ada dalam sarang.
Ughh…sekarang, sampai tengah malam begini, Anak Panda tidak bisa tidur, memikirkan apa yang harus dia katakan besok, dia sudah terlanjur berbohong, kalau dia mengaku, ayahnya pasti marah lalu menghukumnya. Anak Panda berguling-guling tidak tenang.
      Tepat dari jendela kamar dia melihat seekor Burung Hantu sedang bertengger tak jauh dari rumahnya, Anak Panda ingat Burung Hantu adalah lambang kebijaksanaan, ‘mungkin dia bisa membantu kalau aku bercerita’ harap Anak Panda.

Anak Panda menemui Burung Hantu = “Halo Burung Hantu aku Anak Panda”
Burung Hantu diam saja mengawasi Anak Panda dengan mata besarnya.
Anak Panda = “Eh hmm..engg..begini..aku ingin bercerita, boleh?”
Burung Hantu = “Tentu”
Anak Panda sebenernya agak segan bercerita..dengan wajah seram, sikap tegak dan banyak diam, Burung Hantu terkesan sangar, ‘tapi sepertinya bisa dipercaya’ pikir Anak Panda, dia lalu menceritakan semua kejadian hari ini = “…begitu ceritanya..pokoknya aku tidak berniat merusak, itu bukan salahku!!”
Burung Hantu = “Niat dan hasil memang bisa tidak sama, tapi kau harus menceritakan yang sebenarnya”
Anak Panda = “Kalau aku jujur aku nanti dihukum”
Burung Hantu = “Belum tentu, kalaupun dihukum, jujur akan melegakanmu, tidak seperti berbohong yang membuatmu gelisah begini”
Anak Panda = “Aku kan tidak bohong, aku hanya tidak menceritakan yang sebenarnya”
Burung Hantu diam saja seperti memberi jeda Anak Panda berpikir.
Anak Panda menunduk nyaris menangis membayangkan marah dan hukuman dari Ayahnya dan Burung Manyar = “Aku takut”
Burung Hantu = “Iya….yang mampu jujur memang pasti pemberani”
Anak Panda mengangkat pandangannya, menatap Burung Hantu yang mengangguk meyakinkan.
Ya, Anak Panda tahu sekarang, dia harus mengaku apa pada Burung Manyar besok.

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.